10 Ton Ikan KJA “Mabuk”, Harga Ikan Hanya Rp3.000

KUNINGAN (Mass)- Cuaca  ekstrim yang melanda perairan Waduk Darma sejak tangal 28 Mei membuat 10 ton ikan yang berada di kolam jaring apung(KJA) “mabuk”. Ikan yang mabuk membuat para petani dibuat repot mengangkut ikan tersebut ke darat.

Mereka berusaha sekuat tenaga ikan tersebut di bawa ke darat dan dijual ke warga. Meski harganya hanya Rp3.000-Rp5.000 per kilo gram petani tidak mempermasalahkan yang terpenting bisa menghasilkan uang.

Namun sayang tidak semua keinginan petani terwujud. Karena banyak ikan mabok tersebut mati dan tidak terangkut sehingga mengambang di KJA.

“Cuaca sudah tidak bagus sejak tanggal 28 Mei. Meski petani sekuat tenaga menggunakan pompa air ternyata tidak mampu dan akhirnya ikan pun mabok. Kejadian pertama di KJA Paninggaran Kamis malam dan menyebar ke semua KJA termasuk yang ada di Jagara,” ucap Koordinator  Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Perairan Umum Jawa Barat Sambas  kepada kuninganmass.com, Jumat sore.

Sambas menerangkan, petani menahan tidak mau menjual karena pada awal puasa biasanya masih banyak makanan sehingga tingkat konsumsi warga rendah. Mereka berencana menjual pada saat menjelang lebaran.

Pada saat ini harga normal ikan mas dijual Rp21 ribu. Namun dengan kondisi seperiti ini maka ikan yang ada akan dijual Rp17 ribu. Petani memilih menjual meski untungnya sedikit dari pada tidak ada untung sama sekali atau bahkan rugi karena ikan mati.

Hingga Jumat malam lanjut dia, para petani terus berjaga. Pasalnya, sudah hal lumrah ketika terjadi ikan mabuk maka akan terus menjalar. Salah satu obat mujarab adalah cuaca kembali norma, tidak seperti sekarang ini hujan terus menerus.

Terpisah,  Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas Perairan Umum Jawa Barat Umar Hidayat menyebutkan, akibat kejadian ini maka petani sudah dipastikan rugi. Padahal modal yang digunakan kebanuyakan pinjaman dari perbankan

Diterangkan, kematian ikan karena akan masuk musim pancaroba.  Dan ini rutin terjadi setiap tahun. Menurut istilah akibat efek umbalan atau upwelilng. Fenomena itu  adalah fenomena alam, dimana terjadi penaikan lapisan air bagian bawah ke permukaan. Biasanya terjadi secara sporadis di titik-titik tertentu.

Menurut mantan Kades Jagara itu, kejadian seperti ini dalam setahun bisa dua kali yakni antara bulan Juni dan Januari. Musibah ini bagi petani merupakan sebuah resiko dan terjadi setiap tahun.

Sekedar informasi terjadi penangkalan di waduk merupakan salah satu faktor. Selain itu endapan pakan yang sudah lama terjadi. Faktor lainnya adalah jumlah KJA yang melebihi ambang batas . Hingga sampai kapan petani harus seperti ini dan petani menunggu langkah nyata dari pemerintah  terkait hal ini . (agus)

 

 

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com