KUNINGAN (MASS) – Kepala Desa Dukuhdalem, Juhari menjelaskan, lahan yang kini masuk dalam rencana pembangunan pabrik tersebut pada awalnya bukan merupakan lahan pertanian produktif. Menurutnya, sebagian lahan tersebut sebelumnya berupa leuweung atau kawasan yang masih berupa hutan.
“Awalnya lahan itu leuweung atau hutan. Untuk daerah Sindangbarang dan Dukuhdalem itu masuk tanah yang dianggap angker, atau lahan yang paling murah,” ujarnya saat ditemui KuninganMass.com di ruang kerjanya, Senin (28/9/2026).
Menurutnya, kondisi itu membuat nilai tanah pada saat itu relatif rendah. Namun, setelah ada perusahaan yang berminat membeli lahan dengan harga yang lebih tinggi, masyarakat menyambutnya dengan baik.
“Ketika datang perusahaan atau ada yang membeli dengan harga sedemikian rupa, ya masyarakat bersyukur,” katanya.
Ia menyebut harga tanah yang ditawarkan kepada warga cukup bervariasi. Berdasarkan informasi yang diterimanya, terdapat lahan yang dihargai sekitar Rp2,5 juta hingga Rp3 juta, sementara bidang tanah tertentu bisa mencapai Rp20 juta bahkan Rp40 juta.
“Rata-rata ada yang Rp2,5 juta, ada yang Rp3 juta. Variasinya ada yang sampai Rp20 juta dan Rp40 juta, itu yang memang di samping jalan,” jelasnya.
Ia juga membandingkan harga transaksi tersebut dengan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) yang disebutnya berada di kisaran Rp800 ribuan. Karena itu, menurutnya, warga cukup terbuka ketika mendapat tawaran dengan nilai yang lebih tinggi dari NJOP.
“Kalau di NJOP, tanah di situ sekitar Rp800 ribuan. Jadi tidak heran kalau ditawari Rp2,5 juta, masyarakat pada mau,” pungkasnya. (raqib)
