KUNINGAN (MASS) – Arunika, restoran bertema Jepang yang berlokasi di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, menjadikan budidaya maggot sebagai proyek percontohan (pilot project) pengolahan limbah organik restoran menjadi peluang ekonomi bernilai tambah. Inisiatif ini sekaligus mendorong pengelolaan sampah berkelanjutan, pertanian terintegrasi, dan penguatan kemandirian pangan masyarakat.
Manajemen Arunika sekaligus Konsultan Bisnis, Pengabdian Masyarakat, Pengolahan Sampah, Pertanian Berkelanjutan, dan Urban Farming, Heny Hidayati, menjelaskan pengembangan budidaya maggot merupakan bagian dari komitmen perusahaan terhadap pelestarian lingkungan.
“Arunika sangat menjaga lingkungan dan juga kelestarian alam. Mungkin ini akan menjawab isu-isu yang kemarin itu, bahwa sebenarnya kami sudah memiliki perencanaan. Hanya saja, perencanaan itu membutuhkan proses,” ujar Heny, Rabu (28/10/2026).
Menurut Heny, pengelolaan dimulai dari limbah dapur restoran yang diolah menggunakan sistem Black Soldier Fly (BSF), yakni larva lalat tentara hitam yang dikenal sebagai maggot dan mampu membantu menguraikan sampah organik.
Bagi Arunika, maggot bukan sekadar solusi untuk mengurangi limbah makanan. Hasil pengolahannya juga menjadi bagian dari ekosistem pertanian dan peternakan yang dirancang saling terhubung.
“Konsep kami adalah integrated farming atau pertanian berkelanjutan, terintegrasi. Artinya, setiap produk itu akan terus berkelanjutan. Satu putaran akan membentuk ekosistem yang terintegrasi,” jelasnya.
Dalam penerapannya, maggot dimanfaatkan sebagai sumber pakan untuk peternakan, termasuk ayam petelur dan ayam kampung. Sementara itu, sisa pengolahan maggot yang dikenal sebagai kasgot dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman sayuran dan buah-buahan.
Dari pola ini, Arunika berupaya membangun siklus produksi yang saling mendukung. Limbah organik restoran diolah menjadi maggot, maggot dimanfaatkan untuk peternakan, sedangkan kasgot digunakan untuk mendukung produktivitas tanaman.
Hasil dari sektor pertanian dan peternakan selanjutnya diharapkan dapat kembali mendukung siklus pengolahan organik. Dengan demikian, volume sampah yang harus dibuang dapat ditekan dan material yang sebelumnya dianggap tidak bernilai berpotensi menghasilkan manfaat ekonomi baru.
“Dari usaha food and beverage saja sudah memberikan peluang atau lapangan kerja. Dari sampah pun kami ingin memberikan lapangan pekerjaan juga. Kalau kita berpikir positif dan mau mengikuti prosesnya, insyaallah ini akan menjadi pilot project yang memberikan dampak luar biasa,” kata Heny.
Meski pengolahan limbah organik mulai dikembangkan secara mandiri, Arunika mengakui bahwa pengelolaan sampah anorganik masih membutuhkan tahapan lanjutan.
Untuk saat ini, sampah anorganik, terutama yang berbahan plastik, masih dikelola dengan melibatkan pihak kedua. Heny menyebutkan, ke depan pihaknya ingin mengembangkan pemanfaatan sampah anorganik agar dapat kembali menjadi produk yang memiliki nilai guna.
Menurutnya, sampah plastik berpotensi diolah menjadi berbagai produk, seperti paving block, batako, meja, maupun barang kerajinan, melalui proses pengolahan yang sesuai dan tanpa pembakaran terbuka.
Langkah tersebut menjadi bagian dari rencana Arunika untuk memperluas praktik ekonomi sirkular, yaitu pendekatan yang berupaya mempertahankan nilai guna material melalui pemanfaatan kembali dan pengolahan limbah.
Heny mengatakan, kawasan yang dikelola Arunika saat ini juga diproyeksikan menjadi laboratorium pengembangan pertanian berkelanjutan. Dari proses tersebut, muncul gagasan untuk mengembangkan arboretum yang cakupannya lebih luas, dengan memanfaatkan potensi kawasan Palutungan sebagai salah satu destinasi wisata di Kabupaten Kuningan.
Ia berharap inisiatif tersebut tidak berhenti sebagai program internal perusahaan, tetapi dapat dikembangkan menjadi model yang memberi manfaat bagi masyarakat sekitar.
Menurut Heny, Kabupaten Kuningan memiliki potensi besar untuk mengembangkan ekosistem pangan mandiri. Dengan cakupan 32 kecamatan dan 361 desa, pengembangan potensi lokal dinilai dapat membuka peluang ekonomi baru apabila disertai pendampingan, pengelolaan yang tepat, dan keterlibatan masyarakat.
“Kami memiliki visi agar masyarakat tidak terus bergantung kepada pihak luar, tetapi bisa menggali potensi dari dalam sendiri dan membangun ekosistem mandiri pangan. Saya berharap pemerintah bisa melihat potensi ini sebagai peluang. Kita bisa menghasilkan dari dalam sendiri, meskipun memang membutuhkan pendampingan,” ungkapnya.
Arunika berencana memulai pendampingan masyarakat dari Kecamatan Cigugur sebagai langkah awal sebelum menjajaki pengembangan yang lebih luas. Melalui pendekatan tersebut, pengolahan limbah diharapkan tidak hanya menjadi upaya menjaga lingkungan, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan masyarakat dan menciptakan nilai ekonomi dari sumber daya lokal.
Inisiatif budidaya maggot ini menempatkan pengelolaan sampah sebagai bagian dari rantai produksi yang lebih luas. Dengan menghubungkan restoran, peternakan, dan pertanian, Arunika berupaya menunjukkan bahwa limbah organik dapat menjadi sumber daya produktif sekaligus pintu masuk bagi pengembangan ekonomi sirkular dan kemandirian pangan di Kabupaten Kuningan. (didin)
