Saptonan dan Panahan Masih Didominasi Wisatawan Lokal

KUNINGAN (MASS)- Saptonan merupakan tradisi ketangkasan yang melegenda di Kabupaten Kuningan. Meski begitu tradisi ini yang menyedot ribuan penonton itu masih didominasi pononton lokal.

Padahal, seni tradisi ini terbilang unik dan hanya ada di Kuningan. Pemerintah sangat berharap dengan adanya Bandara Iternasional Jawa Barat di Majalengka memberikan dampak positif.

Tentu ini menjadi tantangan khususnya bagi Disporapar Kuningan. Saptonan digelar setiap tanggal 1 September di Oprn Space Gallery usai rapat paripurna istimewa.

“Harus ditunjang dengan promosi yang kuat agar wisatawan  lokal dan wisawatan asing mau datang. Tuh lihat mayoritas warga kita yang hadir, mungkin banyak yang bosan datang sehingga jumlahnya warga lokal datang tidak sebanyak tahun kemari,” ujar Wawan Kurniawan kepada kuninganmass.com.

Ia berharap tahun depan ada tim kreatif sehingga acara tidak berjalan menoton. Saptonan dan Panahan sendiri bisa menjadi daya tarik wisatawan untuk datang ke Kuningan selama mau beronovasi.

Dari pantauan kuningamasss.com, selain lomba memasukan tombak ke titik sasaran yang berada dibawah  ember yang digantung yang menarik penonton. Tapi juga berebut seba menjadi hal yang ditunggu.

Warga akan berebut mengambil seba yang diserahan oleh lima eks kewadanaan kepada sang raja (bupati). Berburu seba menjadi kebahagian tersendiri bagi warga meski tahun ini jumlah seba tidak terlalu banyak.

Bupati Kuningan mengatakan, kegiatan saptonan dan panahan merupakan budaya lokal yang sudah berjalan sejak jaman dulu. Sekarang budaya ini menjadi agenda tahunan yang dilaksanakan dalam rangka  memeriahkan  peringatan  Hari Jadi ke-520  Kuningan.

Pada jaman Kerajaan  kegiatan ini dilakukan untuk menguji kemampuan para prajurit. Dengan digelar rutin maka diharapan akan menjadi daya tarik juga bagi wisatawan lokal maupun  mancanegara.

“Kuningan bukan hanya kaya dengan sumber daya alam namun kaya juga dengan budaya. Sebelum pelaksnaan dilakukan helaran budaya dari 5 Exs kewadanan,”ungkapnya.

Sementara itu Koordinator Pelaksana Toto sekaligus Ketua Per-Dokar menerangkan, kemampuan para penunggang kuda untuk menjadi juara tidak mudah. Hal ini dibutuhkan  pengetahuan, keterampilan dan keseimbangan menunggangi kuda. Dan lebih menarik lagi memiliki kedekatan dengan kudanya tersebut.

Ia menyebutkan, jumlah peserta sebanyak 22 orang.  Adapun yang menjadi sang juara mereka yang mampu memasuki tombak ke titik sasaran yang berada dibawah ember yang diisi air.

Konon katanya bahwa air tersebut berasal dari 7 sumur yang dikumpulkan dari beberapa titik mata air yang ada di Kuningan. (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com