KUNINGAN (MASS) – Pada tahun 2024 lalu, viral di media massa soal Zaenudin (65) alias Abah Udin, warga Desa Mekarjaya Kecamatan Ciawigebang yang hidup di kuburan, termasuk tidur malam hari.
Abah Udin, tinggal sendirian di TPU Rama Buyut Mekarjaya. Ia tak lagi tinggal bersama keluarga setelah berpisah dengan istri. Tidak hanya itu, mata Abah Udin juga mengalami katarak.
Mengandalkan rezeki tak terduga dengan menjaga dan merawat makam, peziarah serta tetangga, adalah keseharian Abah Udin. Tak ada tempat tinggal, membuat warga sekitar -entah tega ataupun tidak- membiarkan Abah Udin tinggal di sekitar makam.
Jika dulu tidur “sembarangan”, di saung tak tertutup sekitar makam, kini kondisinya berbeda. Ketabahan dan ketegaran Abah Udin membuat banyak hati tergerak membantunya.
Adalah Yayasan Cancer Support Kuningan (CSK) yang membuatkan bangunan untuk Abah Udin tidur. Ukurannya memang tidak besar, hanya seluas 3 x 3 meter saja. Itupun numpang di tanah warga, yang lokasinya di sekitar pemakaman.

Namun tentu itu jauh lebih baik dari sebelumnya. Bangunan yang dibuatkan Yayasan CSK dengan menggandeng aparat setempat, ditata serapih mungkin. Lantainya keramik. Lengkap dengan kasur dan lemari.
Terpenting, hujan atau panas kini tak lagi jadi gangguan untuk Abah Udin beristirahat, tidur dan sekedar menyambung hari. Dan kebetulan, di area pemakaman tersebut sudah ada toilet dan listrik terlebih dahulu. Abah Udin bisa memanfaatkannya.
Saat dikunjungi tim dari yayasan CSK pada Rabu (6/5/2026) kemarin, Abah Udin nampak sumringah. Ia berkali-kali berterima kasih pada yayasan yang membuatnya punya tempat bernaung, meski tetap di area pemakaman.
“Alhamdulillah abdi didamelkeun rompok ieu (dibuatkan rumah ini) , ka bapa yayasan ka ibu yayasan maka sarehat sadayana, dilipatgandakan rezekina barokahna,” kata Abah Udin.
Kondisi fisik Abah Udin sendiri memang sudah cukup renta. Kegiatan Abah Udin tak jauh dari sekitar pemakaman. Kecuali waktu shalat ke mushala, semua kegiatan dilakukan di sekitar makam.

Ketua Yayasan CSK, Sari Maryati, didampingi Nining Suparman, Refsy Remas Nurharbi dan tim, tak hanya menjenguk Abah Udin dengan tangan kosong.
Selain berinteraksi langsung, bercanda dan membuat Abah Udin senyum-senyum, Yayasan CSK yang sudah membuatkan bangunan itu, tetap memberi bekal alakadarnya untuk Abah Udin.
Sesekali, Abah Udin juga cerita lagi ke yayasan CSK soal apa yang dialaminya. Dimana Abah Udin sempat terlunta-lunta karena berpisah dengan istri, menginap di mushala namun akhirnya tak diijinkan DKM kalo terus menerus.
Sesekali ia juga ngomong soal kondisi matanya yang katarak dan belum sembuh. Juga soal kakinya yang kini tak bisa lagi menopangnya beraktivitas jauh.
Dulu sewaktu muda, Abah Udin berdagang di luar kota. Namun kondisinya semakin memprihatinkan setelah sakit dalam beberapa tahun belakangan ini.
“Alhamdulillah nya bah, tos hnteu kahujanan teu kaangjnan (Sudah tidak kena hujan dan angin). Kasurna sae (kasurnya bagus), kaseer ibadah abahna (perbanyak ibadah),” pesan Sari Maryati dan tim yayasan, sembari mendoakan Abah Udin. (eki)