KUNINGAN (MASS) – Ahli geologi Kuningan, Dr H Jumhari, ST, MT, menjelaskan pemanfaatan energi panas bumi atau geotermal butuh air banyak hanya pada tahap awal pengoperasian. Namun nantinya menggunakan sirkulasi dan injeksi kembali, sebagian besar air dapat diproses untuk digunakan lagi dan hanya butuh air baru sekitar 10 hingga 20 persen.
Penjelasan tersebut disampaikan Jumhari dalam sebuah podcast yang baru-baru ini tayang di YouTube kuninganmass. Menurutnya proses kerja geotermal seperti memanaskan air menggunakan tungku. Panas dari dalam bumi dimanfaatkan untuk menghasilkan uap, kemudian uap itu dialirkan menuju turbin.
“Panasnya itu dipakai seperti tungku air iya dibakar kan gitu jadi panas, tungku airnya kan, jadi uap ketika uap terjadi pergerakan uap,” tuturnya.
Ia melanjutkan, uap yang bergerak akan dialirkan untuk menggerakkan turbin. Pergerakan turbin tersebut kemudian dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik.
“Ketika uap terjadi pergerakan, pergerakan uap itu dimasukkan ke turbin, maka jadi listrik namanya,” ujarnya.
Jumhari juga menjelaskan kekhawatiran masyarakat mengenai kebutuhan air dalam pengembangan geotermal perlu dipahami berdasarkan tahapan operasionalnya. Pada tahap awal, kebutuhan air memang dapat cukup besar untuk mendukung proses pengoperasian sistem.
“Mengenai kekhawatiran tentang air di awal-awal iya memang dibutuhkan air yang cukup besar gitu di awal-awal,” tambahnya.
Namun, setelah sistem sirkulasi berjalan, air yang digunakan tidak seluruhnya harus diganti dengan air baru. Air hasil kondensasi tersebut kemudian dipisahkan dari gas yang tidak terkondensasi. Selanjutnya, air dapat dikembalikan ke dalam reservoir melalui sumur injeksi sesuai dengan rancangan sistem pembangkit.
“Ketika sudah terjadi sirkulasi uap, dikondensasi dipisahkan antara angin dengan airnya antara air dengan anginnya dikondensasi namanya airnya dikembalikan diinjeksikan ke sumur injeksi anginnya dibuang anginnya dibuang maka sirkulasi air akan terus berjalan gitu,” paparnya.
Jumhari menyebut kebutuhan tambahan itu dapat berada pada kisaran 10 hingga 20 persen. Namun, angka tersebut merupakan gambaran yang disampaikan dalam podcast dan tidak dapat dianggap sebagai angka baku untuk semua pembangkit geotermal.
“Tentu tidak utuh pasti butuh efisiensi iya, efisiensi itu dalam arti misalnya 10 sampai 20% menghilang misalnya kan gitu airnya tuh karena ketika terjadi kondensasi itu tida utuh jadi air semua pasti ada yang terbawa oleh angin gitu,” pungkasnya. (raqib)
