KUNINGAN (MASS) – Turunnya KDM ke Kuningan berefek jangka panjang. Berawal dari kisruh pemanfaatan air, kini malah merembet ke wacana geothermal di kawasan Ciremai yang dulu sempat digagalkan.
Wacana geothermal ini menyeruak kembali lantaran kebutuhan air untuk energi terbarukan itu sangat banyak. Rabu (28/1/2026) tadi, materi tersebut masuk topik bahasan rapat internal Komisi 2 DPRD Kuningan.
“Iya betul tadi kami, komisi 2, menggelar rapat internal guna menentukan sikap. Alhamdulillah kita kompak. Hampir semua hadir. Hanya satu anggota yang berhalangan,” ujar Ketua Komisi 2, Jajang Jana, kala dikonfirmasi Rabu sore.
Dia menegaskan, pada persoalan yang berkembang belakangan ini pihaknya berupaya keras untuk melihat dari berbagai sisi. Bukan hanya tok pemanfaatan air, melainkan pula mengkaji sisi pariwisata, lingkungan dan juga geothermal.
“Kalau (wacana, red) geothermal biar wawasan kita terbuka. Biar tahu saja. Dulu juga kan pernah muncul wacana ini,” kata politisi asal Cilebak itu.
Menurutnya, itulah yang menjadi sikap komisi 2. kaitan dengan apa yang telah disampaikan pimpinan DPRD, pihaknya akan menunggu. Termasuk menyangkut fantastisnya BOP (biaya operasional) PAM Tirta Kamuning yang mencapai 60 miliar rupiah.
“Nah, nanti akan kita dukung dengan data-data hasil RDP komisi 2. Jadi, setelah rapat internal ini kita akan menggelar RDP dengan mengundang para pihak terkait seperti BTNGC, Disporapar, DLHK,” sebutnya.
Semua hasil RDP, imbuh Jajang, akan disampaikan kepada pimpinan dewan bahkan fraksi-fraksi. Komisinya ingin agar masyarakat memeroleh informasi yang utuh, perpaduan antara info dari luar dan hasil kajian komisi 2 sehingga bisa ditarik benang merah.
“Kita juga akan lakukan KDD (kunjungan lapangan) untuk memastikan data dan fakta di lapangan. Mesti hati-hati. Kita ingin masalah terurai secara lebih teliti. InsyaAllah sebelum puasa sudah ada titik terang,” tukasnya. (deden)







