KUNINGAN (MASS) – Meski berlaga di pulau sebrang, tensi panas pasca laga “El Clasico” antara Persib Bandung melawan Persija Jakarta diwarnai aksi kekerasan yang memprihatinkan di Kabupaten Kuningan. Dimana ada anak di bawah umur dilaporkan menjadi korban pengeroyokan oleh oknum suporter. Bahkan yang jadi korban kekerasan diduga ada juga beberapa orang lainnya.
Aktivis sekaligus Bobotoh asal Kuningan, Farel Nurfalah, angkat bicara menanggapi insiden tersebut. Ia sangat menyayangkan tindakan kekerasan yang menyasar anak kecil, apalagi korban diketahui tidak terlibat dalam kegiatan nonton bareng (nobar).
“Sebagai aktivis dan Bobotoh Kuningan, saya sangat menyayangkan adanya tindakan kekerasan terhadap anak yang bahkan tidak ikut nobar,” tuturnya pada Selasa (12/5/2026).
Ia sedikit menjelaskan kronologi kejadian bermula saat korban sedang dalam perjalanan pulang setelah berbelanja sayuran. Di tengah jalan, korban berhenti sejenak untuk membeli bensin dengan mengenakan atribut baju Persib Bandung.
“Anak itu lagi beli bensin sehabis belanja sayuaran dan mau pulang bakai baju Persib dia tidak nobar Persib pas mau pulang ada rombongan suporter Persija datang ke anak bocil dan diserang,” paparnya.
Farel menegaskan sepak bola seharusnya menjadi ajang silaturahmi dan hiburan bagi semua kalangan. Penggunaan kekerasan fisik untuk melampiaskan emosi dalam rivalitas olahraga sebagai tindakan yang sangat tidak dewasa.
“Sepak bola seharusnya jadi ajang silaturahmi dan hiburan, bukan tempat melampiaskan emosi,” tambahnya.
Ia berharap kejadian serupa tidak terulang kembali di masa mendatang. Semua pihak, terutama kelompok suporter, diimbau untuk bisa menahan diri dan tetap menjaga kondusivitas keamanan di wilayah Kabupaten Kuningan.
“Kami berharap kejadian seperti ini tidak terulang lagi dan semua pihak bisa menahan diri serta menjaga kondusivitas di Kabupaten Kuningan Jawa Barat. Semoga korban segera pulih dan mendapat keadilan,” pungkasnya. (raqib)