Refleksi Milad Ke-32 YHK: Obor Hati, Satu Arah Khidmat

KUNINGAN (MASS) – Umur 32 tahun itu umur matang. Tidak lagi coba-coba. Jika manusia, 32 tahun itu fase berlari kencang. Jatuh, bangun, luka, sembuh, lalu lari lagi. Istilahnya sudah kenyang makan asam dan garam kehidupan dalam mendidik umat. Yayasan Husnul Khotimah Kuningan tanggal 2 Mei 2026 genap berusia 32 tahun. Jika 32 tahun ini manusia, dia sudah tidak boleh lemah, sudah harus kokoh sehingga dapat memperluas konstribusi serta memberikan manfaat kepada umat, bangsa dan negara.

Yayasan Husnul Khotimah Kuningan semakin kokoh. Buktinya: 11 obor ini tetap terus menyala hingga saat ini. 11 kiblat hati, tapi kompasnya satu: khidmat. Karenanya tema pada Milad ke-32 kali ini adalah “Menjaga Amanah, Memperluas Kontribusi”. Melalui tulisan ini penulis mencoba merangkum quotes dari para pimpinan Husnul Khotimah sebagai refleksi Milad ke-32 Yayasan Husnul Khotimah Kuningan.

KH. Mutamad, Lc., MPd, Al-Hafidz, Ketua Umum Yayasan memberikan quotes: Mari berusaha memberikan yang terbaik sesuai dengan kapasitas kita. Melalui quotes ini beliau mengingatkan bahwa Allah tidak menuntut kita menjadi luar biasa, tapi menuntut kita menjadi jujur dengan kemampuannya. Kapasitas itu takaran. Yang penting, isi takaran itu sampai penuh. Jangan minder karena takaran kita kecil, dan jangan sombong jika takaran kita besar. Tugas kita bukan membandingkan wadah, tapi memastikan isinya ikhtiar terbaik. Karena di mata Allah, yang nilai 10 itu bukan hasilnya, tapi kesungguhan kita mengisi takaran yang sudah Dia kasih.

H. Maman Kurman, SH., Ketua 1 Yayasan memberikan quotesnya: “Tetaplah berbuat baik karena kebaikan itu akan kembali kepadamu.” Melalui quotes ini H. Maman mengajarkan hukum tanam-tuai dalam versi langit. Kebaikan bukan transaksi yang langsung dibayar tunai, tapi benih yang kita tanam ke tanah semesta. Kadang hasilnya tidak kita duga. Maka jangan berhenti berbuat baik. Lanjutkan saja. Karena semesta ini memiliki memori, dan Allah punya rekening yang catatannya lebih teliti dari bank mana pun.

H. Asep Saputra, Sekretaris Yayasan memberikan quotesnya, “Capek itu pasti, nyerah itu pilihan.” H. Asep memberikan pesan mendalam, capek itu manusiawi, sunatullah. Siapa pun yang berjalan, pasti ngos-ngosan. Tapi nyerah itu bukan soal tenaga habis, melainkan soal akal yang menyetujui untuk berhenti. Capek boleh dipeluk, direhatkan, tapi jangan dijadikan alasan untuk memulangkan semua ikhtiar.

Dr. Mulyana Saleh, MPd, Bendahara Yayasan juga memberikan quotesnya: “Yakinlah bersama kesulitan terdapat kemudahan.” Bendahara menegaskan bahwa susah dan solusi itu paket bundling, bukan kiriman terpisah. Tugas kita bukan menunggu badai reda, tapi yakin sambil mendayung. Orang yang yakin, matanya lebih awas melihat pintu keluar. Sedangkan yang putus asa, jangankan pintu, lubang kunci pun tidak kelihatan.

Kepala Divisi Humas dan Dakwah, KH. Imam Nur Suharno, MPdI, memberikan quotes: “Setiap kita adalah HUMAS dan setiap kita adalah DAI.” Kiai Imam mengingatkan dua tugas yang melekat di pundak kita. Satu, menjadi HUMAS artinya kita ini wajah Husnul Khotimah. Baik-buruknya Husnul Khotimah dilihat oleh orang dari sikap kita sehari-hari. Dua, menjadi DAI artinya kita tidak boleh tinggal diam. Tugas kita mengajak masyarakat ke arah yang baik, paling tidak melalui contoh nyata dan kepedulian sosial. Oleh karena itu, jaga sikap supaya nama Husnul Khotimah kebawa harum, dan kasih teladan supaya orang lain ketularan ikut berbuat baik. Selain itu, pantas diri dengan sepuluh sifat seorang DAI.

Mudir Ma’had Hunul Khotimah, KH. Mulyadin, Lc MH memberikan quotesnya: “Dari masa lalu kita belajar, di masa kini kita berjuang, dan untuk masa depan kita menyalakan harapan.” Kiai Mulyadin memberikan rumus tentang waktu. Masa lalu bukan untuk disesali, tapi jadi guru: diambil hikmahnya, dibuang lukanya. Masa kini bukan untuk dikeluhkan, tapi jadi medan: tempat keringat, air mata, dan doa kita tumpah. Masa depan bukan untuk ditakuti, tapi jadi alasan: kenapa hari ini kita tidak boleh kendor. Tiga waktu ini tidak bisa dipisah.

Dr. Mualim, MA, Kepala Divisi Perguruan Tinggi memberikan quotes: “Jangan pernah berhenti belajar, karena kehidupan tak pernah berhenti mengajarkan.” Dr. Mualim menegaskan bahwa ijazah bukan tanda tamat. Selama jantung masih berdetak, kehidupan tetap jadi guru. Berhenti belajar, artinya kita menyerah memahami cara Allah mendewasakan kita. Orang yang terus belajar, patah hati pun dijadikan bahan kuliah. Sedangkan yang tutup buku, nikmat sekecil apa pun bisa jadi petaka karena tidak paham cara menyikapinya.

H. Sanwani, SH, Kepala Divisi HRD dan Personalia juga memberikan quotes: “Jadilah orang besar yang berjiwa besar yang tidak pernah merasa besar karena bersandar pada yang Maha Besar.” Ia memberikan pesan untuk membongkar jebakan paling halus dari kesuksesan yaitu kesombongan. Besar itu boleh: besar ilmu, besar amanah, besar pengaruh. Tapi jiwa harus ikut besar, artinya lapang, rendah hati, dan tidak gampang baper. Orang yang sadar semua “besar” yang ia miliki itu titipan, ia tidak akan takut kehilangan dan tidak silau saat dipuji orang.

Kepala Divisi Sarana dan Pembangunan, H. Supriyadi, MPd memberikan quotes: “Kesuksesan adalah hasil dari doa yang tulus, rencana yang jelas, kerja keras dan ketekunan.” Kadiv Sarana memberikan rumus lengkap. Doa yang tulus menjadi pondasinya: pengakuan bahwa sehebat apa pun ikhtiar, yang menentukan hasil tetap Allah. Rencana yang jelas menjadi petanya: supaya doa tidak kosong dan tenaga tidak kebuang percuma. Kerja keras menjadi mesinnya: bukti bahwa kita serius berdoa dan rencana yang matang. Dan ketekunan menjadi pengikatnya: yang menahan kita tidak kabur saat hasil belum kelihatan.

KH. Fauzi Muhammad Ali, Lc, Mudir Ma’had Husnul Khotimah 2 menyajikan quotes: “Menggunakan waktu dengan baik berarti menghargai dan memanfaatkan hidup itu sendiri.” Kiai Fauzi mengajak untuk manfaatkan waktu dengan baik sebagai bentuk penghargaan terhadap hidup: memilih aktivitas yang bernilai, bermanfaat bagi sesama, dan mendekatkan diri kepada Allah. Mengisi waktu dengan belajar, beramal, dan berzikir merupakan wujud rasa syukur.

Terakhir Kepala Divisi Ekonomi, Didin Mulyanto, MM memberikan quotes: “Hidup adalah kesempatan untuk berbuat kebaikan.” Kadiv Ekonomi mengingatkan bahwa hidup adalah kesempatan terbatas dari Allah untuk berbuat baik. Setiap waktu yang kita miliki merupakan peluang yang tidak akan terulang. Karena itu, hidup hendaknya diisi dengan amal yang bermanfaat bagi sesama dan bernilai di sisi-Nya. Sebab yang akan dikenang bukan lamanya hidup, melainkan kebaikan yang ditinggalkan.

Penutup dari refleksi di atas, 32 tahun bukanlah waktu yang singkat. Dalam rentang itu, Yayasan Husnul Khotimah Kuningan terus belajar, berbenah, dan berkhidmat. Sebelas quotes ini menjadi kiblat hati, pengingat bahwa setiap langkah harus tetap pada satu arah: mengabdi dengan sungguh-sungguh karena Allah. Semoga tahun-tahun ke depan Yayasan Husnul Khotimah Kuningan semakin istiqamah menebar manfaat dan menapaki jalan khidmat hingga husnul khotimah. Amin.

Oleh: KH. Imam Nur Suharno, SPd, SPdI, MPdI
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Yayasan Husnul Khotimah Kuningan, Jawa Barat