Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Inspiration

Kisah Ta’dzim Mutlaknya Kyai Ahmad Shobari (Kisah Pesantren Pusaka Ciwedus Bagian 2)

KUNINGAN (MASS) – Masa keemasan pondok pesantren Pusaka Ciwedus Timbang Cigandamekar ini, tak lepas dari tokohnya yang ikonik, terutama di generasi keempat, K H Ahmad Shobari.

Pondok yang didirikan Mama Tubagus Kalamudin ini pada abad 17 ini, memang telah melahirkan banyak sekali ulama besar.

Tu Bagus Kalamudin sendiri bukanlah kyai biasa. Ulama yang dikatakan senang memancing itu, merupakan kodi Kesultanan Banten. Hal itu, diceritakan oleh K H Ahmad Mustofa Agil S Kom I, pengasuh pondok saat ini.

Generasi kedua juga sama, Kyai Syeb. Ulama yang satu ini adalah Sultan Banten ke-14.

Kyai Ahmad mengatakan, bahkan data generasi kedua pemimpin pondok, masih ada di Kesultanan Banten.

Disebutkan, Kyai Syueb adalah ulama yang senang menggembala domba, dan membudidayakan ikan.

Generasi ketiga Mama Adro’i. Ulama yang mendidik anaknya, yang merupakan generasi selanjutnya, K H Ahmad Shobari hingga usia 12 tahun.

Sebelum akhirnya berpindah-pindah pondok dan berakhir di pondok Hadrotussyekh Kholil di Bangkalan Madura.

“K H Ahmad Shobari ini, merupakan santri yang menyembunyikan jati diri sebagai cucu Sultan Banten. Tapi sewaktu dititipkan ke syekh Kholil Bangkalan, beliau kaget dan sudah menyadari bahwa Mama Ahmad Shobari ini bukan santri biasa.

Maka disuruhlah, K H Ahmad Shobari ini, untuk menggembala kambing saja, supaya dikembangbiakan dan digemukkan.

Diceritakan, K H Ahmad Shobari menurut saja tanpa banyak tanya. Dirinya menggembala kambing hingga 15-20 tahunan karena Ta’dzim, istilah mengagungkan dalam bahasa santri.

Ta’dzim, biasanya dilakukan oleh seseorang pada kyai, ulama serta kerabatanya, atau orang ynag dituakan karena keilmuan dan kearifannya.

Singkat cerita, diceritakan lagi oleh Kyai Ahmad, bahwa Mama Adroi menjemput anaknya yang dititipkan mengaji selama belasan atau puluhan tahun tersebut.

Kyai Adro’i sudah cukup berumur, dan anak-anak lainnya sudah mengabdi di tempat yang berbeda. Karena itulah, Mama Adro’i, ingin ada anaknya yang mengurus pondok pesantren di Ciwedus.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Kejadian unik terjadi saat penjemputan, Mama Ahmad Shobari muda tak ditemukan di asrama pondok.

Sebelum akhirnya Kyai Kholil Bangkalan ingat, bahwa belasan atau puluhan tahun lalu pernah menugaskan seseorang untuk menggembala kambing.

Seluruh santri dikerahkan untuk menyusulnya ke hutan, dan memang ada disana dengan banyak kambing.

Saat Kyai Kholil menceritakan bahwa kini ayahnya menjemputnya pulang. Kyai Ahmad Shobari sempat menolak, karena ternyata selama 15 tahunan itu, dirinya tidak pernah mengaji sekalipun.

Benar-benar hanya menggembala kambing dan tinggal di hutan, siang dan malam.

Mama Kholil juga sempat sama kagetnya, lalu Beryadoh 3 hari dan mendapat ketetapan hati untuk menguji Kyai Ahmad Shobari.

Muridnya itu, disuguhi air laut dan suruh diminumnya, lalu menanyainya apakah rasanya manis atau tetap asin.

Satu kali diminum, Kyai Ahmad Shobari menyebutnya asin, dua kali juga sama. Lalu sebelum minum yang ketiga.

Mama Kholil bilang, kalau tetap asin akan memenggal kepala K H Ahmad Shobari di depan orang tuanya. Ungkapan ini sebenarnya hanya ujian, apakah KH Ahmad Shobari tetap berani jujur meski sedang ‘tertekan’ dan ‘terancam’.

Namun, setelah meminum yang ketiga kalinya, dirinya tidak menjawab dan memasrahkan lehernya untuk dipenggal.

Alih-alih dipenggal, K H Ahmad Shobari dipeluklah oleh Mama Kholil Bangkalan dan dinyatakan lulus, karena telah mengatakan kejujuran meski taruhannya nyawa sekalipun.

“Sampai nanti setelah mengabdipun, K H Ahmad Shobari terkenal sebagai orang yang menyuarakan kebenaran. Tidak takut apapun. Qul Al Haq, Walau Kana Murron,” imbuhnya.

Setelah itu, K H Ahmad Shobari dan Mama Adro’i dipersilahkan pulang. Mama Kholil menitipkan sebuah shalawat yang harus dibacakan Mama Adro’i saat anaknya tertidur.

Mama Adro’i dan KH Ahmad Shobari pun, berangkat dari Madura ke Kuningan via pelabuhan Cirebon.

Setelah melewati beberapa waktu di perjalanan, akhirnya mereka sampai di Pelabuhan Cirebon. K H Ahmad Shobari disana menangis.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Mama Adro’i menenangkannya dan bertanya kenapa menangis meningalkan pondoknya di Madura.

Ternyata, K H Ahmad Shobari menangis karena telah bermimpi belajar berbagai disiplin ilmu pada nabi Muhammad saw langsung. Dan di mimpinya itu, dia belajar selama 15-20 tahunan.

“Jadi tahun 1869 itu, K H Ahmad Shobari mulai mukim di Ciwedus, dan disana sudah disiapkan istri yakni Hj Fatimah, masih sodara sepupu.

Pada zaman K H Ahmad Shobari inilah Ciwedus dikenal lebih luas lagi karena latar belakang pendidikan Mama Shobari yang mengembala domba di Bangkalan.

KH Ahmad Shobari juga dikenal sebagai orang yang Istiqomah, serta tidak gentar melawan penjajahan Belanda. Beliau wafat di tahun 1916.

Banyak sekali santrinya yang kemudian menjadi ulama besar dan mendirikan pondok.

Pendiri pondok pesantren Kresek, Pesantren Gudang Tasikmalaya, Pesantren Cibeunteur Banjar, Pesantren Arjawinangun hingga Habib dan pendiri PUI merupakan santrinya.

“(Memang keberadaan, red) Pesantren itu, lebih dulu ada di Indonesia, jauh sebelum adanya sekolah seperti sekarang ini,” ungkapnya menegaskan pentingnya keberadaan pondok. (eki)

Advertisement
Advertisement
Advertisement

Perumahan Graha Santoso Ciwaru

You May Also Like

Advertisement