Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Netizen Mass

Revitalisasi Filosofi Pendidikan Ki Hadjar Dewantara

KUNINGAN (MASS) – Peringatan Hari Pendidikan Nasional setiap tanggal 2 Mei diketahui berdasar pada hari kelahiran dari sosok tokoh pendidikan nasional kita yaitu Ki Hadjar Dewantara. Fakta sejarah menjelaskan Beliau lahir di Pakualaman sekitar 133 tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 2 Mei 1889, dan diketahui meninggal dunia di Yogyakarta pada tanggal 26 April 1959 pada umur 69 tahun.

Satu abad lebih beliau telah meninggalkan alam dunia yang penuh dengan hiruk pikuk ini, akan tetapi pemikiran-pemikiran briliannya tentang pendidikan masih tetap hidup dan dipastikan akan setia menjadi rujukan dalam setiap proses pengelolaan pendidikan di Negara kita tercinta ini khususnya, dan dunia pada umumnya.

Peringatan hari pendidikan nasional hendaknya tidak hanya dilakukan melulu bersifat seremonial belaka, akan tetapi sudah sewajarnya momen tersebut dijadikan ajang berkontemplasi atas semua langkah gerak pengelolaan pendidikan yang telah, sedang dan akan dilakukan, apakah sudah sejalan dengan semangat dari pemikiran-pemikiran Bapak pendidikan kita itu atau masih jauh panggang dari pada api.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Menghidupkan kembali, memaknai dan mengimplementasikan nilai-nilai filosofi pendidikan bapak pendidikan kita itu dipandang sangat strategis dan ideal untuk dilakukan oleh semua pengelola pendidikan dari hulu sampai hilir dewasa ini. Hal tersebut diyakini akan memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap keberhasilan dari proses pembangunan atau pengelolaan pendidikan yang dilakukan.

Makna yang sangat mendalam dari rangkaian pemikiran Ki Hajar Dewantara setidaknya dapat saya paparkan 4 (empat) hal yang dipandang telah banyak mewarnai dunia pendidikan. Empat hal tersebut meliputi; pertama, pemikiran tentang triloka yang didalamnya meliputi Ingarso sungtulodo, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Kedua, tentang tujuan pendidikan. Ketiga, menyangkut peran pendidikan, dan keempat, pemikirannya menyangkut “Tri Kon” pendidikan (Kontinyu, konvergen, dan Konsentris).

Triloka
Ki Hadjar Dewantara mengungkapkan bahwa pengelolaan pendidikan harus didasari dengan konsep Ingarso sungtulodo, Ing Madyo Mangun Karso, dan Tut Wuri Handayani.

Konsep keteladanan dalam dunia pendidikan wajib dimiliki oleh setiap pendidik dan pengelola pendidikan secara umum. Ada pepatah “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”. Dari situ kita bisa memastikan bahwa bagaimana kita akan berhasil dalam mempengaruhi peserta didik untuk berubah ke arah kebaikan kalau guru yang mendidiknya tidak mampu memberikan beragam contoh tentang kebaikan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Selanjutnya tentang Ing Madyo Mangun Karso, seorang guru dan atau pengelola pendidikan secara umum harus mampu menjadi pemantik semangat para peserta didik untuk tetap dalam kondisi semangat tanpa mengenal kata menyerah dalam melakukan proses pembelajaran. Sebagai contoh, seorang teknokrat bernama BJ Habiebie saya pandang telah mampu berperan sebagai pemompa semangat terhadap para pembelajar, beliau pernah mengatakan bahwa semua manusia itu tidak ada yang bodoh, yang ada adalah manusia yang rajin dan pemalas. Secara tidak langsung statement Habiebie tersebut merupakan upaya jitu untuk memompa semangat para pembelajar untuk berubah ke arah yang lebih baik.

Berikutnya berkenaan dengan pemikiran Tut Wuri Handayani, yang artinya seorang pemimpin dalam hal ini pendidik dan pengelola pendidikan harus mampu memberikan dorongan moral dalam menjalankan tugas dan peranannya, juga mangandung makna bahwa para pendidik dan pemimpin pendidikan harus mampu membangun kemandirian dengan tetap setia berperan juga sebagai pengarah dan penentu tujuan akhir dari capaian pendidikan. Seorang pendidik dan pengelola pendidikan idealnya tidak bersifat otoriter atau dominan dalam melakukan perannya, akan tetapi secara bijak memberikan kemerdekaan kepada para pembelajar untuk berkreasi, berinovasi dan berdaptasi dengan dinamika yang ada dengan tetap menyelaraskan dengan tatanan normatif yang ada.

Tujuan Pendidikan
Menurut Ki Hajar Dewantara, tujuan pendidikan adalah memerdekakan manusia. Menurut beliau “manusia merdeka” dapat dicapai ketika manusia tersebut selamat raganya dan bahagia jiwanya. Jadi menurut bapak pendidikan kita tersebut, tujuan pendidikan itu pada dasarnya adalah untuk mewujudkan manusia yang selamat raganya dan bahagia jiwanya.

Mewujudkan manusia yang selamat raganya dan bahagia jiwanya dapat dipastikan merupakan rangkaian upaya pendidikan yang didalamnya kaya dengan konten menyangkut hakikat kehidupan dan bagaimana kehidupan itu dijalani sesuai dengan keharusan-keharusan yang ada (beragam norma kehidupan). Pendidikan dipandang gagal seandainya hanya mampu menciptakan manusia-manusia yang melulu “sukses raganya akan tetapi bobrok jiwanya”. Capaian seperti itu hanya berbentuk casing saja, artinya kasat mata tampak sukses akan tetapi dalamannya sumber masalah besar. Manusia yang selamat raganya dan bahagia jiwanya dipastikan akan menjadi sosok penentu solusi atas beragam masalah, dan bukannya pembuat atau sumber masalah.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Peran Pendidikan
Menurut Ki Hajar Dewantara ada tiga peran pendidikan yang harus dilakukan, yaitu memajukan dan menjaga diri, memajukan dan menjaga bangsa, serta memelihara dan menjaga dunia.

Pemikiran tersebut dikenal dengan istilah Filosopi Tri Rahayu. Dimana setiap elemen yang satu dengan yang lainnya saling terhubung. Dipahami dan diyakini bahwa ketika setiap pribadi mampu memajukan dan menjaga dirinya sendiri maka dapat dipastikan bahwa setiap keluarga akan selamat dan bahagia, ketika setiap keluarga mampu memajukan dan menjaga keluarganya maka dipastikan masyarakat akan selamat dan bahagia, pun pada akhirnya dapat dipastikan bahwa keadaan tersebut akan mengarahkan ke terwujudnya seluruh bangsa dan dunia secara keseluruhan ke arah keselamatan dan bahagiaan.

Dimaknai bahwa masyarakat, bangsa bahkan dunia tidak akan mungkin mencapai keselamatan dan kebahagiaan seandainya setiap pribadinya belum dapat dipastikan selamat raganya dan bahagia jiwanya. Berhubungan dengan hal tersebut Mahatma Gandhi pernah berucap bahwa bumi ini diciptakan akan cukup untuk memenuhi seluruh kebutuhan manusia dari generasi ke generasi, akan tetapi tidak akan cukup untuk mencukupi 7 orang pengusaha yang berjiwa serakah.

Tri Kon Pendidikan
Pemikiran berikutnya, beliau menyampaikan bahwa pendidikan itu harus kontinyu, konvergen dan Konsentris. Menurut pemikiran Ki Hadjar Dewantara menuntut ilmu itu harus berkelanjutan dan terus menerus. Kemampuan atau keterampilan yang kita raih hari ini dipastikan merupakan hasil dari rangkaian upaya belajar kita pada waktu-waktu sebelumnya, dan harus terus menerus dilakukan sampai kematian menjemput kita.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Lebih lanjut diungkapkannya bahwa pendidikan itu harus konvergen, artinya bahwa menuntut ilmu itu harus dari berbagai sumber, menuntut ilmu itu harus kaya sumber, artinnya bahwa proses pendidikan itu tidak cukup hanya terpaku pada satu atau dua sumber saja, akan tetapi harus dari beragam sumber, baik yang bersumber dari dalam negeri maupun luar negeri.

Terakhir dijelaskannya bahwa pendidikan atau menuntut ilmu itu harus Konsentris, artinya walaupun semua rangkaian upaya pendidikan/menuntut ilmu itu bebas bersumber dari beragama sumber sebanyak-banyaknya, baik dari dalam negeri maupun dari luar negeri, akan tetapi harus tetap menyesuaikannya dengan identitas keindonesaannya. Apapun yang kita pelajari dari beragam sumber tersebut dalam perwujudan atau pengimplementasiannya harus tetap diselaraskan dengan kontek kehidupan berbangsa dan bernegara, artinya harus sesuai dengan apa yang menjadi identitas nasional negara kita yaitu Indonesia.

Hasil proses pendidikan tentang kehidupan yang mengimplementasikan paham liberalisme, individualisme, komunisme dan kapitalisme tidak bisa bahkan dapat dikatakan haram untuk diimplementasikan di Indonesia, karena paham-paham tersebut nyata-nyata bertolak belakang atau bertentangan dengan apa yang menjadi tatanan kehidupan bengsa dan negara Indonesia yang berdasarkan Pancasila.

Manusia yang selamat raganya dan bahagia jiwanya dalam kontek Indonesia adalah yang pencapaiannya tidak menimbulkan kesengsaraan bagi orang lain, akan tetapi menimbulkan keselamatan dan kebahagian secara bersama-sama secara keseluruhan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Penulis
Dr. Toto Dianto, S.Pd. MA

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Advertisement
Advertisement
Advertisement

You May Also Like

Education

(Statement bersama perwakilan guru PPKn SMP/MTs Kab Kuningan) KUNINGAN (MASS) – Pada tanggal 1 Juni 1945 walaupun masih terdapat pro dan kontra, saat ini...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Buku yang berkualitas adalah buku yang setidaknya melekat padanya 4 (empat) indikator, yaitu; mampu menghadirkan manfaat bagi para pembacanya, ditulis dengan...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Untuk peringatan Hardiknas (Hari Pendidikan Nasional) yang kedua kalinya, kita masih berada dalam situasi pandemi Covid-19. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan telah...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Anggota parlemen harus berkualitas, dan setidaknya ada 5 (lima) indikator yang seyogyanya dimiliki oleh seorang anggota parlemen tersebut (DPR/DPD/DPRD). Jika kelima...

Advertisement