Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass
Eva Karmila

Netizen Mass

Di Balik Keluhuran Tradisi, Patriarki Tetap Menentukan Arah Hidup Perempuan

KUNINGAN (MASS) – Dalam beberapa keluarga, anak perempuan didorong untuk cepat menikah karena dianggap “akhirnya sumur dapur kasur ”, sedangkan anak laki-laki didorong untuk berpendidikan tinggi mungkin karena dianggap calon kepala keluarga. Yang menjadi masalah adalah perempuan tidak memiliki kendali penuh atas pilihan hidupnya karena aturan tradisi masih dikendalikan oleh sistem patriarki.

Patriarki bekerja secara halus melalui kebiasaan sehari-hari perempuan dibebani tanggung jawab domestik, pendapatnya tidak menjadi penentu, dan mimpinya dianggap bisa ditunda atau dikorbankan. Karena dibungkus oleh nilai budaya dan adat, ketidakadilan ini sering dianggap wajar, bahkan jarang disadari sebagai masalah. Pada akhirnya, tradisi tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga melanggengkan batasan terhadap ruang gerak perempuan. Perempuan dihadapkan pada dilema antara menaati adat atau memperjuangkan pilihan hidupnya sendiri, dengan risiko dianggap melawan keluarga dan budaya.

Bagi saya, menghormati tradisi tidak seharusnya berarti menghilangkan suara perempuan. Tradisi yang benar-benar luhur adalah tradisi yang memberi ruang adil bagi semua, bukan yang hanya menguntungkan satu pihak, tradisi memang penting untuk dijaga, tapi bukan berarti semua yang diwariskan harus diterima tanpa dipikirkan ulang. Masalahnya, banyak tradisi masih menempatkan perempuan sebagai pihak yang harus menyesuaikan diri, sementara laki-laki memegang kendali. Ini membuat perempuan seolah tidak punya banyak pilihan atas hidupnya sendiri.

Sudah jelas dalam Islam menekankan bahwa laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki kewajiban dan peluang untuk menuntut ilmu serta berbuat kebaikan. Sayangnya, tradisi patriarkal sering membatasi perempuan untuk berkembang, seolah mimpi dan pendidikannya bisa ditunda.

Menurut saya, ini lebih merupakan hasil budaya, bukan ajaran Islam itu sendiri. Sebagai mana dalam al Qur’an  tentang Kesetaraan antara laki-laki dan perempuan QS. An-Nisa ayat 1

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan pasangannya, dan dari keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak.”

Sebagai perempuan, penting untuk menyadari bahwa kita memiliki hak dan martabat yang sama dengan laki-laki. Patriarki mungkin hadir dalam tradisi dan kebiasaan sehari-hari, tapi itu bukan sesuatu yang tidak bisa dipertanyakan atau diubah. Maka dari itu kita harus memahami bahwa pengorbanan dan kepatuhan yang dipuji selama ini tidak selalu berarti ikhlas kadang itu muncul karena tidak ada ruang untuk bersuara.

Harapannya, perempuan bisa mulai mengambil keputusan atas hidupnya sendiri, sekecil apapun. Misalnya, memilih pendidikan, pekerjaan, atau cara hidup yang sesuai dengan keinginan dan kemampuan sendiri, bukan hanya mengikuti tradisi yang membatasi, belajar menegaskan hak secara baik, menghormati tradisi tapi juga berani mengkritik bagian-bagian yang merugikan perempuan.***

Penulis : Eva Karmila (Peserta Latihan Khusus Kohati (LKK) HMI Cabang (P) Tanah Laut 2025, Asal Cabang Cirebon Jawa Barat)

Advertisement
Advertisement

Berita Terbaru

Advertisement

Trending

You May Also Like