KUNINGAN (MASS) – Peringatan Hari Buruh Internasional kembali menjadi momentum reflektif bagi berbagai elemen bangsa dalam menyoroti kondisi ketenagakerjaan di Indonesia. Hal tersebut disampaikan oleh mantan Gubernur FPST UM Kuningan, Izzatun Nawawi, yang menilai tantangan dunia kerja di era digital semakin kompleks.
Menurut Izzatun, perkembangan teknologi membawa dampak signifikan terhadap dunia kerja, mulai dari ketidakpastian status pekerja hingga ancaman otomatisasi. Selain itu, ia menilai ekonomi digital belum sepenuhnya memberikan keberpihakan kepada para pekerja.
“Hari Buruh tidak hanya menjadi simbol peringatan tahunan, tetapi juga menjadi ruang perjuangan kolektif untuk mendorong kebijakan yang berpihak pada pekerja serta memastikan terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya, Jumat (1/5/2026).
Ia juga menegaskan perjuangan buruh bukan hanya menjadi tanggung jawab pekerja semata, melainkan tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa sebagai kelompok intelektual.
“Sebagai mahasiswa dan bagian dari elemen intelektual bangsa, saya melihat perjuangan buruh hari ini bukan hanya milik pekerja semata, tetapi menjadi tanggung jawab bersama dalam mengawal arah kebijakan negara agar berpihak kepada kesejahteraan rakyat,” lanjutnya.
Izzatun turut menyerukan pentingnya melawan praktik-praktik yang merugikan kedaulatan ekonomi nasional.
“Lawan imperialisme, tuntut keadilan untuk mewujudkan salah satu amanah Pancasila, yaitu kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” tegasnya.
Ia menekankan perjuangan buruh merupakan bagian penting dari pembangunan bangsa yang adil dan berkelanjutan. Oleh karena itu, sinergi antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat dinilai menjadi kunci dalam menciptakan sistem ketenagakerjaan yang lebih manusiawi.
“Sinergi antara pemerintah, mahasiswa, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan sistem ketenagakerjaan yang lebih manusiawi dan berkeadilan,” katanya.
Lebih lanjut, ia menyebut mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen perubahan untuk mengawal isu-isu ketenagakerjaan, menjembatani aspirasi rakyat, serta memastikan nilai-nilai Pancasila benar-benar diterapkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Izzatun menyampaikan apresiasi kepada seluruh pekerja di Indonesia atas kontribusi mereka. “Hormat setinggi-tingginya untuk mereka yang tetap bekerja dalam diam demi kehidupan yang lebih baik,” ujarnya.
Ia berharap momentum Hari Buruh 2026 tidak berhenti sebagai peringatan seremonial semata, tetapi menjadi langkah nyata menuju perubahan yang lebih baik bagi kesejahteraan pekerja di Indonesia. (didin)