Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Achmad Nur Hidayat — Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta. (foto: dok. ANH)

Nasional

Jangan Lagi Padamkan Api per Kasus, Saatnya Benahi Desain Kebijakan MBG

KUNINGAN (MASS) – Kepala Badan Gizi Nasional telah menyatakan pembekuan terhadap penyedia pangan siap saji (SPPG) yang melanggar SOP. Ketegasan ini patut diapresiasi, sebab keselamatan anak tidak bisa ditawar.

Namun pertanyaan pertama yang perlu kita ajukan adalah: apakah membekukan satu-dua SPPG cukup untuk menghentikan rangkaian keracunan yang berlangsung lebih dari dua bulan?

Jawaban jujurnya—belum. Pembekuan itu ibarat menarik rem darurat ketika mobil menukik, tetapi tidak memperbaiki sistem rem, tidak menambal ban yang aus, dan tidak mengembalikan rasa aman penumpang.

Kita tidak boleh lagi memadamkan api per kasus.

Yang harus dibetulkan adalah desain kebijakan dan SOP besar—kontrak, data, struktur pengawasan, serta arsitektur kelembagaan—agar Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dipercaya dan benar-benar menghadirkan makan bergizi yang aman.

Mengapa Masalah Ini Berlarut: Arsitektur yang Bocor, Bukan Sekadar Dapur yang Lalai
Keracunan yang berulang lintas wilayah jarang murni karena kelalaian individu.

Pola yang konsisten menandakan kegagalan desain.

Insentif kontrak saat ini terlalu menekankan volume dan harga, bukan keselamatan.

Ketika penyedia SPPG dikejar banyaknya porsi dan rendahnya biaya, tiga hal tak kasatmata—suhu, waktu simpan, dan sanitasi—cenderung dikompromikan padahal di situlah benteng terakhir melawan kontaminasi.

Standar teknis memang tertulis, tetapi kendali lapangan tidak real time.

Formulir checklist bisa ditandatangani sementara makanan melintasi “zona bahaya” 5–60°C terlalu lama.

Pelacakan batch lemah; ketika anak jatuh sakit, butuh waktu berhari-hari untuk mengetahui dari mana bahan berasal, pukul berapa dimasak, siapa yang mengirim, dan sekolah mana saja yang menerima.

Sementara itu, struktur pengawasan terfragmentasi antara Dinas Pendidikan, Dinas Kesehatan, BPOM, pemerintah daerah, sekolah, dan SPPG—tidak ada satu komando operasional yang memegang keputusan cepat.

Pergantian tenaga juru masak/handler yang tinggi tanpa lisensi periodik membuat pengetahuan tentang titik kendali kritis sering berhenti di ruang pelatihan, bukan hidup di dapur.

Analogi Penerbangan: Kita Butuh “Black Box” Pangan, Bukan Sekadar Teguran

Industri penerbangan tidak aman karena pilotnya selalu sempurna, melainkan karena sistemnya didesain untuk mengelola risiko: ada daftar periksa praterbang, perekam data (black box), prosedur darurat, investigasi tuntas dengan tenggat jelas, dan publikasi ringkas agar semua maskapai belajar.

Tidak ada kecelakaan yang diperlakukan sebagai “kasus maskapai A”; semuanya menjadi pelajaran sistemik.

MBG perlu filosofi serupa. Setiap boks makanan harus memiliki jejak digital: suhu inti saat matang minimal 75°C, lama perjalanan, lokasi, dan waktu serah terima terekam oleh thermologger dan QR yang dipindai di sekolah.

Jika data melewati ambang, aplikasi memberi peringatan “no-serve” kepada kepala sekolah.

Ketika ada tiga anak bergejala dalam 24 jam, Incident Command System aktif: stop serve, telusur batch sejenis, amankan sampel simpan 200 gram per menu, uji cepat, dan dalam 72 jam kita sudah memiliki analisis sebab akar serta tindakan korektif yang diumumkan secara ringkas.

Itulah cara mengubah kejadian dari “kasus” menjadi “perbaikan sistem”.

Percepatan Perpres: Sinyal Tepat, Tapi Harus Disertai Transisi, Wewenang, dan Anggaran

Percepatan Perpres Tata Kelola MBG adalah langkah politik yang benar—kita beralih dari imbauan ke mandat.

Namun regulasi hanya kerangka; yang membuatnya bernapas adalah tata laksana.

Perpres harus memuat ketentuan transisi yang tegas: jalur cepat sertifikasi dapur pusat, pengakuan sementara terhadap peralatan minimal yang memenuhi batas aman, serta tenggat kapan seluruh SPPG wajib terhubung ke pelacakan digital.

Delegasi wewenang operasional kepada unit pelaksana—Otoritas MBG atau nomenklatur setara—harus eksplisit, agar keputusan no-serve, recall, dan switch menu berbasis risiko bisa diambil dalam jam, bukan pekan.

Anggaran perlu diberi penandaan khusus untuk keselamatan dan digitalisasi: thermologger, dashboard, pelatihan lisensi tenaga, dan jejaring laboratorium.

Agar lincah tetapi terukur, pasal-pasal kunci diberi sunset review 12 bulan: apa yang macet diperbaiki, apa yang tidak efektif dipangkas.

Kecepatan akan tercapai bila hari pertama Perpres terbit, aturan teknis tiga serangkai juga terbit: standar minimum yang langsung berlaku, mekanisme no-serve nasional, dan rencana 90 hari dengan target mingguan yang bisa diinspeksi publik.

Empat Pilar Desain Ulang: Kontrak, Data, Komando, dan Arsitektur Produksi

Pilar pertama adalah kontrak berbasis keselamatan.

Pembayaran dan perpanjangan kerja disyaratkan oleh indikator keselamatan: nol kasus berat, kepatuhan suhu dan waktu, keterlambatan pengiriman yang rendah, skor audit sanitasi minimal 90 sebagai contoh.

Penyedia yang konsisten hijau memperoleh insentif; yang merah otomatis di-hold sampai koreksi tuntas.

Performance bond dan asuransi tanggung gugat produk menjadi kewajiban sehingga korban memperoleh kompensasi otomatis tanpa tarik ulur.

Pilar kedua adalah data dan pelacakan. Kita menerapkan MBG-Trace: QR per batch dari bahan—olah—kirim—saji; thermologger di setiap cool box

Pilar ketiga adalah struktur pengawasan satu komando.

Otoritas MBG menjadi titik akuntabilitas tunggal dan mengoperasikan ICS 72 jam.

Begitu ada sinyal klaster, batch serupa dihentikan, sampel diamankan, uji cepat dilakukan, dan komunikasi risiko kepada orang tua dilakukan pada hari yang sama.

Publik diberi akses dashboard keselamatan yang menampilkan skor audit, kepatuhan suhu, dan status tindak lanjut.

Pilar keempat adalah arsitektur produksi yang ramah risiko. Kita membangun model hybrid: dapur pusat berlisensi mengolah menu berisiko tinggi, sekolah melakukan finishing dan plating.

Pada hari panas ekstrem atau ketika catatan suhu rapuh, sistem otomatis mengganti menu ke opsi shelf-stable: buah utuh, telur rebus, susu UHT, roti fortifikasi. Gizi terjaga, risiko mikrobiologi ditekan tanpa mengorbankan layanan.

Peran Puskesmas dan UKS: Dari Penonton Menjadi Garda Depan

Melibatkan Puskesmas dan UKS mengubah MBG dari program katering massal menjadi sistem kesehatan masyarakat berbasis data.

UKS menjadi sentinel di sekolah: memindai QR batch, mengukur dan mengunggah suhu penerimaan, memastikan penyajian kurang dari satu jam, menyimpan retained sample 200 gram selama 48 jam, serta mencatat gejala standar.

Puskesmas bertindak sebagai food safety officer wilayah: patroli acak, memverifikasi data logger, melakukan uji cepat ATP, dan berwenang menetapkan no-serve di tempat bila ambang dilanggar.

Data status gizi anak—BB/TB, anemia, absensi karena diare—mengalir dari Puskesmas ke perencanaan menu, sehingga pemerataan gizi berubah dari slogan menjadi operasi lapangan.

Integrasi dengan BMKG dan BPBD memungkinkan kalender risiko gizi-iklim: saat curah hujan tinggi atau gelombang panas, sistem menyarankan peralihan menu yang lebih aman.

Ekosistem Mitra: Regulator, Laboratorium, UMKM, Logistik Dingin, dan Orang Tua
BPOM dan jejaring laboratorium perguruan tinggi atau rumah sakit menjadi penjaga mutu melalui uji mikrobiologi periodik dan proficiency testing.

Dinas Pendidikan dan Dinas Kesehatan kabupaten/kota memastikan kontrak berbasis keselamatan berjalan dan menyediakan budget tagging bagi logger, audit, dan pelatihan. Dinas Ketahanan Pangan dan pembinaan UMKM memasok bahan baku dari pemasok terakreditasi, sementara BUMN atau swasta logistik menyediakan rantai dingin dengan SLA pengiriman maksimal tiga jam. Organisasi profesi—IDI, IDAI, PERSAGI, Persatuan Sanitarian, Ikatan Apoteker—mengembangkan kurikulum lisensi tahunan untuk juru masak, handler, dan driver.

Komite sekolah dan orang tua menjadi mata kedua melalui kanal pengaduan cepat yang terhubung ke ICS. Transparansi menjadi perekat: dashboard publik menampilkan skor keselamatan per SPPG dan sekolah dengan penanda merah-kuning-hijau agar kepercayaan tumbuh kembali.

Rencana 90 Hari: Dari Moratorium Bersyarat ke Uji Tegangan Nasional

MBG Adalah Kontrak Kepercayaan, Bukan Sekadar Program Bantuan
MBG bermakna negara diminta menyediakan makanan dari dapur yang tidak dilihat orang tua pada waktu yang tidak mereka saksikan.

Sebagai gantinya, negara wajib menghadirkan sistem yang lebih disiplin dari dapur rumah: kontrak yang menjadikan keselamatan sebagai satu-satunya cara bertahan, data yang berbicara jujur setiap menit, pengawasan satu komando ketika alarm berbunyi, dan arsitektur penyediaan yang mengakui realitas iklim tropis.

Pembekuan SPPG pelanggar adalah awal yang benar, tapi tidak cukup. Kita harus mengubah permainan dari memadamkan api per kasus menjadi membangun bangunan yang tahan api.

Dengan Perpres yang pro-eksekusi, pelibatan nyata Puskesmas dan UKS, ekosistem mitra yang bertanggung gugat, serta empat pilar desain ulang yang berjalan serempak, niat pemerataan gizi untuk anak bangsa tidak hanya mungkin, tetapi tidak terelakkan. Ketika anak-anak kembali makan tanpa cemas, kita bisa berkata: negara hadir bukan dengan poster, tetapi dengan sistem yang bekerja.***

Achmad Nur Hidayat — Ekonom dan Pakar Kebijakan Publik, UPN Veteran Jakarta

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Trending

You May Also Like

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Pelita Jiwa Mandiri Kasturi, Kabupaten Kuningan, yang baru beroperasi selama tiga minggu, mendapat kunjungan kerja...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, menyarankan pengurasan kolam keramat Balong Girang Cigugur, pasca mati massalnya ikan dewa. Saran tersebut...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Pasca viralnya video siswa “sisihkan” menu MBG di sekolah, Satgas MBG tingkat Kecamatan Ciawigebang Camat R Imam Reafdiantoro M Si, melalui...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Di atas kertas, Makan Bergizi Gratis (MBG) adalah salah satu program paling menjanjikan dalam dunia pendidikan. Gagasannya sederhana, tetapi kuat: memastikan...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah siswa membuang makanan dari program MBG, beredar melalui WhatsApp, Selasa (3/2/2026) ini. Dalam video tersebut, siswa...

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Sejumlah kecamatan di Kabupaten Kuningan hingga kini belum semuanya terlayani Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menanggapi hal tersebut, Ketua Satuan Tugas...

Nasional

JAKARTA (MASS) – Badan Gizi Nasional (BGN) menyiapkan penyesuaian menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) selama bulan Ramadan agar makanan tetap aman, bergizi, dan...

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Hingga saat ini, proses pembuatan SLHS (Sertifikat Laik Higiene Sanitasi) untuk dapur Makanan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan masih belum...

Nasional

BONDOWOSO (MASS) – Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan akan memberikan sanksi tegas berupa penangguhan (suspend) terhadap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang menolak produk...

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Meski rada ketinggalan, ribuan siswa di Kecamatan Hantara nampaknya dalam waktu dekat bisa segera merasakan MBG (Makan Bergizi Gratis). Hal itu...

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Kuningan untuk bulan Ramadhan 2026 masih menunggu arahan resmi dari pusat. Pasalnya, selama bulan...

Nasional

JAKARTA (MASS) – Mendekati Bulan Suci Ramadhan tahun 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) pastikan pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap berjalan dengan sejumlah...

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Dunia pendidikan Indonesia saat ini tengah menghadapi paradoks kesejahteraan yang tajam. Di tengah upaya transformasi birokrasi, muncul anomali sosiologis terkait stratifikasi...

Pendidikan

JAKARTA (MASS) – Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menyasar peserta didik dan kelompok B3 (balita, ibu hamil,...

Headline

JAKARTA (MASS) – Badan Gizi Nasional (BGN) membutuhkan puluhan ribu Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) untuk memperkuat pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG)....

Netizen Mass

KUNINGAN (MASS) – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam APBN 2026 Indonesia menjadi salah satu anggaran terbesar, yaitu mencapai Rp 335 triliun. Program ini...

Nasional

KUNINGAN (MASS) – Kepala Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BKPSDM) Kabupaten Kuningan, Beni Prihayanto MSi, menyampaikan pengangkatan Satuan Pelaksana Program Gizi (SPPG)...

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Segala permasalahan terkait distribusi dan kualitas menu atau dugaan penyimpangan lainnya soal program MBG (Makan Bergizi Gratis) di Kabupaten Kuningan kini...

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Kepala Bidang Kewirausahaan Pemberdayaan Profesi (KPP) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kuningan, Oman Rohman, menyoroti ketimpangan kebijakan pemerintah terkait kesejahteraan tenaga...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Pada rapat internal Tim Satgas Percepatan Penyelenggaraan Program MBG di ruang rapat Bank BJB, Jl Siliwangi, Senin (12/1/2026). Kepala Satgas MBG...

Desa

KUNINGAN (MASS) – Pemerintah Kabupaten Kuningan melalui Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) menggelar rapat internal Tim Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Penyelenggaraan Program Makan Bergizi...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Beredar menu kering Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diduga berjamur di wilayah Desa Sindangjawa, Kecamatan Cibingbin. Temuan tersebut menimbulkan perhatian...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Meski dikatakan MBG akan terus berjalan saat libur sekolah, beberapa SPPG alias dapur MBG, mengumumkan henti operasional sementara jelang akhir tahun...

Ekonomi

KUNINGAN (MASS) – Aas Siti Nurasyah salah satu kader KAMMI Kuningan mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat dalam mencari pekerjaan. Namun, kondisi ini juga memperlihatkan ketimpangan...

Headline

Ketua Satgas P3MBG Kabupaten Kuningan, U Kusmana MSi, menekankan pentingnya kelengkapan dan ketepatan data administrasi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) guna mendukung kelancaran pelaksanaan...

Kesehatan

KUNINGAN (MASS) – Bupati Kuningan Dr H Dian Rachmat Yanuar M Si, menyampaikan dengan adanya Perpres 115 tahun 2025, membuat Pemda lebih terlibat dalam...