Hikmah Melunakkan Hati dengan Pujian

KUNINGAN (MASS) – Di tengah derasnya arus komentar, penilaian, dan koreksi di media sosial maupun di kehidupan nyata, kita sering lupa satu hal penting: tujuan kita menegur.

Pondok Pesantren Husnul Khotimah Kuningan melalui Hikmatul Yaum hari ini mengingatkan kita dengan nasihat yang sangat dalam
“Kritik kebanyakan mengeraskan hati. Pujian di hal kecil melunakkan hati. Pilih jadi tukang obat, bukan tukang vonis”.

  1. Kritik Kebanyakan, Hati Jadi Batu.
    Kritik memang perlu. Tapi ketika yang keluar dari lisan kita hanya salah, kurang, dan cela… lama-lama hati orang yang kita kritik akan tertutup.
    Bukan nasihatnya yang masuk, tapi pertahanan dirinya yang naik.
    Ibarat obat yang terlalu pahit, pasien justru menolak untuk minum.

Rasulullah SAW adalah teladan. Beliau menegur dengan cara yang menjaga kehormatan. Jarang sekali beliau berkata “Kenapa kamu melakukan ini?”. Beliau lebih sering berkata “Ada apa dengan suatu kaum yang…”

  1. Pujian di Hal Kecil, Kunci Membuka Hati.
    Sebaliknya, pujian di hal kecil punya kekuatan luar biasa.
    “MasyaAllah tulisanmu rapi”
    “Terima kasih ya sudah bantu”
    “Anak sholeh, rajin ngajinya”

Kalimat sederhana itu melunakkan hati. Saat hati sudah lunak, nasihat 10x lipat lebih mudah masuk. Karena orang merasa dihargai dulu, baru kemudian dibimbing.

  1. Pilih Peranmu: Tukang Obat atau Tukang Vonis?.
    Tukang vonis tugasnya hanya mencari salah, menghakimi, dan menjatuhkan. Setelah memvonis, selesai. Hubungan rusak.
    Tukang obat tugasnya menyembuhkan. Dia jujur bilang ada penyakitnya, tapi juga kasih resep, kasih semangat, dan temani proses sembuhnya.

Dakwah dan tarbiyah butuh “tukang obat”. Guru butuh jadi tukang obat. Orang tua butuh jadi tukang obat. Teman butuh jadi tukang obat.

Sebagaimana pesan inti dari pesantren berbasis dakwah dan tarbiyah ini: mendidik bukan dengan mengeras, tapi dengan menyentuh hati.

Mari muhasabah hari ini.
Sebelum kita mengetik komentar, sebelum kita menegur anak, santri, atau pasangan… tanya dulu:
“Apa niatku? Mau menyembuhkan, atau mau menang?”

Kalau mau menyembuhkan, maka mulailah dengan 1 pujian. Baru kemudian 1 perbaikan.

Semoga Allah jadikan kita orang-orang yang lisannya menjadi obat, bukan luka.

Penulis : Imam Nur Suharno / Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat