KUNINGAN (MASS) – Bertempat di Masjid Putri Pondok Pesantren (Pontren) Husnul Khotimah, Kuningan, ratusan calon pengurus Organisasi Santri Husnul Khotimah (OSHK) Putri mengikuti Latihan Dasar Kepemimpinan Santri (LDKS) pada Selasa (14/7/2026).
Di hari kedua LDKS tersebut, Kiai Mulyadin, Lc., M.H. hadir sebagai pemateri. Ia menyampaikan materi kepemimpinan dengan mengangkat tema sentral perjuangan tokoh shahabiyah (sahabat wanita) Nabi Muhammad SAW, yaitu Nusaibah binti Ka’ab.
Dalam paparannya, Kiai Mulyadin mengulas sejarah kehebatan Nusaibah binti Ka’ab—atau yang dikenal dengan julukan Ummu Umarah. Nusaibah adalah pejuang wanita gigih yang terlibat langsung dalam berbagai peristiwa penting seperti Baiat Aqabah, Perjanjian Hudaibiyah, Perang Hunain, hingga pertempuran melawan Musailamah Al-Kadzab.
“Nusaibah binti Ka’ab dikenal sebagai ‘Perisai Rasulullah SAW’. Pada Perang Uhud, beliau awalnya datang hanya untuk membawa air minum dengan kantong kulit kambing dan mengobati prajurit yang terluka karena latar belakangnya sebagai perawat. Namun, saat barisan muslimin kocar-kacir dan Rasulullah terancam terbunuh, Nusaibah langsung mengambil pedang dan perisai dari prajurit yang syahid, lalu maju ke garis paling depan untuk melindungi Nabi,” urai Kiai Mulyadin menceritakan kisah heroik tersebut.
Begitu luar biasanya eksistensi Nusaibah di medan perang, hingga Rasulullah SAW sampai bersabda: “Ke mana pun aku menoleh pada Perang Uhud, aku melihat Ummu Umarah berperang melindungiku.”
Dari kisah keteladanan legendaris inilah, Mulyadin menjabarkan tiga pilar utama yang wajib diadopsi oleh para pengurus OSHK Putri untuk periode kepengurusan Tahun Pelajaran 2026/2027:
- Totalitas Kontribusi
Belajar dari keteladanan Nusaibah yang bertindak melampaui tugas awalnya sebagai perawat, pengurus OSHK dituntut siap berkontribusi sesuai kebutuhan pondok, bukan berdasarkan zona nyaman pribadi. Pihaknya menegaskan tidak boleh ada kalimat egois seperti “ini bukan tugas saya” atau “bukan bidang saya”. Pengurus harus memiliki inisiatif tinggi lintas bidang tanpa harus selalu menunggu perintah.
- Loyalitas Tanpa Batas
Nusaibah tidak meninggalkan Rasulullah di saat genting. Ketika orang lain mundur karena terpedaya harta rampasan (ghanimah), beliau justru maju. Kiai Mulyadin mengingatkan agar pengurus setia pada visi bersama dan memegang teguh Pakta Integritas, serta membentengi diri dari “panah penghancur organisasi” seperti sikap ego pribadi (haus validasi), baperan, gibah, provokasi, hingga mentalitas kerja minimalis.
- Ketahanan Mental Juang
Nusaibah tetap tegak berdiri di medan laga meski menderita banyak luka fisik yang parah dan melihat putranya sendiri terluka. Kiai Mulyadin menekankan bahwa di tengah beratnya tantangan kelas 11—yang harus menyeimbangkan target nilai akademik (SNBP), hafalan Al-Qur’an, dan padatnya program kerja organisasi—ketangguhan mental adalah kunci. “Orang hebat tidak lahir dari pemanjaan, melainkan dari keberanian menghadapi kesulitan yang beruntun,” imbuhnya.
Acara LDKS yang berlangsung interaktif ini ditutup dengan pembacaan tiga komitmen kepengurusan secara serempak oleh seluruh calon pengurus OSHK Putri. Riuh takbir “Allahu Akbar” pun menggema di dalam Masjid Putri Pontren Husnul Khotimah, menandai kesiapan mental para santriwati untuk menjadi garda terdepan pengabdian dan menjadi ‘perisai kebaikan’ di lingkungan pesantren. (deden/AB)