KUNINGAN (MASS) – Sebagai seorang kepala desa di Kabupaten Kuningan, Hj Henny Rosdiana SH SSos MSi NLP mampu membuat banyak orang tercengang. Pasalnya, dari ribuan kades dan lurah se Indonesia, perempuan “segala bisa” tersebut mampu mengharumkan citra kota kuda ini dengan raihan ‘Peacemaker Justice Award 2025’.
Bukan kaleng-kaleng. Penghargaan satu ini diberikan oleh Kementerian Hukum RI dan Mahkamah Agung RI. Tidak mudah untuk mendapatkannya. Henny harus melewati ujian dan aktualisasi lapangan, setelah sebelumnya diberikan materi perkuliahan 12 SKS.
“Seleksinya panjang dan berat. Banyak yang mengatakan, tahun ini terberat. Kita memulainya sejak Februari 2025. Ada kuliah secara online dari professor doktor. Kita diuji, lalu di desa juga harus ada kantor Pusbankum (Pusat Bantuan Hukum),” tutur Henny.
Sudah cukup lama, Henny menjabat kepala desa di Linggasana Kecamatan Cilimus. Bahkan kini dirinya mendapatkan kepercayaan untuk menempati posisi ketua Apdesi Kuningan. Dalam mengemban amanah sebagai kades, Henny kerap menemui beragam kasus hukum di desa.
“Masalah di desa itu kompleks. Dalam konteks hukum, ada saja kasus warga yang dapat berakibat hukum pidana. Nah sejak 2010, saya sebagai kades sering memediasi warga-warga yang bersengketa, bersama Babinsa, Babinkamtibmas, bahkan pernah melibatkan DKM. Dan alhamdulillah masalah bisa diklirkan di sini tanpa harus merepotkan APH di polsek maupun polres,” terangnya.

Hj Henny Rosdiana SH SSos MSi NLP saat bersama Menteri Pemberdayaan Perempuan dan juga Wamenkum. (dok. Henny Rosdiana)
Kerja kerasnya dalam membantu menyelesaikan masalah warga rupanya berbuah manis. Disamping menambah kepercayaan besar dari warganya, Henny berhasil menjadi satu-satunya kades di Jabar yang naik ke atas panggung penghargaan Peacemaker Justice.
“Dari Jabar diwakili sama saya. Lalu ada yang dari Aceh, Sulawesi dan Papua Barat kalo gak salah. Jadi se Indonesia, hanya berempat yang naik untuk menerima medali dan piagam,” cerita Henny, akhir pecan kemarin.
Jumlah penerima penghargaan se Indonesia hanya sebanyak 130 orang. Sedangkan di Jabar, dari 80 kades dan lurah yang terseleksi, hanya 8 orang saja yang lulus. Diantaranya dari Kuningan, Garut, Cianjur hingga Bandung Barat.
“Kan hasil seleksi akhir itu sebanyak 1.340 kades dan lurah se Indonesia. Mereka dibagi beberapa kelas. Kebetulan saya kelas A. Kuliah zoom 3 hari untuk 12 SKS. Dan setelah ujian, yang lolos hanya 130 orang untuk dikarantina di BPSDM selama 5 hari,” tuturnya.
Meski telah mendapatkan penghargaan dengan nilai ujian tertinggi, tidak lantas membuat Henny tinggi hati. Dirinya merasa senang telah ikut mengharumkan Kabupaten Kuningan di tingkat nasional, meski tak dilirik bupati.
Bendahara Umum DPP Apdesi Merah Putih ini justru mengapresiasi kades-kades di Kabupaten Kuningan yang telah melakukan upaya serupa di bidang hukum untuk kepentingan warganya masing-masing. (deden)
























