Mencintai Para Pencintanya

KUNINGAN (MASS) – Syiar peringatan maulid Nabi Muhammad SAW dilaksanakan di berbagai tempat dan waktu selama bulan Rabiul Awal. Dalam setiap peringatan dibaca kembali Al-Barzanji, sejarah kehidupan Nabi SAW. Orang-orang yang selalu membaca sejarah kehidupan Nabi SAW akan semakin mengenalnya. Dengan semakin mengenal maka akan semakin mencintainya.

Mencintai Nabi SAW sebagai kewajiban bagi setiap muslim. Mencintai Nabi SAW harus di atas cinta kita terhadap anak-anak, orang tua bahkan terhadap seluruh umat manusia.  Seorang muslim wajib mendahulukan kecintaan terhadap Nabi SAW di atas yang lainnya.

Nabi SAW telah bersabda, “Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai daripada anaknya, orang tuanya, bahkan seluruh manusia.” (HR Bukhari dan Muslim).

Selain mencintai Nabi SAW, setiap orang yang beriman wajib pula mencintai orang-orang yang mencintainya. Mencintai para pencintanya telah ditegaskan dalam Alquran. 

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud…” (QS Al-Fath [48]: 29).

Sesungguhnya orang-orang beriman saling cinta mencintai karena Allah SWT. Sampai dikatakan tidak beriman secara sempurna sehingga orang yang beriman mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya.

Nabi SAW bersabda, “Salah seorang di antara kalian tidaklah beriman (dengan iman sempurna) sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Nabi SAW pun memerintahkan untuk mengungkapkan rasa cinta terhadap saudaranya. “Apabila salah seorang di antara kalian mencintai saudaranya hendaknya ia memberitahu saudaranya bahwa ia mencintainya.” (HR. Bukhari).

Ibnu Abbas pernah berkata, “Siapa yang mencintai dan benci karena Allah, berteman dan memusuhi karena Allah, sesungguhnya pertolongan Allah itu diperoleh dengan demikian itu. Seorang hamba tidak akan dapat merasakan kenikmatan iman meskipun banyak melakukan shalat dan puasa sampai dirinya berbuat demikian itu. Sungguh, kebanyakan persahabatan seseorang itu hanya dilandaskan karena kepentingan dunia. Persahabatan seperti itu tidaklah bermanfaat bagi mereka.”

Hasan Al-Bashri juga pernah berkata, “Sesungguhnya hamba yang dicintai di sisi Allah adalah yang mencintai Allah lewat hamba-Nya dan mencintai hamba Allah karena Allah. Di muka bumi, ia pun memberi nasehat pada orang lain.”

Agar cinta antar sesama muslim semakin kokoh, Nabi SAW memerintahkan agar saling memberikan hadiah satu sama lain. “Hendaklah kalian saling memberi hadiah, karena hal itu akan membuat kalian saling mencintai.” (HR. Baihaki).

Saling mencintai yang disertai saling mengunjungi akan mendapatkan cinta dari Ilahi, “Sesungguhnya seseorang ada yang ingin mengunjungi saudaranya di kota lain. Allah lalu mengutus Malaikat untuknya di jalan yang akan ia lalui. Malaikat itu pun berjumpa dengannya seraya bertanya, ‘Ke mana engkau akan pergi? Ia menjawab, ‘Aku ingin mengunjungi saudaraku di kota ini?’ Malaikat itu bertanya kembali, ‘Apakah ada suatu nikmat yang terkumpul untukmu karena sebab dia?’ Ia menjawab, ‘Tidak. Aku hanya mencintai dia karena Allah.’ Malaikat itu berkata, ‘Sesungguhnya aku adalah utusan Allah untukmu. Allah sungguh mencintaimu karena kecintaan engkau padanya.” (HR. Muslim).

Semoga Allah membimbing kita kaum Muslimin agar semakin mencintai Nabi SAW, dan mencintai para pencintanya sehingga layak berkumpul bersamanya di surga-Nya. Amin.

Oleh Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah, Kuningan, Jawa Barat