Pemantau Pemilu Bedah Buku, Apa yang Dibahas?

KUNINGAN (MASS) – Komite Independen Pemantau Pemilu (KIPP) Kabupaten Kuningan menggelar bedah buku, Rabu (4/12/2019) . Dalam kegiatan yang dilaksanakan di Kedai Kopi Salma Sindangagung tersebut, dikupas buku karya Dani Danial Mukhlis yang berjudul Nafas Kebudayaan Demokrasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut, penulis buku yang merupakan Ketua Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Banjar sebagai narasumber. Hadir pula dari KPU Kabupaten Kuningan, Ketua Komisioner, Asep Z. Fauzi, Divisi SDM dan Parmas Dudung Abdu Salam dan Divisi Data dan Informasi Asep Budi Hartono. Serta hadir juga budayawan, Dedi Slamet Riyadi sebagai pemantik diskusi.

Dani Danial, menyampaikan sistem demokrasi sebaiknya berpijak pada spirit agama dan budaya.

“Dengan demikian Indonesia akan tumbuh sebagai negara demokrasi yang mampu menjalankan tujuan prophetic bangsanya,” ujarnya sembari menjelaskan tujuan prophetic seperti yang tercantum dalam Undang – Undang Dasar 1945.

Ketua Komisioner KPU Kabupaten Kuningan, Asep menyampaikan gagasan serupa soal penyerapan budaya dalam demokrasi. Dirinya bahkan mencontohkan sebuah paribasa yang mashur di suku sunda.

“Sebagai manusia kita harus hade gogog hade tagog, mesti baik ucapannya mesti baik pula penampilannya. Dengan menghayati falsafah yang termuat dalam paribasa tersebut, jika diaktualisasi ke dalam dunia demokrasi, sangat memungkinkan terbangunnya wajah demokrasi yang baik pula. Tentu masih banyak nilai-nilai kebudayaan lain juga yang bisa dicontoh,” ujarnya.

Budayawan Dedi Slamet Riyadi juga menyampaikan hal lain. Menurutnya, giroh demokrasi dan politik jangan sampai didominasi oleh syahwat will to power.

“Demokrasi dan politik seharusnya dapat dijadikan medium untuk mengabdi dan melayani masyarakat. Tentu tidak mudah, banyak sekali godaan. Dan untuk itulah kembali kepada nilai-nilai kebudayaan dan agama merupakan bentengnya,” ungkapnya.

Ketua KIPP Kuningan, Zaka Vikryan menegaskan bahwa masyarakat adalah manifestasi kolektif manusia yang memiliki kontinum norma, identitas sosial, dan kontinuitas. Hal itu merupakan kesepatakan primordialistik yang akhirnya menjadi sebuah ekualitas.

“Perbedaan penerimaan semantis adalah pemicu ledakan konflik. Namun, kiranya aktualisasi nilai-nilai budaya Sunda dan agama di masa kini dapat menjadi salah satu solusi ampuh bagi terciptanya suasana yang sehat. Sehingga tujuan masyrakat adil makmur dapat tercapai,” tuturnya. (eki)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com