Gelar Mimbar Kebangsaan, MPM STAIKu Komitmen Jaga Nurani Demokrasi, Mahasiswa Bukan Komoditas Politik

KUNINGAN (MASS) – MPM STAI Kuningan baru saja menggelar Mimbar Kebangsaan pada Minggu (12/4/2026) kemarin. Kegiatan ini diinisiasi agar dapat menjadi bekal para pengurus organisasi mahasiswa dalam menjalankan roda organisasi.

Mengusung tajuk “Menjaga Nurani Demokrasi”, kegiatan ini diharapkan mendorong mahasiswa untuk meningkatkan literasi terhadap situasi sekitar. Dalam kegiatan tersebut, pengurus Ormawa staiku membahas tentang fenomena fanatisme politik praktis di kalangan mahasiswa.

“Ini adalah potret yang nyata di media sosial bahkan situasi sekitar pun menunjukkan keterlibatan mahasiswa dalam politik praktis. Dengan adanya dinamika kontemporer seperti echo chamber yang secara aktif memperkuat fanatisme dan membatasi perspektif objektif, serta begitu kencangnya isu sara dan polarisasi sosial sebagai instrumen utama untuk konsolidasi massa,” papar Fadlan, salah satu pengisi acara yang juga

“Ini tentu menjadi tantangan untuk mahasiswa seperti fragmentasi internal yang membuat mahasiswa semakin mudah terpecah belah karna afiliasi politik individu sampai tekanan akademik menjadi tantangan tersendiri,” imbuhnya lagi.

Dengan dilakukannya kegiatan mimbar kebangsaan ini, lanjut Fadlan, harapan besarnya adalah mahasiswa dapat kembali ke akar intelektualitasnya, menjaga independensi organisasi, optimalisasi digital yang cerdas, mengedepankan politik nilai bukan politik figur, menghidupkan gerakan advokasi sosial, menghidupkan etika politik mahasiswa serta memanfaatkan medsos dengan bijak untuk edukasi politik yang sehat.

Senada, Rektor STAI Kuningan Dr.Dedy Setiawan, ME yang turut hadir dalam acara tersebut menegaskan bahwa mahasiswa memegang peran krusial dalam dinamika sosial dan kenegaraan. Integritas dan komitmen terhadap nilai nilai luhur, lanjutnya menjadi fondasi utama di dalam pergerakan.

“Mahasiswa itu moral force bukan political commodity yang harus memikirkan etika di atas kepentingan jangka pendek, dan seorang yang objektif terhadap kekuasaan,” ujarnya.

“Ini adalah sebuah manifesto mahasiswa, mahasiswa harus menjadi jembatan bangsa bukan pemecah belah dan mahasiswa harus berpikir jangka panjang yang berorientasi pada masa depan bangsa, bukan kesenangan sesaat,” tambahnya di akhir. (eki)