Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Netizen Mass

Penghargaan, Mengalihkan Peran Strategis Majelis Taklim?

KUNINGAN (MASS) – Dewan Majelis Indonesia (DMI) bekerjasama dengan Badan Koordinasi Majelis Taklim Masjid (BKMM) dan Pemerintahan Kabupaten Kuningan (Pemkab) membuat program Gerakan Majelis Taklim Masjid Berprestasi (GMTMB). Ini adalah salah satu program unggulan DMI Kabupaten Kuningan tahun 2022. Dengan tujuan untuk mengukur kualitas majelis taklim dalam memakmurkan masjid (inilah kuningan.com, 26/7/2022).

Sekitar 376 majelis taklim dari 1.700 majelis taklim yang terdaftar di KUA mengikuti program GMTMB. Kemudian dipilih sebanyak 30 majelis taklim terbaik untuk diundang menghadiri acara puncak di Gedung Student Centre Iman Hidayat Universitas Kuningan. Selanjutnya dipilih 10 nominasi yang terbagi ke dalam tiga kategori. Yakni teraktif, termakmur dan terinovasi (kabarcirebon.com, 7/11/2022)

Tujuan dan peran strategis majelis taklim

Majelis Taklim adalah sebuah wadah dakwah Islam bagi sekelompok masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan keagamaan Islam melalui pembinaan nonformal, baik dilakukan di masjid-masjid ataupun tempat-tempat tertentu. Dalam pelaksanan fungsinya, majelis taklim memiliki peran strategis. Yaitu meningkatkan pemahaman masyarakat, pendalaman terhadap ajaran Islam dan pengamalan dalam kehidupan.

Materi yang disampaikan dalam majelis taklim pun meliputi akidah, syariah, muamalah dan akhlak. Rujukan sumber materi berasal dari Al Qur’an dan hadits. Dengan tujuan membentuk masyarakat muslim yang memiliki pengetahuan yang mendalam dan komperhensif tentang Islam. Sehingga diharapkan mampu meningkatkan keimanan, ketakwaan, dan memiliki akhlak mulia.

Dari peran dan tujuan ini serta kaitannya dengan kategori nominasi GMTMB memunculkan sebuah pertanyaan, apakah bisa bagi majelis taklim menjalankan peran strategisnya serta memenuhi tujuannya?

Kategori teraktif, termakmur dan terinovasi akan menjadikan majelis taklim lebih fokus untuk memenuhi administrasi ketimbang menjalankan peran strategisnya. Pasalnya ada kegiatan yang harus dipenuhi bagi majelis taklim agar bisa masuk nominasi ke dalam salah satu atau ketiga kategori. Salah satunya adalah kegiatan pengembangan kreativitas seni dan kewirausahaan.

Majelis taklim dituntut untuk berkreasi dalam berbagai hal, misalnya saja opening sebelum masuk kajian inti, yaitu shalawatan. Bahkan yang lebih jauh memiliki mars MT sendiri. Kemudian agar terlihat serasi majelis taklim harus memiliki seragam sebagai ciri khas dari MT.

Tidak hanya sampai disitu, pemenuhan administrasi berupa kegiatan kewirausahaan mengharuskan anggota majelis taklim membuat produk untuk dipasarkan hingga memiliki koperasi untuk dikelola oleh anggota. Seolah-olah melalui program majelis taklim berdaya ini, ada kepentingan tertentu mengatasnamakan syiar Islam. Yaitu perempuan bisa diberdayakan dalam bidang ekonomi.

Tentu apresiasi terhadap majelis taklim sangatlah dibutuhkan, agar majelis taklim mampu menjalankan peran strategisnya dengan baik. Hanya saja jika ada perlombaan dengan kategorinya, maka standar dakwah dalam mensyiarkan Islam di tengah-tengah masyarakat akan tergantikan dengan standar dakwah dari buatan manusia. Hal ini sangatlah berbahaya, karena akan mengantarkan pada kekaburan dan penguburan dakwah metode Rasulullah Saw.

Dakwah metode Rasulullah Saw

Allah SWT berfirman dalam QS. Imran ayat 104
وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى ٱلْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِٱلْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ ٱلْمُنكَرِۚ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُفْلِحُونَ

Artinya: “Dan hendaklah di antara kamu ada segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.”

Dari ayat tersebut maka dakwah Islam merupakan aktivitas yang bertujuan mengubah keadaan yang rusak menjadi islami agar bisa mendekatkan diri kepada Allah Swt. Dengan menyerukan kepada manusia agar berbuat kebajikan dan agar melakukan amar makruf nahi mungkar. Baik dilakukan oleh individu, kelompok maupun negara.

Sebagai majelis taklim yang memiliki tujuan yang sama, maka haruslah seluruh aktivitasnya mengacu kepada metode Rasulullah Saw. Sebagaimana Rasulullah melakukan dakwah mengubah kerusakan di tengah-tengah masyarakat menuju kebaikan.

Pertama, melakukan pembinaan kepada masyarakat. Dengan tujuan mengubah kepribadian seseorang menjadi kepribadian Islam dengan cara mengubah pemikiran dan kecenderungannya berdasarkan asas Islam. Kemudian mengarahkan masyarakat agar bisa memiliki pemahaman Islam yang sahih. Hanya saja pembinaan harus dilakukan secara terus-menerus dan dilakukan dengan sungguh-sungguh sebagaimana Rasulullah Saw melakukan pembinaan terhadap para sahabat.

Kedua, melakukan interaksi dengan masyarakat umum. Hal ini dilakukan dengan mengarahkan proses pembinaan pada perubahan pemikiran, perasaan, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya penerapan Islam di setiap aspek kehidupan. Maka hal ini, akan mengantarkan masyarakat pada kerinduan terhadap kehidupan Islam. Disebabkan oleh dorongan kesadaran dan pemahaman yang sahih terhadap ajaran Islam.

Tentunya dengan keadaan masyarakat saat ini yang mengadopsi paham sekularisme, memisahkan agama dari kehidupan akan terasa sulit. Maka dibutuhkan kesungguhan dari individu ataupun kelompok untuk melakukan interaksi dengan masyarakat.

Saat turun perintah dari Allah SWT untuk berdakwah secara terang-terangan, Rasulullah mengahadapi berbagai macam hambatan, tantangan, rintangan, bahkan ancaman. Namun keyakinan dan kesungguhan Rasulullah, akhirnya membawa masyarakat meyakini sepenuhnya terhadap Islam dan menerapkan Islam secara kaffah di seluruh aspek kehidupan dengan pemikiran dan perasaan yang sama.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ketiga, menerapkan hukum dan sistem Islam. Penerapan ini akan terjadi ketika masyarakat sudah mempercayai sebuah partai politik, jamaah atau kelompok dakwah Islam, kemudian mendirikan negara Islam yang berasaskan pada akidah Islam. Sebagaimana Rasulullah mendirikan sebuah negara di kota Madinah dengan penerapan hukum dan sistem Islam secara kaffah setelah mendapatkan bai’at Aqabah yang kedua dari masyarakat Madinah.

Maka jelaslah bagi majelis taklim seharusnya metode Rasulullah Saw dalam berdakwah di tengah-tengah masyarakat dijadikan standar dalam syiar Islam, agar tujuan yang diharapkan bisa terwujud. Bukankah Allah menjuluki kita sebagai umat yang terbaik disebabkan aktivitas dakwah yang mengikuti metode dakwah Rasulullah? Lantas mengapa harus menghindari ajaran Rasulullah?

Wallahu’alam bishshawaab

Penulis : Nengani Sholihah

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

You May Also Like

Advertisement