KUNINGAN (MASS) – Situasi gejolak perang antara Iran dan Israel serta sekutunya semakin memanas dan berdampak signifikan terhadap kondisi ekonomi global, termasuk pasar Indonesia. Hal ini membuat banyak pengamat ekonomi, termasuk Agung Adiyatna asal Kuningan, mengamati dampaknya pada investasi di dalam negeri dan nilai tukar rupiah.
Agung menyebutkan situasi dunia yang penuh ketegangan ini sangat berpengaruh pada pasar saham. Hal ini menunjukkan investor mulai mencari alternatif investasi yang lebih aman di saat ketidakpastian tinggi seperti emas dan bitcoin.
“Kalau kondisi seperti ini, sangat berpengaruh. Saham cenderung turun, sementara harga emas dan bitcoin justru mengalami kenaikan,” ungkapnya saat diwawancara kuninganmass.com Rabu (4/3/2026).
Lebih lanjut, Agung menjelaskan dalam waktu dekat, Indonesia juga akan menghadapi tekanan inflasi. Ia memprediksi dalam tiga minggu ke depan, diperkirakan inflasi akan meningkat akibat meningkatnya permintaan menjelang lebaran.
“Selain itu, ada kemungkinan inflasi akibat kelangkaan bahan bakar dan gas elpiji karena situasi perang yang sedang berlangsung,” tambahnya.
Kondisi ini membuat harga barang di pasar berpotensi naik, menjadikan pengelolaan keuangan pribadi semakin penting. Agung merekomendasikan agar masyarakat lebih berhati-hati dalam berinvestasi.
“Saat ini, lebih aman untuk berinvestasi di reksadana pasar uang atau bahkan menabung daripada mengambil risiko di saham,” jelasnya.
Fenomena saat ini semakin pelik dengan berbagai faktor lain seperti fluktuasi di MSCI, free float, dan kepemilikan saham yang rendah. Aditya juga menyoroti pergantian ketua Bursa Efek Indonesia (BEI) dan OJK yang bisa menyebabkan ketidakpastian di pasar. Semua ini menambah beban psikologis bagi investor yang mungkin sudah rugi jutaan dari saham.
“Bagi masyarakat yang baru ingin berinvestasi, sebaiknya pelajari terlebih dahulu situasi pasar dan diversifikasi investasi. Jangan hanya terfokus pada satu jenis aset,” pungkasnya. (raqib)
















