Beginilah Produksi Gula Aren Tradisional di Legokherang

CILEBAK (MASS) – Salah satu daerah yang dikenal karena produksi gula aren adalah di Desa Legokherang Kecamatan Cilebak Kuningan. Di desa yang terletak di ujung perbatasan Jawa Barat dan Jawa Tengah tersebut, memang telah lama menjad sentra gula aren atau warga Suku Sukda menyebutnya gula beureum.

Salah satu perajinnya adalah Ai. Perempuan yang lahir pada tahun 1967 tersebut, sudah bertahun-tahun menggeluti usahanya sebagai perajin gula. Setiap harinya, sekitar 2 hingga 8 ‘bonjor’ (bungkus gula dalam bahasa Sunda, red) biasa dikerjakannya.

Satu ‘bonjor’ terdiri dari 10 butir gula aren dengan ukuran cukup besar. Gula dibungkus oleh bungkus dari daun kelapa yang sudah mengering.

“Sekarang mah sedikit yang sering buatnya, jadi kadang keteteran karena permintaanya banyak,” ujar ibu dari seorang putrid bernama Maya tersebut, belum lama ini.

Pembuatan gula aren sendiri, biasa dilakukannya dengan sang suami. Biasanya, sang suami yang bertugas ‘nyadap’ atau  mengumpulkan getah aren dari dahan ke ‘lodong’nya (tempat penyimpanan getah aren yang terbuat dari bambu).

“Ya sedapetnya aja, kalo lagi banyak getahnya ya produksi banyak, kalo lagi sedikit ya sedikit,”ujarnya menjelaskan jumlah produksinya yang tidak menentu.

Dalam produksi gula aren tradisional sendiri, banyak bahasa-bahasa khusus yang digunakan. Bahkan, beberapa peralatannya pun tidak banyak dijumpai di masyrakat awam.

Dijelaskan pembuatan gula aren sebenarnya cukup memakan waktu. Mulai dari pengumpulan getahnya, biasa disebut ‘legen’ yang bisa memakan waktu seharian, lalu penggodogannya hinggan menjadi ‘wedang’, serta lanjutannya menjadi adonan gula.

“Mun ntos rada ‘nyangka’ (terlihat lengket dan hampir jadi adonan sempurna) , tinggal ‘ngaduga’ (mengetest adonan dengan cara dimasukan ke dalam air) weh, mun tos teuas tiasa langsung dimasukeun cetakan. Biasanamah ngagodogna 5 sampe 6 jam-lah,” ujanya dalam Bahasa sunda dengan logat khas Legokherang.

Penggodogan adonan gula aren sendiri, dilakuka dalam sebuah katel besar dan diaduk oleh alat yang disebutnya ‘panguis’ serta susug. Setelah menjadi dianggap cukup, adonan akan diasukan dalam cetakan berbentuk bulat yang terbuat dari bambu. Katelnya sendiri, biasanya disimpan dalam sebuah alat yang biasa disebut sebagai ‘leukeur’

Dalam bahasa sunda, gula tersebut biasa dimanai gula ‘beureum’ atau gula ‘kawung’. Pohon ‘kawung’ sendiri, banyak memiliki manfaat, dimulai pembuatan tepung sagu, pembuatan sapu ijuk dan sapu lidi, pembuatan cuka, dan pembuatan kolak kolang-kaling, dalam bahasa setempat disebut ‘caruluk’.

Desa Legokherang sendiri memang kaya akan pohon tersebut. Pohon aren sendiri, tidak ditanam oleh masyarakat. Pohon tersebut biasa tumbuh dengan sendirinya di kebun-kebun oleh hewan luwak.

Biasanya si hewan yang juga biasa disebut ‘Careuh’, hewan tersebut memakan biji kolang-kaling tua dan menjadi kotoran, dalam bahasa setempat disebut Cangkaleng. Cangkaleng itulah yang nantinya tumbuh sebagai pohon aren. (eki)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com