KUNINGAN(MASS) – Tradisi tahunan Gelar Budaya Sedekah Bumi kembali digelar di Desa Wisata Cibuntu, Kecamatan Pasawahan, Sabtu (17/10/2026). Kegiatan yang berlangsung khidmat dan meriah ini menjadi momentum untuk memperkuat pelestarian budaya, menjaga lingkungan, serta mengembangkan pariwisata yang berkelanjutan.
Kegiatan tersebut dihadiri langsung Bupati Kuningan, Dian Rachmat Yanuar, bersama masyarakat, pemangku adat, dan tamu undangan. Dalam sambutannya, Dian mengingatkan alam bukan sekadar sumber kehidupan yang dapat dimanfaatkan tanpa batas, melainkan titipan yang harus dijaga untuk generasi mendatang.
“Bumi, langit, pohon, dan air bukanlah warisan. Ini adalah titipan yang harus kita titipkan kembali kepada anak cucu kita,” tegasnya.
Sedekah Bumi juga memiliki makna spiritual yang mendalam. Tradisi tersebut bukan berarti manusia memberikan sesuatu kepada bumi sebagai sumber rezeki, melainkan menjadi ungkapan rasa syukur kepada Allah SWT sekaligus pengingat agar manusia merawat alam.
“Alam yang ada hari ini harus dirawat agar udara segar dan air jernih tidak menjadi barang mewah bagi generasi mendatang dalam 10 hingga 15 tahun ke depan,” tambahnya.
Dian juga mengapresiasi perubahan Desa Cibuntu yang dinilai berhasil berkembang menjadi desa wisata. Ia mengenang kondisi Cibuntu pada masa lalu yang dikenal sebagai kawasan galian. Melalui kerja keras para pemimpin desa terdahulu, sesepuh, dan masyarakat, Cibuntu kini berkembang menjadi destinasi wisata yang dikenal hingga tingkat internasional.
“Pembangunan sejatinya bukan hanya sekadar berbicara soal jalan yang mulus saja, atau gedung yang megah saja. Pembangunan sejatinya adalah bisa menghadirkan senyuman masyarakatnya, mereka merasa bahagia, dan terperhatikan,” tambahnya.
Sementara itu, Kepala Desa Cibuntu, Dadi Kurniadi, menjelaskan tradisi Sedekah Bumi di desanya memiliki filosofi yang disebut Sabumi. Istilah tersebut berasal dari kata sa yang berarti satu dan bumi yang berarti hamparan atau wadah tempat manusia menjalani kehidupan.
“Tradisi Sabumi ini diselenggarakan sebagai bukti pengakuan bahwa semua manusia itu berada dalam satu wadah, tercipta dari asal-usul yang sama, mengonsumsi pangan dan papan dari bahan yang sama, dan akan kembali ke tempat yang sama sesuai asal-usulnya. Hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan solidaritas antara sesama manusia dan peduli lingkungan,” pungkasnya. (raqib)
