Rumah yang Bernama Kelas Kata

KUNINGAN (MASS) – Rumah menjadi tempat berlindung bagi manusia selama Tuhan masih memberikan usia untuk tinggal di dunia. Ia adalah tempat berpulang, tempat paling nyaman bagi setiap anggota yang hidup di dalamnya. Namun, rumah tidak selalu berarti bangunan fisik yang tersusun dari batu, bata, semen, dan berbagai material lainnya. Rumah adalah sesuatu yang lebih dari sekadar bangunan. Apa pun dapat menjadi rumah, selama di dalamnya seseorang merasa memiliki tempat untuk berkeluh kesah, mengambil jeda, mengurai lelah, dan menjadi dirinya sendiri, setelah seharian mengenakan begitu banyak topeng untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan dan orang-orang yang ditemuinya.

Sebab itu, setiap manusia barangkali sedang mendambakan satu hal yang sama, yaitu tempat untuk pulang. Tempat untuk meletakkan segala lelah tanpa perlu menjelaskan mengapa ia lelah. Tempat untuk bercerita tanpa takut dihakimi. Tempat untuk tumbuh tanpa harus merasa paling tahu. Tempat yang mungkin tidak sempurna, mungkin sederhana, tetapi cukup untuk membuat hati, pikiran, tubuh, dan jiwa merasa aman.

Allah berfirman,“Dan Allah menjadikan bagimu rumah-rumahmu sebagai tempat tinggal …”(QS. An-Nahl: 80).

Rumah, dengan demikian, bukan hanya tentang tempat kita tinggal. Ia tentangsakinahatau ketenangan yang membuat seseorang ingin menetap, bertahan, dan pulang. Dan barangkali, Kelas Kata sedang berusaha membangun rumah semacam itu.

Bukan rumah yang berdiri di atas tanah dan beratap genting, melainkan rumah yang dibangun dari pertemuan manusia dengan manusia lainnya. Rumah yang di dalamnya ada kesalingan, di antaranya saling belajar, saling menguatkan, saling mengingatkan, saling memberi ruang, dan saling menebarkan cinta kepada setiap penghuninya.

Kelas Kata ingin menjadi rumah tempat kita tidak hanya belajar tentang kata, tetapi juga belajar menjadi manusia. Di dalamnya, kita belajar untuk bertumbuh tanpa merasa lebih tinggi daripada yang lain. Belajar menerima bahwa setiap orang memiliki prosesnya masing-masing. Belajar bahwa ilmu bukan hanya sesuatu yang dikumpulkan untuk membuat kita terlihat pandai, tetapi sesuatu yang semestinya membuat kita semakin rendah hati sebagai seorang hamba. Karena pada akhirnya, belajar bukan hanya tentang menjadi lebih tahu, tetapi tentang menjadi lebih baik. Menjadi manusia yang mau memanusiakan manusia lainnya.

Allah mengingatkan,“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, maka damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”(QS. Al-Hujurat: 10).

Maka, jika Kelas Kata hendak disebut sebagai sebuah rumah, ia membutuhkan pondasi. Pondasi itu dibangun dari kesadaran untuk hadir dan belajar dengan sungguh-sungguh; komitmen untuk tidak mudah meninggalkan proses; kedisiplinan untuk menjaga apa yang telah dimulai; rasa memiliki untuk merawat rumah bersama; serta semangat untuk terus belajar, bertumbuh, dan berkembang. Dan di atas semuanya, ada cinta dan kasih sayang. Karena rumah tanpa kasih sayang hanya akan menjadi bangunan. Begitu pula ruang belajar tanpa kepedulian hanya akan menjadi tempat bertukar pengetahuan.

Kita ingin lebih dari itu. Kita ingin membangun ruang yang di dalamnya setiap orang merasa diterima, dihargai, dan memiliki kesempatan untuk bertumbuh. Ruang yang membuat kita bukan hanya semakin dekat dengan ilmu, tetapi juga semakin mengenal diri, semakin mengenal manusia, dan, semoga semakin mengenal Allah. Hingga cahaya Islam sebagairahmattidak hanya berhenti di dalam rumah ini, tetapi dapat dirasakan oleh setiap penghuninya dan perlahan memancar kepada orang-orang di sekitarnya. Karena rumah yang baik bukanlah rumah yang cahayanya hanya menerangi orang-orang di dalamnya. Rumah yang baik adalah rumah yang dari dalamnya lahir cahaya, lalu menerangi sekitarnya.

Semoga, Kelas Kata menjadi salah satu rumah itu. Rumah untuk pulang. Rumah untuk belajar. Rumah untuk bertumbuh. Rumah untuk saling mengingatkan. Dan rumah untuk bersama-sama belajar menjadi seorang hamba yang baik, sekaligus manusia yang mampu memanusiakan manusia lainnya.

Oleh: Husnul Khotimah, M.Pd

Dosen Sekolah Tinggi Ilmu Syariah Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat