Bendi Bikin Tamkot Pangling di Malam Hari

KUNINGAN (MASS)- Bagi pendatang yang berkunjung ke Taman Kota Kuningan terutama malam hari akan melihat pemandangan indah, dimana delman dihias lampu hias.

Delman atau dokar merupakan kendaraan tradisional dan kuda merupakan lambang daerah Kuningan.

Delman yang dihias lampu itu bernama bendi. Bendi kini menjadi tumpuan kusir ditengah sepinya penumpang.

Tidak bisa dipungkiri menjamur ojek, baik ojek pangkalan maupun ojek online membuat keberadaan transportasi delman/dokar kian tersisih. Maka mereka berbenah.

Meski harus merogoh kocek cukup besar untuk memodifikasi, tapi para kusir mau berkorban.

Delman bendi itu saat ini semakin banyak. Awlanya jumlahnya masih 10 delman.

“Jumlahnya kini puluhan. Untuk tarif Rp10 ribu perorang,” ujar Dinar salah satu kusir , Sabtu (19/1/2019) malam.

Sementara itu, Edi menambahkan perbedaannya dengan delman biasa adalah delman didekorasi menjadi delman hias yang ditambah dengan tiga buah payung.

Ayah lima anak ini mengaku, dengan dimodifikasi warga menjadi tertarik sehingga mau berkeliling seputar kota.

Warga Lebakardin ini mengaku, dengan delman bendi pengsilanna cukup tinggi terutama seperti akahir pekan. Minimal bisa mengantungi uang Rp150 ribu.

“Selain diberikan kepada istri, saya sisipkan untuk membayar modal membuat delman. Karena untuk membuat delman hias diperlukan dana Rp10 juta,” tandas pria yang sudah menggeluti profesi kusir sejak 1970 itu.

Edi yang didampingi Budi, mengaku,  saat ini ada 10 pemilik delman yang memilih berganti ke delman bendi. Meski pada pagi hari hingga sore hari menggunakan delman biasa karena penumpang ramainya pada sore hingga malam.

“Mudah-mudahan ini langkah positif untuk menyelamatkan tranportasi kebanggaan Kuningan,” tandasnya.

Terpisah, Sekertaris Perdokar (Persatuan Dokar) Kuningan Toto mengaku, cara seperti ini harus ambil oleh para pemilik delman. Pasalnya, jumlah penumpang terus menurun.

Pihaknya sudah lama ingin melakukan cara seperti ini dan baru terwujud. Pasalnya, hingga saat ini organisasi belum bisa membantu sehingga tergantung kemampuan sang pemilik.

“Meski tidak akan semua tapi minimal bisa mempertahankan agar dokar terus ada. Kalau penghasilan menurun pastinya pemilik akan menjual kudanya karena biaya operasional tidak sebanding,” ucap Toto. (agus sagi mustawan)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com