Pengamat Ekologi Sebut Kebakaran Gunung Ciremai Kecil Kemungkinan Terjadi Alami, Faktor Manusia Diduga Jadi Pemantik Utama

KUNINGAN (MASS) – Kebakaran hutan yang melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) terus memicu sorotan dari berbagai pihak. Gunung tertinggi di Jawa Barat yang sejatinya memiliki karakteristik ekosistem hutan hujan tropis basah ini sangat janggal jika terbakar secara murni akibat faktor alam.

Pengamat lingkungan sekaligus ahli ekologi lulusan Universitas Gadjah Mada (UGM), Candrika Adhiyasa membeberkan analisis teknis mengenai tingkat kerentanan kebakaran di kawasan pegunungan tropis seperti Ciremai.

Ia menjelaskan vegetasi dan karakteristik lingkungan Gunung Ciremai pada kondisi normal memiliki kelembapan udara serta tanah yang tergolong sangat tinggi. Kondisi basah dan lembap alami tersebut secara teoritis membuat vegetasi di kawasan lereng maupun puncak gunung sangat sulit untuk tersulut api secara mandiri.

“Secara ekologis, kemungkinan kebakaran hutan di kawasan tropis seperti Ciremai itu cukup kecil. Jadi memang areanya sendiri harusnya memiliki kelembapan tinggi dan sulit terbakar,” ujarnya kepada kuninganmass.com Rabu (28/10/2026).

Kondisi ekosistem alam yang tangguh api itu, Candrika menduga ada campur tangan aktivitas manusia (antropogenik) di balik munculnya titik api. Meski demikian, ia menegaskan dugaan keterlibatan faktor manusia ini masih berupa kajian kemungkinan yang perlu dibuktikan lebih lanjut melalui investigasi lapangan.

“Penyebabnya bisa jadi antropogenik, tapi ini hanya kemungkinan. Ada faktor lainnya yang bisa jadi kemungkinan,” paparnya.

Dugaan kuat mengenai dominasi faktor aktivitas manusia dalam kasus kebakaran hutan di Indonesia disandarkan pada data statistik bencana nasional. Ia membeberkan rujukan data persentase kebakaran hutan yang dipicu oleh fenomena alam di Indonesia ini sangat minim.

“Saya baca data bahwa di Indonesia ini angka kebakaran alami hanya sekitar 1 sampai 10 persen saja,” terangnya.

Dengan persentase kebakaran alami yang amat kecil tersebut, sebagian besar kasus kebakaran hutan di tanah air terbukti dipicu oleh kelalaian maupun kesengajaan oknum manusia. Oleh karena itu, penanganan dan pengawasan ketat terhadap jalur aktivitas manusia di kawasan konservasi Gunung Ciremai menjadi kunci utama guna mencegah berulangnya bencana serupa.

“Angka kebakaran alami itu sangat kecil, sehingga evaluasi terhadap aktivitas di kawasan hutan harus menjadi perhatian serius,” pungkasnya. (raqib)