Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Netizen Mass

Mahasiswa Harus Berpikir Kritis dan Berani Berpendapat

KUNINGAN (MASS) – Menjadi mahasiswa merupakan kesempatan emas yang harus dimanfaatkan untuk mendapatkan ilmu dan pengalaman yang lebih banyak. Mahasiswa juga tidak jarang dinobatkan sebagai agent of change atau yang sering dikenal sebagai pembawa perubahan. Mengapa dapat dikatakan seperti itu, karena salah satu komponen Tri Dharma Perguruan Tinggi harus diwujudkan yakni melakukan pengabdian masyarakat.

Karakter yang dimiliki oleh mahasiswa merupakan karakter yang dapat membawa perubahan dan bermanfaat bagi orang lain. Salah satunya dalam berpikir kritis.

Kemampuan untuk berfikir sangatlah penting terutama sebagai mahasiswa. Kenapa harus berpikir secara kritis? Setiap hari manusia dihadapkan oleh berbagai permasalahan, isu-isu, dan narasi-narasi yang mempengaruhi kehidupan. Semua permasalahan itu tidak mungkin dapat dipikirkan dengan mudah, sering kali permasalahan itu sulit dihadapi.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Maka dari itu, sebagai mahasiswa harus membiasakan diri untuk berpikir secara kritis agar dapat membuat keputusan yang matang dan bijaksana. Selain itu hal ini dapat menolong, sebab tidak mudah terprovokasi dan menelan informasi secara mentah-mentah. Mahasiswa yang biasa berpikir kritis akan mendalam atau menggali informasi dan memahami suatu masalah dengan baik sehingga dapat mengambil keputusan dengan bijak.

Berpikir kritis ini harus diterapkan di berbagai situasi. Karena seringkali lingkungan tidak mendukung untuk berpikir kritis dan hal itu yang tentunya menghambat perkembangan diri. Berpikir kritis akan mendorong otak untuk terus bertanya-tanya sehingga pertanyaan-pertanyaan yang tersimpan dipikiran harus terjawab. Akan tetapi ketika seseorang punya pengetahuan yang tinggi, lalu banyak bertanya, tidak jarang  dianggap “sok pintar, ribet”, sejatinya orang bertanya karena rasa ingin tahu yang tinggi, bukan bermaksud menguji atau cari perhatian.

Mahasiswa tidak seharusnya termakan oleh stigma seperti itu yang ada di masyarakat atau di lingkungan sekitar. Kemampuan berpikir kritis ini bisa dilatih dengan diri sendiri. Cara berpikir ini dapat menentukan keberhasilan mahasiswa dalam membangun pemahaman serta kritik yang berguna terhadap sebuah konsep atau opini yang ada. Contoh kecilnya dalam bertukar pendapat dengan teman atau kerabat.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sebagai mahasiswa harus mempunyai kemerdekaan dalam berpikir seperti bisa mengidentifikasi, mengobservasi, menganalisa, dan menimbang suatu isu. Biasanya seseorang hanya melakukan sesuatu yang lumrah di masyarakat, tanpa tahu apa itu manfaatnya. Kemudian, sebagai mahasiswa yang memiliki nilai independen harus mendorong diri untuk terus berpikir kritis.

Mahasiswa harus selalu bisa berpikir mandiri. Sebelum melakukan sesuatu, sebelum memegang suatu nilai, sebelum mempercayai sesuatu. Sebagai agent of change harus menganalisa semuanya agar tahu akan manfaatnya.

Bagaimana cara berpikir kritis? Dalam halnya berpikir kritis, seseorang harus mulai berpikir secara objektif dan seadil mungkin terhadap suatu permasalahan yang ada, sadar atas kemungkinan adanya bias, mengidentifikasi argumen lain atau point of view yang berkaitan dengan permasalahan, harus selalu mengevaluasi argumen valid atau tidaknya, dan harus tau implikasi dari keputusan yang dipilih dengan menggunakan etika yang baik dan benar.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Selain itu, berpikir kritis dan berani menyampaikan pendapat mendorong untuk berpikir menggunakan logika dibandingkan emosional dan perasaan. Berpikir kritis ini juga merupakan salah satu kemampuan untuk berpikir secara rasional. Contohnya seperti ada berita “Jahe dapat mengobati pasien yang terpapar covid19”. Jika seseorang berpikir kritis, maka akan paham berapa banyak orang yang membicarakan hal tersebut pun belum tentu benar adanya, karena itu hanya jumlah, bukanlah fakta.

Kemampuan berpikir kritis ini mendorong untuk tidak langsung percaya dengan informasi tersebut dan akan mencari tahu lebih lanjut tentang informasi yang sudah didapatkan. Ketika dihadapkan dengan berpikir kritis, seseorang harus mengesampingkan berpikir otomatis. Sebagai agent of change, mari melatih diri untuk senantiasa berpikir secara kritis agar dapat peka dengan isu atau permasalahan yang terjadi di masyarakat sehingga dapat membentuk karakter “problem solver” bagi diri sendiri dan masyarakat.***

Penulis : Gilang Desta Gumelar
Dirtjen sosmas Himpunan Mahasiswa Keperawatan Stikes Kuningan

Advertisement. Scroll to continue reading.
Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

You May Also Like

Advertisement