KUNINGAN (MASS) – Kebakaran yang terjadi di kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai (TNGC) berpotensi mengganggu habitat sejumlah satwa liar, termasuk satwa kunci yang menjadi perhatian dalam upaya konservasi. Namun, hingga saat ini belum ada laporan mengenai satwa yang ditemukan tidak terselamatkan maupun satwa yang terlihat melarikan diri saat kebakaran berlangsung.
Humas Balai Taman Nasional Gunung Ciremai (BTNGC), Eska Nata Suryana, mengatakan pihaknya belum menerima laporan dari petugas maupun pihak terkait mengenai temuan satwa terdampak kebakaran, selain surili yang sebelumnya ditemukan.
“Informasinya dari teman-teman sampai saat ini belum ada yang melaporkan menemukan apa, baik yang sifatnya tidak terselamatkan maupun yang berpapasan di jalan ketika lari,” ujar Eska saat dikonfirmasi Rabu, (28/10/2026).
Eska menjelaskan, terdapat tiga spesies satwa kunci yang menjadi perhatian konservasi di Gunung Ciremai, yakni macan tutul jawa, elang jawa, dan surili. Ketiganya menjadi bagian penting dari ekosistem kawasan taman nasional.
Ia juga meluruskan pemahaman mengenai istilah satwa endemik. Menurutnya, satwa endemik merupakan satwa yang secara alami hanya ditemukan di wilayah tertentu dan tidak ditemukan di wilayah lain. Karena itu, status endemik perlu dibedakan dari kategori satwa kunci yang menjadi prioritas konservasi.
“Definisi endemik itu sebenarnya perlu dipahami ya, kalau endemik itu adalah hewan yang hanya ada di lokasi tersebut dan tidak akan pernah ditemukan di lokasi lain. Jadi di Ciremai itu lebih tepatnya adalah kita memiliki tiga spesies kunci, satu macan tutul jawa, elang jawa dan surili,” tuturnya.
Selain tiga satwa kunci tersebut, Gunung Ciremai juga menjadi habitat katak merah yang memiliki subspesies khas. Meski spesies yang sama dapat ditemukan di gunung lain, seperti Gunung Slamet dan Gunung Pangrango, subspesies yang terdapat di Gunung Ciremai memiliki persebaran tersendiri.
Sementara itu, lutung tidak termasuk satwa endemik Gunung Ciremai karena juga dapat ditemukan di sejumlah kawasan lainnya.
Terkait dampak kebakaran, Eska menegaskan kejadian tersebut jelas berpotensi mengganggu kehidupan satwa liar. Pasalnya, kawasan taman nasional merupakan habitat berbagai jenis flora dan fauna, baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi, serta satwa yang masuk kategori prioritas konservasi maupun bukan.
Menurutnya, satwa liar memiliki wilayah jelajah atau home range untuk mencari makan, berkembang biak, dan menjalankan aktivitas hariannya. Sejumlah lokasi yang terdampak kebakaran diketahui termasuk dalam wilayah jelajah satwa-satwa tersebut.
“Jelas, karena lokasi taman Nasional ini merupakan habitat bagi seluruh penghuni di dalamnya, baik flora, fauna, baik yang dilindungi atau tidak dilindungi, baik satwa yang termasuk prioritas ataupun tidak, karena satwa ini kan sifatnya mobile yang artinya dia memiliki home range, memiliki daya jelajah. Di beberapa lokasi yang kemarin terbakar itu merupakan daya jelajahnya,” tuturnya.
Beberapa kawasan, seperti BSB, Payusupan, dan Bintangor, menjadi lokasi pemantauan macan tutul jawa, elang jawa, serta surili. Di kawasan tersebut, BTNGC juga melakukan kegiatan konservasi dan pemantauan terhadap keberadaan satwa liar. (didin)
