Bukan Kurang Rezeki, Hukuman Terberat Seorang Muslim Adalah Tak Mampu Qiyamul Lail

KUNINGAN (MASS) – Tidak selalu hukuman atas dosa seorang hamba berupa berkurangnya rezeki, kesulitan dalam pekerjaan, atau persoalan kehidupan lainnya. Ada hukuman yang jauh lebih berat bagi seorang muslim, yaitu ketika dirinya tidak lagi mampu merasakan nikmat beribadah dan tidak memiliki kekuatan untuk bangun menunaikan qiyamul lail.

Seorang muslim perlu waspada ketika mulai kehilangan kenikmatan dalam beribadah. Sebab, ketika ibadah hanya dilakukan sebatas kewajiban tanpa menghadirkan rasa nikmat dan kedekatan kepada Allah, hal tersebut dapat menjadi tanda yang perlu direnungkan.

Salah satu bentuk teguran yang perlu sangat diwaspadai adalah ketika kita tidak mampu menghidupkan malamnya dengan ibadah. Kemampuan untuk bangun di malam hari dan bermunajat kepada Allah SWT merupakan sebuah nikmat.

Karena itu, ketika seorang muslim terus-menerus kehilangan kemampuan tersebut, kondisi itu semestinya tidak dianggap biasa. Ia perlu melakukan introspeksi dan memperbanyak istighfar.

Terdapat hubungan yang kuat antara dosa dan berbagai teguran yang dialami seseorang. Seorang muslim hendaknya tidak hanya mencari sebab lahiriah dari setiap persoalan, tetapi juga berani bertanya kepada dirinya sendiri: “Apa yang harus saya perbaiki dalam hubungan saya dengan Allah? Harus ada istighfar.

Mari kita tidak hanya menjalankan amanah dakwah secara profesional, tetapi juga memperkuat bekal spiritual. Kita sebagai bagian dari dakwah dan tarbiyah membutuhkan energi untuk membangun kedekatan diri dengan Allah SWT.

Keteladanan menjadi bagian penting dalam dakwah. Mengajak kepada kebaikan harus dimulai dari upaya memperbaiki diri sendiri, termasuk menjaga ibadah wajib dan memperbanyak amalan sunnah.

Amalan-amalan yang terlihat ringan justru dapat menjadi pintu bagi datangnya berbagai kebaikan. Sebaliknya, ketika seseorang sudah merasa berat melakukan amalan sunnah, kondisi tersebut perlu menjadi bahan evaluasi agar tidak semakin jauh dari Allah SWT.

Ketahuilah bahwa ukuran keberhasilan seorang muslim bukan hanya terlihat dari pencapaian duniawi. Lebih dari itu, keberhasilan juga tercermin dari kemampuan menjaga hubungan dengan Allah, menikmati ibadah, dan memiliki kerinduan untuk bermunajat kepada-Nya.

Untuk itu, kita harus memperbanyak muhasabah, istighfar, dan menjaga qiyamul lail sebagai bagian dari upaya memperkuat spiritualitas dalam menjalankan amanah dakwah dan tarbiyah.***

Penulis : Imam Nur Suharno
Kepala Divisi Humas dan Dakwah Pesantren Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat