Keripik Iteung Sudah Tembus Bangladesh

CIBINGBIN (Mass) – Baru 2 bulan berjalan, produksi Keripik Keladi Iteung di Cibingbin memperlihatkan kemajuan. Usaha Kecil Menengah (UKM) asli putra daerah tersebut sudah bisa menembus Negara Bangladesh.

“Keripik ini terbuat dari ubi talas. Sebenarnya ini cemilan tempo dulu tapi dengan rasa kekinian. Ada berbagai rasa, seperti rasa ayam bawang, barbekyu, jagung bakar, balado, sapi panggang dan ada pula rasa original,” terang Ny Erni, sang pelaku UMK.

Dengan proses yang tanpa bahan pengawet, Erni menjual ke konsumen dengan kemasan menarik. Bukan hanya itu, dengan hanya merogoh kocek Rp5.000, konsumen dapat merasakan kerenyahan dan kegurihan Keripik Iteung.

“Di pekarangan saudara kita tanam ubi talas super jumbo. Talas yang kita gunakan tidak sembarangan. Umurnya harus lebih dari 10 bulan. Proses pengupasan, pencucian sampai perendamannya pun mesti apik agar tidak membuat gatal,” tutur Erni yang kerap disapa ibu Evan tersebut.

Produksi keripik ini masih di rumah dengan alamat Rt 02 Rw 02 Dusun Manis Parenca Desa/Kecamatan Cibingbin. Dalam memroduksi cemilan tersebut ia dibantu suaminya, Wandi. Ibu beranak dua ini ingin memasarkan produknya itu ke swalayan-swalayan baik di Kuningan maupun luar Kuningan.

“Sekarang ini kita isi ke toko-toko kecil di wilayah Cibingbin. Banyak juga yang datang langsung ke rumah. Pernah kemarin ada teman yang kerja di Bangladesh membelinya,” ujar Erni.

Kendati pasaran masih di wilayah Cibingbin, namun permintaan konsumen cukup tinggi. Produksinya kini perhari sudah mencapai antara 20 kg sampai 30 kg. Ia sangat bersyukur apabila pemerintah daerah turut membantu usaha kecilnya itu.

“Sebagai masyarakat kecil, kami mendirikan UKM ini dengan modal yang minim. Kami berharap sih Disperindag atau Dinas Koperasi UKM melirik UKM seperti kami ini dengan bantuan modal atau berupa fasilitas agar usaha kami lebih maju,” harapnya.

Upaya pengembangan usaha terus ia lakukan agar pangsa pasarnya lebih luas. Sekarang ini, Erni beserta suaminya tengah mengurus perijinan (P-IRT) ke instansi terkait agar lebih leluasa memasarkan.

“Sekarang kami belum merekrut karyawan. Karena produksi 20-30 kg masih bisa ditangani oleh kami berdua. Insya Allah kalau produksinya sudah banyak, usaha kami ini dapat menyerap lapangan pekerjaan,” ucap Erni. (deden)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com