Meski Harus Menyeret Tubuh Diatas Aspal, Mang Ipin Terus Bekerja

SUBANG (MASS) – Ipin Aripin, itulah nama yang diakunya padaku saat ditemui di bawah pohon kersen pinggir Jalan Desa Subang Kecamatan Subang. Panggilannya mang Ipin saja. Sehari-hari rutin mengumpulkan botol demi botol untuk menyambung hidup. Hari itu pun begitu, Mang Ipin hanya sedang beristirahat disana, Minggu (13/10/2019). Panas Matahari yang menyengat, pasti merambat juga diatas aspal. Dan sepertinya, panasnya jalan aspal lah yang membuat Mang Ipin berhenti sejenak dari merangkak mengumpulkan sampah.

“Sudah bertahun-tahun juga ngumpulin sampah,”ujarnya saat saya coba tanya mang ipin mengumpulkan berewek (barang bekas).

Saya coba ajak mengobrol lebih dalam pada lelaki yang mengaku berusia 56 tahun tersebut. Sebisa mungkin saya sangat berhati-hati dalam bertanya. Saya ingin tahu kenapa mang ipin sampai harus tetap bekerja, menelusuri jalan demi jalan, mengais sampah demi sampah, padahal kedua kakinya tak bisa menopangnya berdiri.

“Sudah lama sakit seperti ini (tak bisa berjalan), sejak kecil, sakit panas teu kaobatan (tidak terobati)” ujarnya.

Saya terus mengobrol dengan mang Ipin di pinggir jalan. Motor ku parkirkan tak jauh dari tempat berteduh tersebut. Saya duduk dan jongkok di dekat mang ipin yang berisitirahat sendirian. Saya coba tak pedulikan tatapan orang-orang yang berlalu lalang.

Mang Ipin ternyata hidup sendiri di rumahnya, tepatnya blok Doyong Desa Subang Kecamatan Subang. Tak ada sanak saudara yang hidup menemani. Mang Ipin benar-benar mandiri. Semua kebutuhan hidupnya dipersiapkan sendiri meski harus merangkak dari tempat satu ke tempat lainnya.

“Di rumah (sambil) ternak ayam, ada 12 an, soalnya kalo botol-botol kan ini sekeranjang kalo penuh paling cuman 4 kilo,” cerita lelaki kelahiran tahun 53 tersebut.

Mang ipin orang yang ceria. Dengan segala kekurangannya, dia tetap tersenyum lepas. Kadang tertawa-tawa. Meski mungkin heran karena aku tiba-tiba mengajaknya mengobrol dan meminta ijin beberapa kali memotretnya dari dekat.

Senyumnya itu adalah bukti ketegarannya menghadapi hidup. Merangkak dan menyeret tubuhnya diatas aspal, ternyata tak membuatnya hilang keceriaan. Tapi semakin Mang Ipin sering tertawa, sayalah yang semakin merasa getir, tertampar dan tersadar banyak hal. Tersadar hidup harus terus berjalan. Tersadar masih banyak ketimpangan.

“Sekitar Subang aja sekarang mah, gak kuat kalo jalanan menanjak, terus tangannya sakit,” ujarnya saat saya tanyai kemana saja suka berkeliling mengais sampah. Tak pelak, Mang Ipin juga memperlihatkan bekas luka dan lecet di kedua telapak tangannya.

Beberapa orang yang mengenaliku bertanya dari kejauhan. Bertanya sedang apa aku disana. Kubilang sedang berteduh saja.

Beberapa yang mengenal mang Ipin juga bertanya sambil berlalu begitu saja. Ada pula yang mendekat membawa sampah botol plastik dan diberikannya pada Mang Ipin. Tak lupa ucapan terimakasih diterima si pemberi sampah dari Mang Ipin.

Dari cerita selanjutnya mang Ipin, sanak saudara mang Ipin ternyata tersebar di kota besar. Sudah berkeluarga dan beranak. Mang Ipin tak mau merepotkan siapa-siapa. Itulah kenapa Mang Ipin bertahan di Subang.

Panas terik masih menyengat Desa Subang. Kukatakan pada Mang Ipin bahwa kepalaku sakit kalo kelamaan di tempat panas. Jadi akan lebih lama berteduh di sana.

“Iya, saya juga dari hari kemarin terasa pusing terus, lagi gak enak badan. Makanya sekarang juga mau pulang nggak sampe sore,” ujarnya membuatku malu untuk manja.

Rupanya mang ipin memang sedang tidak enak badan. Sedang dirinya memang tidak akrab pada akses kesehatan sejak dulu.

Saya coba buka dompet yang kuambil dari tas kecil. Selembar uang kuberikan pada Mang Ipin sekedar untuk membeli obat warung. Mang Ipin terima dengan senang hati.

Saya coba cari tahu lagi tentang Mang Ipin. Mang Ipin tak keberatan. Dia bilang, keranjang sampahnya kadang tak bisa penuh dalam satu hari pengumpulan. Hasil penjualan sampah yang hanya dijual 2500/kg tersebut, ternyata tak perlu repot-repot diantarnya ke pengepul. Biasanya setiap hari Kamis ada yang mengambilnya.

Tentu saya berhitung dalam hati. Jika satu hari hanya mendapat 2 atau 3 kg saja, sedangkan harga perkilonya hanya Rp.2500. Apa jadinya ? (eki/trainee)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com