KUNINGAN (MASS) – Wawasan Nusantara tidak hanya melambangkan pada bentuk ilmu pengetahuan saja, melainkan harus tertanam sebagai aspek moral, dan berguna dalam cakupan sosial. Membangun karakter yang bersifat insklusif, menghayati segala bentuk penanaman moral demi menciptakan ruang kepemilikan, kepedulian, serta dapat menjaga sumber daya alam bagi setiap individu seluruh elemen masyarakat Indonesia.
Membentuk nilai-nilai tersebut, tidak dalam bentuk mengkaji secara aspek intelektual saja. Melainkan diperlukan adanya kontribusi terhadapa moral, dan atau pelatihan penunjang pembentukan karakter, dalam menciptakan alam yang damai, tenang dan bahagia. Organisasi menjadi salah satu jawaban yang seringkali menjadi fasilitator kajian, pembentukan karakter yang sasarannya mencakup luas apalagi jika dikaitkan dengan alam, atau ekologi.
Ekologi sebagai hubungan timbal balik antara makhluk hidup dengan makhluk hidup lainnya dan linkungannya. Pada realitasnya tidak demikian, manusia kerap kali memposisikan diri untuk mendominasi semua itu, disebut Antroposentris, menempatkan manusia sebagai pengendali dunia, yang berhak mengelola sebagaimana kehendaknya. Yang pada negatifnya menghasilkan kerusakan alam, eksploitasi alam secara bebas. Konsep demikian itu jauh dari sasaran aspek moralitas wawasan nusantara.
Revitalisasi, adalah upaya menghidupkan kembali urgensi penting wawasan nusantara yang kerap kali tidak dianggap penting akan tetapi mengakibatkan kondisi genting jika kita terlalu mengenyampingkan. Bencana banjir Sumatra, mampu menjadi bahan refleksi bahwa bagaimana manusia memposisikan diri sebagai pengendali, diatas makhluk lainnya atau bahkan lingkungannya dengan tanpa memberikan keseimbangannya.
Banyak alternatif yang bisa dilakukan, tidak hanya pelatihan atau kajian. Membentuk satuan tugas (SATGAS) yang konsen terhadap alam bisa menjadi solusi yang mampu dihadirkan, membuka voluntir yang mengikutsertakan masyarakat pecinta Alam, pegiat kelestarian alam, hingga pemerintah mengawal dalam pelestarian tersebut dan memeberikan subsidi sarana prasarana secara koheren dan komprehensif.
Satuan tugas, yang melibatkan banyak aspek masyarakat ini menempatkan bahwa masyarakat selain bertugas ialah menjadi pengawasan terhadap segala kebijakan pemerintah terhadap alam, hingga pengawasan izin kepada mereka investor yang seringkali dibeberapa momentum oknum investor ini merubah alam menjadi ladang bisnisnya, namun masih bermasalah dalam perizinannya.
Membentuk kepedulian terhadap alam, adalah bentuk implementatif atau revitalitatif Wawasan Nusantara yang meilputi aspek keamanan/pertahanan, aspek sosial budaya lainnya. Di tengah krisis identitas yang semakin menyurut, tidak memilikinya rasa kepemilikan terhadap alam, meningkatkan semangat revitalisasi harus menjadi solusi terhadap perusakan alam yang berdampak pada seluruh masyarakat.
Tugas Publik Opini 2 LK3
Insan Muhamad Fauzan
HMI Cabang Kuningan, Badko Jawa Barat










