Pancasila di Mata Anak Sastra, Tak Hanya Filosofis tapi Juga Puitis dan Sarat Makna

KUNINGAN (MASS) – Peringatan Hari Lahir Pancasila setiap tanggal 1 Juni selalu membawa ruang diskusi yang menarik. Salah satu mahasiswi program studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Universitas Kuningan (Uniku), Nurul Haenie mengajak masyarakat untuk melihat Pancasila dari sudut pandang yang berbeda.

Ia menyoroti sisi estetika kebahasaan, khususnya pemilihan kata dan diksi yang terkandung dalam teks dasar negara tersebut. Menurut Nurul, jika dicermati lebih dalam, butir-butir Pancasila sejatinya tidak hanya memiliki nilai politis dan filosofis yang tinggi.

“Menanggapi pemilihan kata dan diksi yang digunakan dalam penyusunan teks pancasila, kita bisa menilai jika butir-butir pancasila tidak hanya bernilai politis dan filosofis tetapi juga puitis,” tuturnya kepada kuninganmass.com Senin (1/6/2026).

Sebagai contoh, Ia membedah sila pertama Pancasila. Pemilihan kata “Ketuhanan” menjadi bukti penting Indonesia sangat menjunjung tinggi perbedaan agama, karena kata tersebut merujuk pada sifat religius, bukan lagi sekadar kata benda atau zat tertentu.

“Kita bisa melihat pada poin pertama pancasila, kata ketuhanan dipilih menjadi arti penting jika Indonesia menjunjung tinggi perbedaan agama. Karena ketuhanan itu berarti sifat bukan lagi kata benda atau zat,” tambahnya.

Hal serupa juga terlihat pada pemilihan kata “Kemanusiaan” di sila kedua. Diksi ini dinilai merujuk langsung pada semboyan jiwa bangsa, Bhineka Tunggal Ika, yang menggambarkan sifat masyarakat Indonesia yang adil dan beradab meski di tengah perbedaan adat istiadat.

“Begitupun kata kemanusiaan yang merujuk pada semboyan bhineka tunggal ika. Sifat masyarakat Indonesia yang adil dan beradab meskipun perbedaan adat dan istiadat,” paparnya.

Melalui analisis bahasa tersebut, Nurul menarik kesimpulan perumusan teks Pancasila oleh para pendiri bangsa dahulu tidak dibuat dalam hitungan detik. Ada proses pengolahan, penyaringan, dan peringkasan kata yang sangat mendalam di setiap butirnya.

“Dapat disimpulkan jika pemilihan diksi yang digunakan dalam pancasila tidak dibuat dalam hitungan detik, tapi ada pengolahan dan peringkasan kata menjadi kalimat yang sarat makna dan arti dalam tiap-tiap butirnya,” pungkasnya. (raqib)