Connect with us

Hi, what are you looking for?

Kuningan Mass

Headline

Cerpen: Meraih Cita dan Cinta-Nya

KUNINGAN (MASS)- Awan biru menyambut hari yang baru. Hembusan angin di pagi hari meniup debu jalanan yang penuh polusi.

Burung-burung pun berkicau ria seakan bernyanyi. Ditemani dedaunan yang ikut menari bersama. Kelopak mawar tadinya terkuncup kini telah merekah. Semua riuk seolah meniadakan sepi di pagi hari.

Namaku Widia Rindi Antika dan biasa dipanggil Rindi. Aku adalah seorang pemenang. Kelak aku ingin menjadi seorang pengusaha sukses dan salah satu pekerja di bidang kesehatan yang dapat menebar manfaat bagi masyarakat sekitar.

Aku percaya Allah telah menganugrahkanku kehidupan yang indah dan kemampuan yang luar biasa. Oleh karena itu, masalah yang ku hadapi akan segera ku selesaikan, karena esok adalah hari baru untukku.

Hari dimana aku akan berjuang sampai titik keringatku yang terakhir demi menggapai impian-impianku.

“Bismillaahirrahmaanirrahiim. Ya Allah, jadikanlah hamba seseorang yang bisa menebar manfaat untuk sesama. Mudahkanlah hamba dalam mengejar segala cita dan cinta-Mu ya Allah. Berikanlah jalan serta pilihan terbaik untuk hamba-Mu ini menuju kesuksesan dunia akhirat kelak dalam dekapan keridhaan. Aamiin Allahumma Aamiin.” Ucapku dalam merayu kepada Sang maha pencipta segalanya ku lakukan sebagai rutinitas ritualku dalam membuka hari yang baru.

Tujuan utamaku adalah ridha Allah. Maka ketika aku terjatuh, aku berjanji akan berdiri lagi. Ketika aku gagal, aku akan mencobanya kembali. Dan ketika aku kalah, aku tidak akan pernah berhenti dan menyerah. Aku percaya bahwa hidup adalah suatu proses belajar yang perlu diperjuangkan dan tidak mengenal kata tua.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Waktu terus berjalan tanpa henti dan tak akan terulangi. Hari demi hari ku lalui dengan lika-liku kehidupan yang kelabu.

Dimana aku banyak mendapatkan tantangan kehidupan yang harus kuhadapi. Ayah pernah berucap padaku bahwa, “orang sukses yang kita lihat sekarang, pasti dahulu mereka sempat merasakan kepahitan dalam hidupnya. Karena mencapai kesuksesan itu bukanlah suatu hal yang instan Nak.

Belajar, pahami, serta rintislah tahapan demi tahapanmu dalam meraih kesuksesan tersebut dimulai dari sekarang juga! Jangan sampai kamu tunda, karena belum tentu ada hari esok dan kesempatan yang sama! Jangan takut gagal selama kamu berada di jalan yang benar Nak!”

Suatu hari, aku berjalan sendiri mengelilingi suatu kampung yang berada tak jauh dari kediaman kakekku. Aku membawa satu bungkus nasi untuk ku makan ketika aku merasa lapar.

Dalam jalan kesendirian tersebut, ku pandang bangunan rumah-rumah yang kulalui, ku perhatikan raut wajah orang-orang yang berada di sekeliling, serta ku bidik berbagai aktivitas yang mereka lakukan pada saat itu.

Aku melihat ada seorang ibu menggendong anaknya yang menangis terus menerus. Aku pun mendekati mereka dan bertanya.

“Kenapa anaknya menangis Bu?” tatap penasaranku kepada mereka.

“Anak ibu belum makan Nak dari pagi, karena Ibu belum mendapatkan uang untuk membeli beras hari ini,” mengelus kepala sang anak.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Kalo boleh saya tahu, memang pekerjaan Ibu apa?” tanyaku kembali pada ibu.

“Ibu tidak bekerja Nak, suami ibu yang bekerja mencari nafkah sebagai buruh tani di kampung sebelah. Itu pun mendapat upah hanya setiap panen saja,” sahut ibu.

“Adek jangan nangis ya, ini teteh bawa nasi bungkus untuk adek. Terima ya Bu.” Usapku kepada anak yang menangis sembari memberikan nasi bungkus yang ku bawa.

“Alhamdulillah, sekarang anak ibu bisa makan. Terimakasih ya Nak. Semoga kelak kamu bisa menjadi orang yang sukses ya Nak.”

Senyum mengembang terlihat pada wajahnya dan tatapan mata yang mulai berkaca melihat ke arahku.

“Aamiin Allahumma Aamiin. Terimakasih kembali bu. Mari bu, permisi.”

Aku pun melanjutkan perjalananku kembali untuk mengelilingi kampung tersebut. Setelah ku amati, ternyata sebagian besar dari mereka berprofesi sebagai buruh tani, pedagang kecil, dan ada pula yang menjadi pengangguran.

Dari situ aku memetik pelajaran, aku termenung membayangkan bila kelak aku berada di posisi tersebut. Makan seadanya tanpa memikirkan makanan itu sehat atau tidak, para ibu yang dirasa mempunyai banyak waktu luang seakan dipergunakan untuk merumpi cerita baru setiap orang.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Mungkin bila aku berada di posisi meraka aku pun melakukan yang sama halnya. Aku yang terlalu banyak waktu luang sehingga dipergunakan untuk merumpi cerita banyak orang, itu salah satu yang terbayang olehku pada saat itu.

Miris rasanya dan ingin sekali aku membawa perubahan dan membantu mereka, namun aku pun tak tau apa yang harus aku bantu pada saat itu.

Aku mulai bertekad bahwa kelak aku harus menjadi orang yang sukses. Aku harus menjadi salah satu orang yang sibuk mengejar cita tanpa meninggalkan kewajibanku sebagai seorang hamba, dan bisa menjadi seseorang yang bisa menebar kebermanfaatan kepada banyak orang.

Seusai perjalananku mengelilingi kampung tersebut, aku mulai belajar merancang masa depanku kelak. Ku tuliskan mimpi serta perjalanan yang harus kulalui dalam secarik kertas yang akan ku pampang di tembok kamarku sebagai pengingat serta penyemangat dalam meraihnya.

Satu persatu kujalankan sesuai target yang ada pada rancangan mimpiku. Salah satu targetku pada masa itu yaitu masuk kuliah di salah satu perguruan tinggi negeri.

Belajar tentang apa-apa yang harus aku pelajari untuk bisa lolos seleksi telah ku usahakan semaksimal mungkin. Hingga tiba saatnya ujian yang harus ku jalankan.

Soal demi soal ku isi dengan keyakinan itu adalah jawaban yang benar, namun masih banyak juga jawaban dari pertanyaan yang masih ku ragukan.

Selesailah aku mengerjakannaya dan tinggal menunggu hasil. Aku yakin hasil yang aku dapatkan nanti adalah hasil yang terbaik.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Hari demi hari terus berjalan maju, hingga akhirnya tiba saat-saat yang menegangkan bagiku yaitu pengumuman lolos tidaknya di perguruan tinggi negeri yang aku inginkan.

1 jam, 1 menit, hingga akhirnya 1 detik hasil pengumuman pun dapat kulihat dan ternyata hasilnya cukup membuatku sedih pada saat itu.

Aku gagal tes masuk ke perguruan tinggi yang dimaksud. Sempat ku menangis, introfeksi diri apa yang kurang dari usahaku.

Ku rasa usahaku sudah maksimal diiringi do’a yang terus ku panjatkan untuk memohon pilihan terbaik dari-Nya. Aku harus bangkit dan mencobanya kembali pada tes kedua yaitu melalui tes jalur mandiri yang diadakan bulan depan nanti, (ucapku pada diri).

Lembar demi lembar buku soal ku baca dan ku isi. Ya, memang aku rasa masih banyak sekali soal yang belum ku mengerti bagaimana cara pengerjaannya.

Karena soal yang ku kerjakan itu ternyata tingkatnya lebih tinggi, lebih sulit dibandingkan dengan soal-soal yang kupelajari pada saat tes pertama masuk perguruan tinggi negeri tersebut.

Cukup lelah yang kurasakan, namun ku bertekad untuk tidak menyerah. Ku coba usahakan semaksimal mungkin kembali dalam mempelajarinya.

Waktu tes tinggal menghitung hari. Raga ini semakin bergemetar dan tegang yang kurasakan pada saat itu. Tiba saatnya tes kembali dilaksanakan.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Ku kerjakan kembali soal-soal yang ada didepan mataku ini dengan tatapan serius. Soal demi soal ku kerjakan dan akhirnya habis waktu pengerjaan.

Kertas soal dan jawaban pun dikumpulkan kembali kepada petugas yang ada pada ruangan tersebut. Lolos tidaknya dari hasil tes tersebut akan diumumkan 2 pekan kemudian.

Sembari menunggu waktu pengumuman itu tiba, ibu dan ayah merencanakan waktu berlibur bersama keluarga dengan tujuan membuat rileks keadaan raga dan hati dalam penatnya aktivitas yang sudah dijalani sehingga memunculkan semangat baru yang diharapkan nanti.

Alhamdulillah, ini merupakan suatu nikmat yang telah Allah berikan dan aku dapatkan. Perbanyaklah bersyukur wahai diri!

Waktu 2 pekan terasa cepat bagiku, hingga tiba saatnya pengumuman kembali ku dapat. Hasil dari pengumuman menyatakan bahwa aku tidak lolos kembali dalam tes tersebut.

Tangisku pada saat itu mulai pecah, betapa menyakitkan dalam sebuah kegagalan yang terulang. Aku termenung kembali memikirkan langkah yang harus kutuju selanjutnya.

Harapan untuk masuk ke perguruan tinggi yang ku maksud sudah habis membuka kesempatan di tahun tersebut. Kemana aku harus melanjutkan cita-cita kuliahku sekarang? Tanyaku dalam hati.

Di suatu malam yang sunyi aku terbangun dari tidur. Ku pergi untuk berwudhu, ku amparkan sajadah merahku, lalu kucurahkan segala keluh kesahku kepada Allah yang maha segala tahu.

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Ya Allah, hamba sadar bahwa hamba hanyalah manusia biasa yang banyak ketidaktahuan akan segala hal yang akan terjadi. Hamba sadar bahwa Engkau lah yang lebih tau tentangku dan segala yang terbaik untukku. Berikanlah hamba kekuatan dalam menerima keputusan dari-Mu. Berikanlah hamba jalan menuju kesuksesan yang Engkau ridhai. Aamiin Allahumma Aamiin.” Salah satu ungkapku merayu kepada Tuhanku.

Mata ini semakin berat kurasa, hingga ku terlelap tidur di atas hamparan sajadah merahku. Salah satu petunjuk Allah pun hadir dalam mimpiku.

Aku mendapatkan mimpi yang intinya aku akan masuk ke perguruan tinggi swasta yang ada di kota kelahiranku. Dalam mimpi tersebut juga aku merasakan kebahagiaan meraih jalan cita dan cintaku kepada-Nya semakin merekat.

Akhirnya aku terbangun dari tidur dan menyadari bahwa aku telah bemimpi dengan mimpi yang sangat indah.

Kulihat sinar mentari menyinari pagi seolah memberi semangat padaku tuk jalani kisah hidupku yang baru.

Aku pun bercengkrama dengan ayah dan ibu meminta saran dan solusi tempat kuliah yang harus ku tuju. Ayah dan ibu ternyata menyarankanku untuk kuliah di tempat terdekat pula, lebih tepatnya di Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Kuningan yang memang lokasinya tak jauh dari kediamanku saat ini.

Aku yakin, ridha Allah terdapat pada ridhanya kedua orang tua. Aku semakin yakin untuk melanjutkan kuliahku di perguruan tinggi swasta tersebut. Dan tak lama kemudian aku pun mendaftarkan diri di jurusan S1 Kesehatan Masyarakat.

Persyaratan demi persyaratan masuk kuliah ku siapkan dan telah ku kirimkan. Aku mendaftarkan diri melalui jalur prestasi sehingga tidak terlalu banyak tes yang harus kulalaui.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Sembari menunggu pengumuman lolos tidaknya tiba, ku isi hari demi hariku dengan salah satu hobiku yaitu memasak. Berbagai makanan ku coba sajikan untuk keluarga kecilku.

Semakin sering ku memasak, munculah keinginanku untuk

menghasilkan suatu produk makanan yang bisa coba ku jual. Aku meminta izin dan do’a kepada kedua orang tuaku untuk memulai usaha produk makananku.

“Ayah, Ibu aku ingin mulai merintis usaha dari sekarng. Apakah boleh?” menatap lembut wajah orang tua.

“Kamu ingin merintis usaha apa nak?” Tegas ayah.

“Rindi ingin mulai menjual produk makanan yang Rindi buat, Ayah,” sambil menunduk.

“Bagus nak, Ayah dan Ibu izinkan dan kami pasti akan selalu mendo’akanmu Nak. Benarkan Bu?” ucap Ayah dengan wajah penuh harap dan memberikan kepercayaan padaku.

“Iya Ayah,” sahut Ibu dengan senyum manisnya

Advertisement. Scroll to continue reading.

“Alhamdulillah, terimakasih Ayah, Ibu. Rindi akan berusaha semaksimal mungkin dalam menjalankan usaha produk makanan ini,” tatap haru kepada kedua orang tuaku.

Orang tuaku merestui, maka mulailah aku dalam merintis usaha tersebut. Dalam menjalankan usaha produk makanan tersebut memanglah tak mudah kujalani.

Berbagai ujian silih berganti menyapaku. Ada orang yang memesan dan setelah ku buatkan malah tak jadi dan seolah menghilang.

Ada pula pemesanan yang aku antarkan, namun ongkos kirim tak sesuai yang ku tentukan, dan masih banyak lagi masalah yang kuhadapi pada saat itu.

Sempat ingin ku akhiri usaha produk makanan tersebut, namun orang tua kembali menguatkan untuk terus coba kulanjutkan.

Salah satu pembelajaran besar yang ku dapat adalah betapa sulitnya mencari uang pada saat itu dan berusaha untuk tidak menghamburkan uang yang Allah berikan melalui orang kepadaku.

Semangatku kembali berkobar, tuk wujudkan cita-cita yang ku impikan. Aku mulai mengkoreksi kesalahanku dalam menjalankan usaha makanan tersebut.

Hingga akhirnya sedikit demi sedikit mulai meningkat ke arah yang lebih baik. Banyak orang yang berdatangan untuk memesan produk makanan yang ku buat sehingga memancingku untuk menjalin kerja sama dengan orang lain dalam pembuatan pesanan produk makanan. Akhirnya produkku memiliki label nama yaitu ‘Rindia Kitchen’.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Tiba saatnya pengumuman lolos tidaknya di perguruan tinggi swasta yang kutuju. Alhamdulillah, ternyata aku dinyatakan lolos seleksi dan bisa memulai pembelajaran di bulan depan. Aku bersyukur dan yakin bahwa ini adalah pilihan terbaik dari Allah sebagai jalanku menuju kesuksesan meraih cita dan cinta-Nya. Ku niatkan jalan kuliahku sebagai bentuk ibadahku pada-Nya, sehingga kuharap ridho kan ku dapatkan dari-Nya.

1 tahun ku lalui masa kuliah, 2 tahun, hingga 4 tahun kurang ku selesaikan masa kuliahku. Alhamdulillah, aku mendapat predikat comlaude di kampus.

Suatu kebanggaan dan hadiah terindah untukku dan keluarga yang patut di syukuri. Hingga akhirnya aku pun dipercaya untuk menjadi salah satu kepala rumah sakit yang ada di kota kelahiranku.

Untuk buah dari hasil perjuanganku dalam merintis usaha produk makanan yaitu produk ‘Rindia Kitchen’, aku bisa membangun toko besar yang cukup terkenal dan memiliki banyak cabang di Indonesia.

Banyak pula orang-orang yang bekerja di toko tersebut. Aku bersyukur karena bisa membuka lapangan pekerjaan lebih luas untuk banyak orang di sekelilingku.

Di usiaku yang ke-24 tahun, aku dipertemukan dengan jodoh

impianku melalui jalan ta’aruf dan melangsungkan suatu ikatan halal nan sakral pernikahan.

Suamiku adalah seorang yang sholeh, pekerja keras, dan setia padaku. Kami mempunyai misi yang sama untuk menjalani hidup dalam mencapai keridhoan dari-Nya.

Advertisement. Scroll to continue reading.

Pada tahun 2026 aku bersama keluarga besarku menjalankan ibadah umroh bersama dan pada saat itu pula Allah telah memberiku anugrah yang luar biasa yaitu kelahiran seorang anak laki-laki tampan nan sholeh sebagai pelengkap dalam keluarga keciku.

Setiap ujian yang telah ku lalui, selalu ada hikmah yang dapat ku petik. Selama aku mau berusaha dengan giat dan mendekatkan diri kepada Sang maha pemberi segalanya, maka tak ada yang mustahil dalam meraih apa pun yang aku inginkan.

Jadikanlah Ridho Allah sebagai tujuan dalam meraih segala cita-cita, maka cinta dari-Nya pun akan ku dapatkan.

Karya: Widia Rindi Antika

~SELESAI~

BIOGRAFI PENULIS

Judul Cerpen : Meraih Cita dan Cinta-Nya

Nama : Widia Rindi Antika

Advertisement. Scroll to continue reading.

TTL : Kuningan, 5 September 2000

Agama : Islam

Status : Mahasiswi

Alamat : Perum Korpri Cigintung, Blok A RT.11

RW.04 Kuningan Jawa Barat.

Kode Pos : 45517

Phone : 089606868033

IG : @widiarindiantika

Advertisement. Scroll to continue reading.

Click to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Advertisement
Advertisement
Advertisement

You May Also Like

Government

KUNINGAN (MASS) –  Naik dan naik terus naik kasus positif di Kabupaten Kuningan. Kondisi tidak bisa dihindari selama warga masih abai terhadap protokola kesehatan....

Business

KUNINGAN (MASS) – Bagi kalian yang mungkin butuh kertas atau berbagai jenis ATK, baik untuk keperluan komersil atau keperluan pribadi, tempat yang satu ini...

Headline

KUNINGAN (MASS) – Dua rumah warga yang berada di kampung Cijambu Dusun Puhun Desa/Kecamatan Subang dilaporkan ‘bengkah’ atau tanah bergerak (tanah terbelah) Hal tersebut,...

Headline

KUNINGAN (MASS) – PLN ULP Kuningan pada Kamis (15/4/2021) berencana melakukan pemadam listrik dibeberapa titik. Pemadamann dilakukan karena PLN akan melaksanakan pemeliharaan jaringan dan...

Advertisement