KUNINGAN (MASS) – Dinas Perikanan dan Peternakan (Diskanak) Kabupaten Kuningan, menyarankan pengurasan kolam keramat Balong Girang Cigugur, pasca mati massalnya ikan dewa.
Saran tersebut disampaikan langsung Kepala Diskanak Dr A Taufik Rohman, dalam rakor lintas sektor di Kolam Keramat Balong Girang Cigugur, Rabu (4/2/2026) kemarin.
Di hadapan Bupati, Sekda, dinas terkait, perwakilan PDAU, perwakilan PAM Kuningan, perwakilan BBWS serta TNGC, disampaikan beberapa rekomendasi teknis, merespon ratusan ikan dewa yang mati dalam kurun waktu sepekan terakhir.
“Dari catatan kami dan balai karantina itu bahwa memang tata kelola air ini yang perlu kita inikan (kita perbaiki),” kata mantan Kepala BPKAD tersebut, setelah mengungkap gejala lain seperti cacing jangkar.
Karenanya, lanjut Taufik, yang direkomendasikan Diskanak saat ini, sama persis dengan yang direkomendasikan Balai Karantina, yakni dilakukan pengurasan kolam.
“Tapi yang jadi masalah penyelematan ikan yang masih hidupnya kemana? Makanya nanti kami kalo bioplog dan lainnya, masukan kabid, kolam sebelah sana akan ditutup pasir dan terpal, itu disterilkan sebelum (kolam) dikeringkan, ikan dipindah kesana. Kita pilah mana sehat mana kurang sehat, ada tracing,” sebutnya.
Kenapa akhirnya yang direkomendasi adalah pengurasan, Taufik menjelaskan karena rekomendasi pengobatan di kolam dianggap tidak akan efektif. Misalnya preventif, tidak akan bisa karena prosesnya terjadi. Atau penaburan garam (obat), akan butuh berapa ton untuk area kolam yang luas.
“Maka kita pilah-pilah (ikan) rekomendasinya tata kelola air yang baik dan dikuras dulu,” ujarnya sembari mengaku dapat informasi, kolam sudah 30 tahun tidak dikuras.
Dalam kesempatan itu, ia juga berharap tidak ada virus yang ekspor dari eksternal, misalnya melalui ikan (non endemik) yang dibawa masuk ke kolam dan ternyata membawa virus.
Ia juga mengatakan, kalo sampai kejadiannya meluas, kejadian ini akan ditetapkan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB). Penanganannya akan lebih ekstra lagi melibatkan berbagai pihak.
Dengan populasi ikan dewa sekitar 1000 ekor di Balong Gitang Cigugur, pihaknya mendorong agar kejadian ini bisa segera dihentikan. Apalagi faktor yang sudah diketahuinya jelas, ada bakteri, ada jamur dan kualitas air sangat jelek.
Dan saat ini, diketahui juga ada ikan endemik lain yang hidup di Balong Cigugur seperti ikan nilem, nila, dan koi. Saat itulah, Diskanak juga mengimbau soal penyebaran ikan harus dilakukan dengan langkah yang tepat.
“Kalo ada penyebaran ikan harus ada karantina dulu, jamgan sampai menyebar endemiknya terganggu. Harus diclearkan dulu,” pesannya.
Dalam berita sebelumnya, Kabid Perikanan Diskanak Denny Rianto, juga sempat menyampaikan prinsip dasar keberlangsungan hidup ikan.
Secara umum, ikan sangat bergantunh pada kualitas air dan kecukupan nutrisi. Bisa dibilang, pada manusia hal ini diibaratkan menu bergizi yang kini identik dengan program MBG.
“Jika kualitas air terjada dan pakan tercukupi, maka daya tahan tubuh ikan akan kuat sehingga tidak mudah terserang penyakit,” jelasnya. (eki)







