BMKG Kertajati Beberkan Pemicu Hujan Deras di Kuningan Baru-baru Ini, Tumpukan Fenomena Atmosfer Skala Lokal

KUNINGAN(MASS) – Turunnya hujan dengan intensitas sedang hingga lebat yang mengguyur wilayah Kabupaten Kuningan dan sekitarnya dalam beberapa hari terakhir akhirnya terjawab. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan kondisi tersebut dipicu oleh dinamika atmosfer serta intervensi modifikasi cuaca.

Penjelasan teknis mengenai fenomena alam tersebut dipaparkan langsung oleh Prakirawan BMKG Stasion Meteorologi Kertajati Majalengka, Tri Yulianto, ia membeberkan pembentukan awan hujan di wilayah Jawa Barat, khususnya Kabupaten Kuningan, terjadi akibat akumulasi beberapa fenomena atmosfer skala regional dan lokal.

“Hujan yang terjadi beberapa waktu lalu, karena terdapat pertumbuhan awan hujan aktif di wilayah Jawa Barat termasuk Kuningan. Kondisi tersebut disebabkan beberapa fenomena atmosfer dalam skala regional dan lokal,” tuturnya saat diwawancara Kuninganmass.com  Senin (2/11/2026).

Faktor-faktor alam yang saling mendukung tersebut membuat pembentukan awan hujan (konvektif) tumbuh secara masif dan cepat di atas langit Kuningan. Beberapa fenomena atmosfer utama yang terdeteksi antara lain pergerakan Gelombang Ekuatorial Rossby serta aktifnya fase Madden-Julian Oscillation (MJO).

“Seperti adanya Gelombang Ekuatorial Rossby, kemudian fase MJO aktif, serta didukung dengan suhu muka laut yang hangat dan kelembapan udara yang cukup basah,” paparnya.

Selain faktor dinamika alam murni, potensi curah hujan pada sepekan kemarin juga terakselerasi oleh adanya intervensi teknologi berupa Operasi Modifikasi Cuaca (OMC). Penyemaian garam (garam semai) di awan-awan potensial yang berlangsung sejak akhir Oktober lalu terbukti ampuh mempercepat proses terjadinya hujan di daratan.

“Kondisi cuaca pada minggu kemarin memang potensial untuk turun hujan, ditambah adanya modifikasi cuaca tanggal 24 sampai 28 Oktober,” tegasnya.

Pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca tersebut secara langsung memicu kondensasi awan yang lebih optimal sehingga hujan turun lebih cepat di beberapa titik wilayah rawan.

“Operasi Modifikasi Cuaca semakin mempercepat dan meningkatkan potensi turun hujan pada awan-awan potensial yang dilakukan penyemaian,” pungkasnya. (raqib)