Kontroversi Geothermal Ciremai, Pakar Jelaskan Siklus Air dan Peluang Suhu Dingin Jadi Pemicu Hujan

KUNINGAN (MASS) – Polemik seputar wacana pemanfaatan energi panas bumi atau geothermal di kawasan Gunung Ciremai terus menjadi perbincangan hangat. Kekhawatiran warga mengenai ancaman berkurangnya stok air tanah akibat aktivitas eksplorasi geothermal akhirnya ditanggapi langsung oleh pakar keilmuan.

Pandangan ilmiah dan meluruskan persepsi publik tersebut disampaikan oleh ahli geologi Kabupaten Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, dalam tayangan podcast di YouTube Kuninganmass beberapa hari yang lalu.

Dalam perbincangan tersebut, Jumhari menegaskan secara hukum alam, sumber utama pasokan air bersih yang mengalir dan meresap di kawasan lereng Gunung Ciremai berasal langsung dari curah hujan yang sangat melimpah.

““Siapa yang bisa buat air? awal terlahirnya air itu dari hujan, hujan yang ada di Kuningan itu hujan tertinggi, 2.500 2.000 sampai 1500 milimeter pertahun,” tuturnya.

Air hujan yang turun tersebut sebagian besar meresap ke dalam perut bumi menjadi cadangan air tanah, sementara sisanya mengalir melalui aliran sungai hingga bermuara kembali ke laut.

“Airnya meresap ke bawah dan sisanya mengalir ke laut. Tidak ada satu pun di dunia ini yang bisa membendung itu. Artinya, yang penting itu pengelolaannya saja, bagaimana menempatkan jumlah air yang banyak ini jangan sampai terbuang,” paparnya.

Selain meluruskan masalah ketersediaan air tanah, Jumhari juga menyampaikan analisis menarik mengenai fenomena perubahan suhu udara di sekitar kawasan geothermal. Pelepasan suhu panas bumi ke permukaan secara teknis berpotensi menurunkan suhu udara lokal di area sekitar, yang justru berpeluang memicu peningkatan intensitas curah hujan.

“Pelepasan suhu panas bumi ke permukaan secara teknis berpotensi menurunkan suhu udara lokal di area sekitar akibat dari suhu yang turun di areal itu berpeluang terjadinya curah hujan yang banyak,” pungkasnya. (raqib)