Dudy Pamuji Ajak Warga Kertawirama Optimalkan Curug Bangkong

KUNINGAN (Mass) – Kabupaten Kuningan dikenal sebagai salah satu daerah yang memiliki banyak destinasi ekowisata, di antaranya Curug Bangkong di Desa Kertawirama Kecamatan Nusaherang. Dalam rangka pelaksanaan Kuliah Kerja Nyata mahasiswa Universitas Islam Al-Ihya (UNISA) Kuningan di desa tersebut yang kini memasuki minggu terakhir, para mahasiswa berinisiatif untuk menyelenggarakan Seminar Kewirausahaan bertajuk “Optimalisasi Pengelolaan Potensi Wisata Curug Bangkong”.

Dihadirkan narasumber H Dudy Pamuji, SE. M.Si sebagai pemilik objek wisata yang sudah terkenal yaitu Curug Sidomba. Acara dilaksanakan di aula Bale Desa Kertawirama yang dihadiri oleh sekitar 100 orang lebih warga desa lintas generasi, mulai dari tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh pemuda, ibu-ibu PKK, Karang Taruna, dan berbagai kelompok berkepentingan lainnya yang ada di Desa Kertawirama. Acara berlangsung selama 2 jam yaitu dimulai pada pukul 13.30 dan berakhir pada pukul 15.30 WIB.

Acara dimulai dengan pembukaan, pembacaan doa, menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya, sambutan Koordinator Pelaksana, sambutan Kepala Desa, dan terakhir penyampaian materi dari narasumber. Dalam sambutannya Kepala Desa Kertawirama memberikan apresiasi kepada para mahasiswa KKN UNISA yang telah mengambil inisiatif untum melaksanakan acara seminar yang diikuti dengan antusias oleh para tokoh-tokoh masyarakat desa untuk mendapatkan pencerahan dari narasumber yang dianggap telah berpengalaman dalam pengelolaan objek wisata yang hampir sama dengan Curug Bangkong, yaitu Curug Sidomba.

“Kita akan dan perlu belajar banyak dari pak Dudy karena beliau kan sudah terbukti mampu menyulap kawasan di Desa Peusing yang awalnya hutan menjadi sebuah objek wisata yang tertata dan dikelola secara professional sehingga mendatangkan keuntungan dan mampu mendongkrak peningkatan kesejahteraan warga desa di sekitarnya,” kata Kades Kertawirama.

Atas nama pemerintah desa Kertawirama sendiri, pihaknya sudah menganggarkan dana untuk melakukan penataan Curug Bangkong ke depan baik yang bersumber dari Dana Desa (DD) maupun Alokasi Dana Desa (ADD). Seminar ini diharapkan dapat menambah motivasi warga desa dan aparatur pemerintahan desa untuk mempersiapkan diri menata Curug Bangkong.

“Maka belajar dari pengalaman Sidomba kita bisa cepat berlari untuk melakukan berbagai upaya promosi dan lain-lain,” harapnya.

Dalam penyampaian materinya, Dudy Pamuji yang juga kini berstatus sebagai Bakal Calon Bupati Kuningan dari Partai Golkar menegaskan modal utama dalam pengelolaan Curug Sidomba sehingga bisa sampai sekarang ini adalah keberanian. Keberanian mengambil risiko yang dibarengi dengan ide kreatif untuk bisa mengubah kawasan hutan yang banyak monyetnya saat itu menjadi kawasan ekowisata seperti sekarang. Bermula hanya 2 hektar dan kini sudah menjadi 20 hektar kawasan wisata.

Ia mengakui, pada tahap awal berbisnis sudah pasti selalu ada kekhawatiran takut gagal, takut rugi, takut tidak berhasil dan lain-lain. Apabila pikiran tersebut terus-terusan dipelihara tentu akan membuat tidak akan pernah berani dalam mengambil keputusan dan bekerja melangkah ke depan.

“Karena itu, keliru sekali jika kita berpendapat bahwa modal utama itu adalah uang. Uang bukan segala-galanya, namun segala-galanya memang butuh uang. Nah dua prinsip inilah yang harus dikelola dengan baik,” ungkap Dudy Pamuji disambut riuhan tepuk tangan hadirin.

Lebih lanjut dalam paparannya Dudy Pamuji menekankan untuk suksesnya pengembangan Desa Kertawirama sebagai Desa Wisata perlu ditempuh beberapa upaya. Diantaranya, pertama, pembangunan SDM-nya. Ini investasi terpenting agar semua warga di desa ini terpapar bagaimana cara memberikan pelayanan yang baik kepada para pengunjung/wisatawan yang datang ke desa ini.

Hospitality atau keramahan warga desanya harus terus dipupuk dan dikembangkan. Tentu pembangunan SDM ini dilakukan melalui berbagai pendidikan atau pelatihan. Anak-anak muda di desa ini perlu didorong agar bisa menangkap peluang di balik perencanaan desa wisata ini sehingga mereka jadi duta-duta wisata desa yang aktif mempromosikan Curug Bangkong melalui berbagai media termasuk media sosial dan internet.

“Kedua, Kemitraan. Nah, untuk aspek ini maka desa jika perlu membentuk BUMDes yang kemudian nanti ditunjuk sebagai lembaga pengelola objek wisata Curug Bangkong. BUMDes bisa bermitra dengan desa tetangga bahkan sampai bisa dengan pihak luar negeri pun memungkinkan jika sudah siap,” paparnya.

Ketiga, lanjut Dudy, Kegiatan pemerintahan desa. Di sini pemerintahan desa pun harus ikut berkontribusi dalam pengembangan objek wisata misalnya pelaksanaan rapat-rapat dinas, upacara hari besar, dan kegiatan desa lainnya dipusatkan di objek wisata.

Berikutnya Promosi. Desa wisata harus sering dipromosikan melalui berbagai media, karena itu pengelolanya harus kreatif mengemas event-event yang dilaksanakan di objek wisata. Kelima, Festival/perlombaan. Secara rutin di desa wisata ini perlu diselenggarakan kegiatan yang bisa menarik wisatawan misal festival kesenian, pertandingan olahraga, lomba foto dengan mengundang para fotografer amatir dan masih banyak lagi.

“Keenam, pembinaan organisasi warga misalnya memanfaatkan moment saat mudik Idul Fitri bagi warga desa perantau untuk ikut peduli pada pengembangan objek wisata. Dan ketujuh, kerjasama dengan perguruan tinggi seperti yang saat ini sedang dilakukan dengan UNISA,” bebernya.

Terakhir dalam materinya Dudy Pamuji juga menekankan pentingnya penataan infrastruktur desa serta inovasi dan kreativitas warga desa untuk senantiasa berpikir mengembangkan objek wisata Curug Bangkong. Fasilitas parkir kendaraan bermotor, informasi wisata, dan pengembangan produk-produk wisata lain misalnya jika memungkinkan harus ada fasilitas eco-lodge (tempat istirahat/homestay, guet house, dll), eco-recreation, pertunjukan kesenian lokal, jalan-jalan di desa, naik sepeda di desa, dll; eco-education yaitu mendidik wisatawan tentang pendidikan lingkungan hidup.

“Kan namanya Curug Bangkong, nah perlu dipikirkan mungkin ada arena penangkaran ‘bangkong’ alias katak, ada berbagai macam spesies katak yang dibiakkan di sana sehingga menjadi daya tarik wisatawan bagi anak-anak sekolah untuk belajar biologi di sana, ada tugu “bangkong” nya yang didisain semenarik mungkin sehingga menjadi tempat selfie yang bagus bagi pengunjung, dan lain sebagainya,” saran Dudy.

Di akhir sambutan Dudy Pamuji juga berkomitmen bahwa salah satu visi pribadinya menjadi Calon Bupati Kuningan adalah ingin mengembangkan Kuningan sebagai Pusat Agro-Ekowisata. Ini sesuai Rencana Pembangunan Jangka Panjang yang telah ditetapkan apalagi menyambut diresmikannya Bandara Internasional Jawa Barat di Kertajati Majalengka pada tahun 2019 yang akan datang.

“Kita harus bersiap diri mengantisipasinya dengan penataan berbagai objek wisata di Kuningan, bahkan jika memungkinkan diarahkan pada pengembangan pariwisata berbasis masyarakat (community-based tourism) dengan BUMDes sebagai pilar utama kelembagaannya sehingga setiap desa yang punya potensi pariwisata bisa dikembangkan sebagai Desa Wisata,” pungkasnya. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com