Orang Jujur Saja Ditanya, Bagaimana dengan Kita?

KUNINGAN (MASS) – “Agar Allah menanyakan kepada orang-orang yang benar tentang kebenaran mereka.” (QS. Al-Ahzab: 8).

Al-Hasan Al-Bashri, salah satu ulama besar tabi’in, membaca ayat ini. Lalu ia menangis tersedu-sedu. Ketika ditanya, “Apa yang membuatmu menangis?”

Beliau menjawab: “Jika orang-orang yang benar saja akan ditanya tentang kejujuran mereka, maka apa yang akan kita lakukan, kita ini?!”

Ayat ini bukan untuk orang munafik. Ayat ini untuk orang shiddiq, orang yang benar. Jika kejujuran mereka saja diuji, ditanya, dihisab… maka bagaimana dengan kita?

Kita yang kadang berdusta kecil untuk menutupi aib. Kita yang mengaku sibuk, padahal malas. Kita yang berkata “insyaAllah” tanpa niat menepati.

Kita yang di depan manusia terlihat baik, tapi di hadapan Allah banyak cacat.

Al-Hasan Al-Bashri tidak menangis karena kehilangan dunia. Ia menangis karena sadar: tanggung jawab itu berat.

Semakin tinggi kejujuran seseorang, semakin berat hisabnya. Lalu bagaimana dengan kita? Yang jujur saja belum tentu, beraninya masih minta keringanan?

Di zaman ini, kejujuran sering dianggap kuno. Yang penting untung, yang penting selamat, yang penting lolos. Padahal Allah sedang mencatat. Setiap kata, setiap niat, setiap amanah. Jika para wali saja gemetar, pantaskah kita tenang-tenang saja?

Masih Ada Waktu

Ayat ini bukan untuk membuat kita putus asa. Tapi untuk membangunkan hati yang tertidur. Mumpung masih di dunia, mari perbaiki kejujuran. Jujur pada Allah, jujur pada diri sendiri, jujur pada manusia. Karena di akhirat nanti, tidak ada yang bisa ditutup-tutupi.

Ya Rabb… jika orang jujur saja akan Engkau tanya, maka ampunilah kami yang jauh dari kejujuran”
Semoga Allah senantiasa membimbing kita kaum muslimin agar Istiqomah dalam ketaatan kepada-Nya. Amin.

Imam Nur Suharno
Pembina Korps Mubaligh Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat