Bukan Berkhianat Tapi Waktu Itu Baru Pedekate

KUNINGAN (MASS) – Menanggapi tudingan PPP berkhianat, Arya Permana Graha selaku wasekjen DPP PPP menangkisnya dengan analogi kisah cinta ABG (anak baru gede). Ia menegaskan, waktu itu belum jadian melainkan baru pedekate (pendekatan).

“Khianat? Gak ada. Putusan Mukercab itu baru di tingkat DPC. Apalagi baru dukungan tunggal kepada Ridho. Begitu pula ke paslon Acep-Ridho. Kita belum jadian, baru pedekate. Ada benih-benih cinta di situ, tapi belum ada restu dari ayahnya yaitu DPW, dan juga ibunya yakni DPP,” tuturnya.

Menyikapi konstelasi politik waktu itu, ada beberapa opsi yang menjadi bahan pertimbangan. Menurut Arya, terdapat beberapa potensi paslon lain yang bisa diberikan dukungan. Agar tidak salah mengambil keputusan, maka DPP memberikan mandat kepadanya untuk melakukan penjajakan.

“Kita komunikasi dengan semua pasangan bakal calon. Hingga akhirnya terbangun chemistry dengan pasangan Toto-Yosa. Setelah itu kami bawa ke forum resmi DPP dengan menghadirkan DPW dan juga DPC. Kita musyawarah mufakat lalu sami’na waato’na,” ungkap Arya.

Keputusan yang diambil mendukung paslon Toto-Yosa, menurut dia, sesuai mekanisme. Tidak benar jika harus digelar kembali Mukercab ketika mengalihkan dukungan. Itu sudah sesuai dengan juknis pilkada yang berlaku di PPP.

“Belum ketemu saja, diplomasinya, lobi politiknya. Sebenarnya kita bertujuan sama, ke puncak Ciremai. Hanya ada yang pilih jalur Palutungan dan pilih jalur Linggarjati. Kita pilih jalur yang lebih landai misalnya, Palutungan,” jelasnya beranalogi lagi. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com