Membaca Sejarah dengan Lensa Al-Qur’an
KUNINGAN (MASS) – Bahwa ketika i’dul fitri 1447 H, saat ini sudah kita lewati , kita diajak membaca sejarah tidak dengan kacamata konvensional yang hanya melihat rudal, pangkalan, dan aliansi. Kita diajak membaca dengan Kitab Suci yang diturunkan langsung oleh Pencipta sejarah.
Sebab, tidak ada satu peristiwa apapun di muka bumi ini yang luput dari pengetahuan Allah Subhannahu Wata’ala dan tidak ada satu fase peradaban pun yang tidak dijelaskan dalam firman-Nya.
Di antara Surat yang paling gamblang membaca siklus sejarah Bani Israil hingga akhir zaman adalah QS. Al-Isra’ ayat 4 hingga 8.
Ayat-ayat ini tidak hanya berbicara tentang masa lalu, tetapi juga membuka tabir tentang apa yang sedang terjadi hari ini: di Palestina- Gaza, Iran, Lebanon dan di Selat Hormuz, serta mendekati reruntuhan Pax Americana.
Di sinilah kita berdiri: di persimpangan antara kerusakan kedua yang mereka lakukan dan hukuman kedua yang telah dijanjikan.
Idul Fitri tahun ini adalah momentum untuk membaca ulang Firman Allah, agar kita tidak menjadi penonton yang buta, tetapi menjadi saksi yang sadar akan dinamika bergulirnya takdir.
Dua Kali Kerusakan di Muka Bumi
“Wa qaḍaynā ilā banī isrā’īla fil-kitābi latufsidunna fil-arḍi marratayni wa lata’illunna ‘uluwwan kabīrā.”
“Dan telah Kami tetapkan terhadap Bani Israil dalam Kitab itu: ‘Sesungguhnya kamu akan membuat kerusakan di muka bumi dua kali, dan pastilah kamu akan menyombongkan diri dengan kesombongan yang besar.'”
(QS. Al-Isra’: 4).
Dua kali Bani Israil menebar kezaliman di muka bumi. Dua kali mereka mengangkat kepala dengan kesombongan yang melampaui batas.
Kerusakan pertama terjadi pada masa setelah Nabi Sulaiman, ketika mereka menyembah selain Allah, membunuh para Nabi, dan melanggar perjanjian (menolak Nabi Isa sebagai Nabi yang dijanjikan).
Saat itu Allah mengirim hamba-hamba- Allah yang gagah perkasa untuk menghukum mereka, mengusir mereka dari tanah suci, dan menjadikan mereka terbuang selama berabad-abad.
Kerusakan kedua, inilah yang sedang kita saksikan hari ini. Puncaknya adalah apa yang terjadi di Gaza. Bukan sekadar perang, tetapi kerusakan sistematis: Kebiadaban pembantaian rakyat sipil termasuk anak-anak, penghancuran rumah sakit, penutupan masjid, dan yang paling baru adalah pengosongan Masjid Al-Aqsha untuk pertama kalinya sejak 1967.
Mereka menyangka bahwa dengan kekuatan militer, dengan dukungan Amerika, dengan sekutu-sekutu di Timur Tengah, mereka bisa melakukan apa pun tanpa hukuman.
Mereka lupa bahwa Allah telah menetapkan: latufsidunna fil-arḍi marratayni. Dan setelah kerusakan kedua, ada hukuman yang tidak bisa ditawar.
Hamba-Hamba Perkasa: Siapa Mereka?
Allah berfirman tentang hukuman atas kerusakan pertama:
“Fa-idzā jā’a wa’du ūlāhumā ba’atsnā ‘alaykum ‘ibādan lanā ulī ba’sin syadīdin fa jāsū khilālad-diyār, wa kāna wa’dan maf’ūlā.”
“Maka apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) pertama, Kami utus kepadamu hamba-hamba Kami yang mempunyai kekuatan yang dahsyat, lalu mereka menyusup ke dalam kampung-kampung, dan itulah ketetapan yang pasti terlaksana.”
(QS. Al-Isra’: 5).
Siapakah hamba-hamba perkasa ini?
Para ulama tafsir, seperti Ibnu Katsir, Al-Qurthubi, dan Ath-Thabari, sepakat bahwa mereka adalah Nebukadnezar dan pasukannya dari Babilonia.
Pada tahun 586 SM, Nebukadnezar mengepung Yerusalem, menghancurkan Bait Suci yang dibangun Sulaiman, membantai ribuan penduduk, dan mengusir sisa-sisa Bani Israil ke pembuangan di Babilonia.
Inilah hukuman pertama: mereka terusir dari tanah suci, kehilangan kemerdekaan, dan hidup dalam kerendahan selama hampir tujuh puluh tahun.
Namun ayat ini menggunakan kata ‘ibādan lanā, hamba-hamba Kami.
Nebukadnezar, meskipun bukan seorang Muslim, adalah “hamba Kami” yang diutus untuk melaksanakan kehendak-Nya.
Allah menggunakan siapapun yang dikehendaki-Nya untuk menegakkan keadilan, bahkan jika mereka tidak menyadari peran mereka dalam Skenario Besar Ilahi Robbi.
Pola sejarah berulang. Jika di balik hukuman pertama ada Nebukadnezar, “hamba Kami” yang bukan Muslim, pada hukuman kedua “hamba Kami” itu sangat mungkin adalah para tokoh multipolar dunia saat ini yang berani menantang dominasi hegemoni dunia unipolar, yang bisa muslim, bisa juga bukan Muslim.
Inilah pelajaran penting: sejarah tidak digerakkan oleh kekuatan militer semata, tetapi oleh izin Allah yang menggerakkan setiap pasukan sesuai dengan ketetapan-Allah.
Dua Ribu Tahun Terusir: Kembali setelah Perang Dunia
Setelah hukuman pertama, mereka diusir dari tanah yang mereka klaim sebagai pemilik tanah suci.
Pengusiran ini bukan sekadar kekalahan militer, tetapi pencabutan hak untuk tinggal di negeri itu. Mereka menjadi bangsa tanpa tanah, terbuang ke berbagai penjuru dunia.
Inilah yang terjadi selama hampir dua milenium, sejak kehancuran Bait Suci kedua pada tahun 70 M oleh Romawi hingga abad ke-20, mereka “Bani Israel” hidup dalam diaspora, tanpa negara, tanpa kedaulatan.
Kemudian daripada itu, bagaimana mereka bisa kembali? Allah berfirman setelah hukuman pertama:
“Tsumma radadnā lakumul-karrata ‘alayhim wa amdadnākum bi amwālin wa banīna wa ja’alnākum akśara nafīrā.”
“Kemudian Kami berikan kepadamu giliran untuk mengalahkan mereka, dan Kami membantumu dengan harta kekayaan dan anak-anak, dan Kami jadikan kamu kelompok yang lebih besar.”
(QS. Al-Isra’: 6).
Inilah masa kejayaan yang mereka nikmati setelah kembali dari pembuangan.
Namun kembalinya mereka ke tanah suci terjadi setelah mereka membuat kerusakan besar: Perang Dunia I dan II.
Melalui Deklarasi Balfour (1917) di tengah kecamuk perang, mandat Inggris atas Palestina, dan tekanan besar setelah Holocaust, mereka berhasil mendirikan negara Israel pada 1948.
Pada tahun 1950 Israel dan Perancis mendirikan pusat penelitian Nuklir Negev – Fasilitas nuklir paling rahasia dan paling penting dimiliki Zionis Teroris Israel dan terbongkar karena percobaan nuklirnya dilakukan dengan BIADAB kepada rakyat Aljajair yang sampai sekarang dampak radiasinya banyak yang cacad.
Untuk semua itu publik dunia menjadi Faham , ketika kota Dimona di gurun Negev israel selatan dibombardir Iran.
Sekarangpun Zionis Teroris Israel bersama Donal Trump seperti binatang buas mencari mangsa dengan meminta dukungan negara2 teluk dan lainnya , dengan pamer kekayaan dari diaspora, dan ingin mendapat simpati dunia internasional , menyakinkan bahwa Iran mudah dihancurkan. Zionis Tetoris Israel bersama Donal Trump ingin menjadi kekuatan yang disegani dan sikap sombong terus dipelihara.
Mahluq Netanyahu dan Donal Trump tdk percaya bahwa: pemelihara kesombongan, keangkuhan kelicikan, kemunafikan kepada siapapun, akhirnya akan hancur dengan ketentuan Allah.
Ini adalah “giliran untuk mengalahkan” yang dimaksud dalam ayat ini: mereka kembali, membangun negara, dan menguasai wilayah.
Namun kembalinya mereka kali ini tidak seperti setelah pembuangan Babilonia yang disertai taubat.
Kali ini mereka kembali dengan kebohongan menyampaikan berita dan kesombongan yang lebih besar, dengan kerusakan yang dilakukan AS dan Israel melalui format gerakan perbuatan lebih ber-skala besar dampaknya di banyak negara dunia ini.
Dan itulah yang membawa ISRAEL KHUSUSNYA kepada kerusakan dan kebiadaban yang kedua dan akan berakhir dengan tahapan kehancuran ketentuan Ilahi.
Kerusakan Kedua: Gaza dan Puncak Kezaliman
“Fa-idzā jā’a wa’du al-ākhirati liyasū’ū wujūhakum wa liyadkhulul-masjida kamā dakhalūhu awwala marratin wa liyutabbirū mā ‘alaw tatbīrā.”
“Maka apabila datang saat hukuman (kejahatan) yang kedua, (Kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka kalian dan untuk memasuki masjid (Al-Aqsha) sebagaimana mereka memasukinya pada kali pertama, dan untuk membinasakan apa saja yang mereka kuasai dengan kehancuran sebesar-besarnya.
(QS. Al-Isra’: 7).
Kerusakan kedua yang dimaksud adalah puncak kezaliman Bani Israil di akhir zaman, saat ini.
Banyak ulama yang menafsirkan bahwa ini adalah masa ketika mereka menguasai kembali Yerusalem dan menodai Masjid Al-Aqsha.
Puncaknya adalah peristiwa yang kita saksikan sekarang: pengeboman Gaza yang membunuh puluhan ribu jiwa, penghancuran rumah sakit, pengusiran warga, dan yang paling baru adalah penutupan total Masjid Al-Aqsha.
Inilah kerusakan kedua. Mereka telah melampaui batas. Dan Allah berfirman bahwa ketika kerusakan kedua ini tiba, maka Hukuman akan datang dalam tiga fase:
Tiga Fase Hukuman yang Sedang Berlangsung
- Fase Pertama: liyasū’ū wujūhakum, mereka akan dipermalukan
Inilah yang sedang kita saksikan hari ini. Betapa muka mereka menjadi suram di hadapan dunia, mereka dipermalukan.
- Kekalahan Militer yang Memalukan
Iran yang mereka kira akan runtuh dalam hitungan dua hari/48 jam , justru membalas dengan rudal hipersonik yang menghantam Tel Aviv dan bahkan daratan Amerika.
Pangkalan-pangkalan AS yang menjadi tameng mereka hancur berkeping-keping.
Kapal induk USS Abraham Lincoln kabur ke Samudra Hindia, meninggalkan sekutu yang merasa dikhianati.
- Terbukanya Kebusukan Moral
Di tengah gempuran, dunia mulai melihat apa yang selama ini tersembunyi.
Jaringan Epstein dan praktik-praktik pesugihan modern yang melibatkan elit politik Israel dan Amerika mulai terbuka.
Istilah Mata Khidr melihat siapa yang sesungguhnya mengendalikan Israel. Talbis yang selama ini menyembunyikan wajah sebenarnya dari Pax Judaica mulai tersingkap.
- Kehilangan Dukungan global
Negara-negara yang dulu bersekutu mulai berpaling. Uni Eropa menolak tunduk pada Amerika untuk melayani kepentingan Israel.
Boikot terhadap produk Israel mencapai skala global.
Mahkamah Internasional mengeluarkan putusan yang memalukan.
Mereka yang dulu dipuja kini menjadi paria di mata dunia.
- Kegagalan Membangun Pax Judaica
Mereka bermimpi membangun tatanan baru di Timur Tengah dengan Yerusalem sebagai pusatnya. Tapi Pax Americana yang menjadi fondasinya runtuh dengan tangan mereka sendiri.
Sekarang Pax Judaica masih berupa mimpi. Mereka ingin menguasai jiwa, tetapi jiwa-jiwa justru bangkit melawan.
Dan sebelum Pax Judaica benar-benar tegak, Allah akan turunkan Nabi Isa untuk membunuh Dajjal. Inilah saat mimpi mereka terkubur untuk selamanya. Dan setelah itu dunia akan memasuki zaman baru.
Inilah fase pertama: mereka dipermalukan di hadapan seluruh dunia, tapi ini baru awal.
- Fase Kedua: wa liyadkhulul-masjida kamā dakhalūhu awwala marratin, mereka akan memasuki kembali Masjid Al-Aqsha (tetapi kali ini untuk dihancurkan).
Fase ini memiliki dua lapis makna.
Lapis pertama: mereka berhasil memasuki Masjid Al-Aqsha, seperti yang telah terjadi. Mereka menutupnya, menguasainya, bahkan berniat membangun Kuil Sulaiman di atas reruntuhannya. Mereka mengira ini adalah kemenangan.
Tetapi lapis kedua adalah makna yang sebenarnya: mereka akan memasuki masjid itu untuk mendapatkan kehancuran.
Seperti pada kali pertama ketika pasukan Nebukadnezar memasuki Bait Suci dan menghancurkannya, kali ini mereka akan memasuki Masjid Al-Aqsha, dan di situlah kehancuran mereka akan terjadi.
Mereka masuk bukan untuk menang, tetapi untuk diganjar di tempat yang sama di mana mereka berbuat zalim.
- Fase Ketiga: wa liyutabbirū mā ‘alaw tatbīrā, mereka akan dibinasakan sehancur-hancurnya
Kehancuran total yang dijelaskan dalam hadits-hadits Nabi. Di antaranya adalah hadits tentang pohon gharqad:
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Lā taqūmus-sā’atu ḥattā tuqātilul-yahūdu, fa yaqtuluhumul-muslimūna, ḥattā yakh’tabi’a l-yahūdiyyu warā’al-hajari wal-gharqadi, fa yaqūlul-hajaru yā muslimu hādzā yahūdiyyun warā’ī fa ta’āl faqtulhu. Illal-gharqada fa innahu min syajaril-yahūd.”
“Tidak akan terjadi hari kiamat hingga kaum Muslim memerangi kaum Yahudi, lalu kaum Muslim membunuh mereka. Sampai orang Yahudi bersembunyi di balik batu dan pohon gharqad, lalu batu itu berkata: ‘Wahai Muslim, ini ada Yahudi di belakangku, datang dan bunuhlah!’ kecuali pohon gharqad, karena ia adalah pohon milik Yahudi.”
(HR. Bukhari dan Muslim).
Bani Israel menanam jutaan pohon gharqad dan yang mereka tidak tahu, inilah tanda kehancuran Israel.
Inilah tatbīr, penghancuran yang tidak menyisakan.
Dialektika Sejarah: Wa In ‘Ud tum ‘Udna
Setelah menjelaskan hukuman kedua, Allah menutup dengan kalimat kunci untuk memahami diakektika sejarah Bani Israil.
“‘Asā rabbukum ay yarḥamakum, wa in ‘udtum ‘udnā.”
“Mudah-mudahan Tuhanmu melimpahkan rahmat-Nya kepadamu. Dan jika kamu kembali (berbuat kerusakan), niscaya Kami akan kembali (menghukum).”
(QS. Al-Isra’: 8).
Ini adalah dialektika yang berulang dalam sejarah. Setiap kali Israel melampaui batas, hukuman akan datang.
Setiap kali Israel berbuat kerusakan, Allah mengirim pasukan yang menghancurkan.
Dan ketika Israel kembali lagi dengan kerusakan, Allah kembali lagi dengan hukuman yang lebih berat.
Kita telah melihat hukuman pertama melalui Nebukadnezar. Kini kita menyaksikan hukuman kedua melalui “hamba-hamba Allah” yang lain.
Dan
setelah ini, tidak ada lagi kesempatan, karena setelah hukuman kedua, hari kiamat akan dekat.
Wa in ‘udtum ‘udnā, jika kalian kembali, Kami akan kembali.
Kembali dengan hukuman yang tidak memberi celah untuk kembali lagi.
Idul Fitri: Membaca Tanda-Tanda
Idul Fitri adalah kembali kepada fitrah. Kita diajak kembali kepada pemahaman yang jernih tentang sejarah yang sedang berlangsung.
Tidak ada yang perlu ditakuti oleh orang beriman.
Yaqinilah kita saksikan adalah janji Allah yang sedang digenapi.
Yaqini yang kita lihat adalah Ayat-ayat-Allah yang sedang ditampakkan saat ini , dan yang kita nantikan adalah kemenangan kebenaran atas apapun yang namanya kebatilan.
Fase pertama dari hukuman kedua sedang berlangsung: mereka dipermalukan di hadapan seluruh dunia.
Fase kedua juga sedang kita saksikan: mereka menguasai Masjid Al-Aqsha, tetapi itu adalah pintu menuju kehancuran Bani Israel.
Fase ketiga akan segera tiba: kehancuran total yang dijelaskan terutama dalam hadits pohon gharqad.
Pada Idul Fitri 1447 H yang baru lalu dan berada di ambang (atau di tengah) malahim/perang AS – Israel VS IRAN ini, marilah kita tidak hanya merayakan kemenangan atas hadirnya i’dul fitri, tetapi juga memperbaharui kesadaran ,bahwa kita adalah saksi dari penggenapan Firman Allah.
Kita bukan penonton yang pasif, tetapi bagian dari umat yang akan menyambut fajar baru dari Timur.
Doa di Hari Kemenangan
Ya Allah…
Engkau yang menurunkan kitab-Mu sebagai petunjuk.
Engkau yang mengabarkan dalam QS. Al-Isra’ tentang dua kerusakan Bani Israil.
Engkau yang mengutus Nebukadnezar untuk menghukum mereka pada kerusakan pertama,
dan mengusir mereka dari tanah suci selama dua ribu tahun.
Kini mereka kembali setelah Perang Dunia,
membangun kekuasaan dengan kesombongan yang lebih besar.
Maka datanglah kerusakan kedua, puncaknya di Gaza dan penodaan Masjid Al-Aqsha.
Kami saksikan kini fase pertama hukuman-Mu: mereka dipermalukan.
Kami saksikan pangkalan-pangkalan mereka runtuh, senjata mereka gagal, dan tipu daya mereka berbalik.
Sempurnakanlah hukuman-Mu.
Masukkan mereka ke dalam Masjid Al-Aqsha, untuk kemudian Engkau hancurkan di tempat yang sama sesuai Firman-Mu.
Berkenan kiranya pembaca berdo’a menurut agama dan kepercayaannya masing -masing dan untuk yang beragama islam berdo’alah…..;
Ya Allah…..
jadikanlah bangsa Indonesia, negeri di ujung Timur, sebagai bagian dari fajar baru , kuatkanlah dan jadikanlah persatuan Indonesia adalah Kebutuhan , wujudkanlah bangsa Indonesia menjadi negara yang adil dan makmur serta bisa dinikmati bersama rakyatnya.
Aamiin ar-rahmani ar-rahimi 🤲🤲🤲
Hadanallahu Waiyyakum Ajma’in.
Awang Dadang Hermawan
*) Pemerhati intelijen, sosial politik dan Sara.
27 Maret 2026
















