Mengisi Hari, Jadi Pengrajin ‘Doran’ Pacul dan Jual Hasil Tani

KUNINGAN (MASS) – Mungkin dunia perkakas di masa kini sudah maju. Meski begitu, peralatan pertanian tetap membutuhkan perkakas tradisional seperti cangkul, golok, arit, dan perkakas lainnya.

Hal itulah yang membuat Abah Jura Wijaya semangat membuat gagang perkakas. Seperti pada Senin (1/5/2020) siang, ketika Abah Jura ditemui dikediamannya Dusun Puhun Desa Subang Kecamatan Subang Kuningan.

Abah Jura, sedang merapihkan pekerjaannya membuat ‘Doran Pacul’, dikenal juga sebagai gagang pacul, pegangan cangkul.

“Ngisi kakosongan bae a, daripada nganggur di bumi,” ujarnya pada kuninganmass.com siang itu.


Abah Jura menyebut, menjual cangkul lengkap dengan dorannya di kisaran harga Rp65 ribu-Rp70 ribu. Dalam sehari, dirinya mengaku bisa membuat dua sampai tiga doran saja.

“Tina kayu mahoni, johar, dahan peuteuy selong, mun bahasa sunda namah pelending,” terangnya dengan bahasa Sunda saat ditanyai bahan pembuatan doran.


Selain membuat doran, Abah Jura juga membuat pegangan perkakas lain, seperti gagang arit, gagang golok dan gagang lainya.


“Icalan orea oge a, TSP, obat-obatan, cau, pokokna hasil tani,” imbuhnya.


Abah Jura sendiri, mulai menampung dan menjual hasil pertanian belum lama ini. Dulunya, Abah Jura hanya memiliki warung kecil saja.

Di lingkungan sekitar, pertanian memang masih banyak digeluti masyarakat. Kebanyakan, warga disana mengolah sawah dan kebun sendiri yang tidak terlalu luas dan untuk memenuhi kebutuhan pribadi.

Adanya penampung hasil tani seperti Abah Jura ini, membantu bagi warga sekitar yang kebingungan menjual hasil tani dalam skala kecil.

“Mudah-mudahan mah aya nu bisa ngabantosan lah, utamana mah permodalan,” ucapnya dengan senyum lebar. (eki)