Didesak Mundur, Ini Jawaban Direktur PDAM

KUNINGAN (MASS) – Ada desakan mundur dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Kuningan kepada Direktur PDAM Deni Erlanda karena dinilai gagal memberikan pelayanan kepada pelanggan, langsung  mendadapat tanggapan dari yang bersangkutan.

Menurut Deni, salah besar kalau ada yang menilai PDAM tidak memberikan layanan maksimal kepada pelanggan. Diakuinya  karena musim kemarau debit air berkurang, tapi pihaknya memberikan solusi lain kepada pelanggan.

“Sehari kita sediakan 90 tanki untuk memenuhi beberapa pelanggan yang air tidak maksimal. Bukan hanya konsumen masyarakat biasa pun kita bantu. Terus dimana yang disebut gagal memberikan layanan terbaik?” tandas mantan anggota DPRD Kuningan itu kepada kuninganmass.com, Selasa (19/11/2019).

Pihaknya pun selama ini terus menambah mata air agar bisa memberikan layanan maksimal kepada konsumen. Sebagai bukti belum lama ini sudah membeli mata air di Kelurahan Cipari Kecamatan Cigugur  kepada pihak kelurahan.

Sumber mata air yang PDAM beli lanjut Deni,  menghasilkan 27 liter air/detik. Sumber mata air baru ini bisa melayani konsumen baru sebanyak 2.000 sambungan. Hal ini yang terus dilakukan oleh pihaknya untuk memberikan layanan terbaik.

“Harus diketahui oleh masyarakat luas. Memang benar di Kuningan banyak sumber mata air. Tapi, kebanyakan di wilayah utara karena dibawah lereng gunung Ciremai,” jelasnya.

Banyak pertanyaan besar kenapa Cirebon air melimpah dari Kuningan. Sedangkan Kuningan banyak kekeringan. Hal itu karena letak geografis dimana air pasti mengalir ke daerah yang lebih rendah.

“Air Paniis itu dibangun jaman Belanda dan kerjasamanya adalah antara pemerintah dengan pemerintah. Selama ini tidak dikelola PDAM tapi hanya ada kompensasi pertahun ke Pemda Kuningan dan itu pun plat,” tandasnya.

Bisa saja Kuningan memanfaatkan air yang melimpah di wilayah utara, tapi biaya yang dikeluarkan lebih besar. Baik membeli pipa, alat untuk menarik air ke atas karena posisinya dibawah. Ini yang menjadi pertimbangan sehingga harus dipahami oleh semua pihak.

“Kita memanfaatkan 14 titik mata air dan dua pengolahan. Meski ada mata air tapi oleh pihak desa tidak diberika sehingga  kita tidak bisa memaksa,” tandasnya.

Terkait masalah pemberian PAD masih kecil, Deni menerangkan, konsumen PDAM 99 persen adalah rumah tangga. Berarti tarifnya adalah tarif rumah tangga. Bagaimana PAD mau besar?  Bisa saja tarifnya dinaikan, tapi apakah mereka mau?

“Perlu diketahui di PDAM-PDAM lain punya niaga besar dan pabrik besar yang mungkin bisa ditarif lebih mahal, tapi di Kuningan kan tidak ada . Ini  juga harus dipahami,” jelasnya.

Kalau buka-bukaan lanjutnya, sejak dirinya menjabat Direktur dari tahun 2013 PDAM mengalami peningkatan. Pada tahun 2012 posisi PDAM adalah rugi Rp1,2 Milir. Untuk saat ini PDAM mampu menyetor laba Rp3,7 milar. Untuk target 2020 sendiri Rp4 miliar.

“Kita terus bekerja maksimal agar laba yang disetor terus meningkat. Untuk kesejahtraan pegawai pun kita terus tingkatkan. Jangan lupa kita juga sudah lunasi hutang Rp11,5 miliar. Ini hasil kerja keras karena kalau tidak bisa menutupi bisa kolaps. (agus)

error: Hak Cipta Berita Milik Kuninganmass.com