Meski Kebakaran Sudah Padam, Petugas Masih Lakukan Patroli Udara di Gunung Ciremai

KUNINGAN (MASS) – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) dipastikan telah padam. Meski demikian, pemantauan di area bekas kebakaran masih terus dilakukan untuk memastikan kondisi kawasan benar-benar aman dan mencegah munculnya kembali titik api.

Humas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), Eska Nata Suryana, mengatakan, saat ini personel difokuskan kembali di Posko Pengendalian Kebakaran Hutan (Dalkarhut) Singkup. Pemantauan dilakukan secara rutin, terutama melalui patroli udara menggunakan drone.

“Sudah, sekarang pemantauan dari drone saja. Karena kalau melihat di lapangan relatif sudah dingin. Kemarin hujan juga sudah sampai Karang Dinding, artinya pendinginan itu sangat efektif apabila dibantu dengan air dan alhamdulillah hujan pun turun,” ujar Eska saat dikonfirmasi, Rabu (28/10/2026).

Ia menjelaskan, setelah posko penanganan karhutla ditutup, pemantauan lanjutan dikembalikan kepada pihak BTNGC sebagai pengelola kawasan konservasi. Personel yang sebelumnya terlibat dalam operasi pemadaman di lokasi kebakaran kini telah ditarik dari lapangan.

Menurut Eska, kegiatan pengendalian kebakaran sebenarnya telah disiapkan melalui posko yang aktif sejak Juli. Saat ini, operasional kembali dipusatkan di Posko Dalkarhut Singkup dengan pengaturan jadwal dua sif setiap hari untuk melakukan pemantauan.

“Setelah penutupan posko, untuk pemantauan lebih lanjut itu diserahkan ke kami Taman Nasional. Dari bulan Juli posko sudah aktif ya, kemarin dipusatkan di posko induk di Balai Kambang sekarang dikembalikan lagi di posko kita di Singkup,” tuturnya.

Patroli dilakukan melalui udara maupun pemantauan terhadap lokasi-lokasi yang dinilai masih rawan kebakaran. Posko juga belum sepenuhnya ditutup karena petugas masih menunggu kondisi hujan merata di.

Dengan padamnya api, tidak ada lagi personel pemadaman maupun relawan yang ditempatkan di area Karang Dinding, Bukit Seribu Bintang (BSB), dan lokasi terdampak lainnya. Penanganan kini beralih dari operasi pemadaman menuju pemantauan dan tahap pemulihan kawasan.

“Iya sudah turun, tidak ada posisi yang di lapangan baik di Karang Dingding, BSB, ataupun di Bintangor. Sudah turun, tinggal pemulihan,” ujarnya.

Terkait pemulihan ekosistem ataupun penanaman, Eska menyebut prosesnya tidak dapat dilakukan secara langsung. Area yang terbakar perlu terlebih dahulu dimasukkan ke dalam dokumen Rencana Pemulihan Ekosistem (RPE).

“Penanaman itu mungkin ada tapi tidak dalam jangka waktu dekat, artinya memang bagian dari penanganan pasca kebakaran memang harus dipulihkan kondisinya karena terdegradasi. Ini harus dimasukkan dulu ke dalam dokumen RPE, jadi prosesnya tidak akan cepat,” katanya.

Sementara itu, mengenai luasan pasti area yang terbakar, Eska mengatakan data tersebut sebenarnya telah tersedia. Namun, pihaknya belum mendapat izin pimpinan untuk menyampaikan angka tersebut kepada publik.

“Luasan sudah ada dari hari Senin, cuma kami belum diizinkan sama pimpinan untuk melakukan rilis terkait ini. Mungkin nanti rilisnya berupa siaran pers resmi yang akan disampaikan. Mudah-mudahan dalam satu sampai dua hari ini,” pungkasnya. (didin)