KUNINGAN (MASS) – Hari santri tidak hanya menjadi rangkaian seremonial saja tetapi lebih jauh dari pada itu hari santri membawa pesan untuk siapapun yang pernah mengeyam pendidikan dipondok pesantren baik yang sudah lulus atau yang saat ini masih belajar di pondok pesantren.
Pada hakikatnya tidak akan pernah ada mantan santri. Karena ketika masuk ke pondok pesantren nama santri itu telah disematkan kepada diri kita sepanjang hidup.
Pepatah arab pernah mengatakan :
العلم يؤتى ولا يؤتي
Ilmu didatangi dan tidak datang sendiri.
Menjadi santri adalah bagian dari ikhtiar untuk mendatangi ilmu. Sebagai santri tentu harus memanfaatkan waktu selama di pondok pesantren dengan mendatangi majelis-majelis ilmu yang telah disusun oleh pesantren. Artinya seorang santri tidak meninggalkan kegiatan kepesantrenan yang telah di agendakan dengan alasan yang tidak syar’i.
Menjadi santri adalah sebuah privilege banyak pemahaman keilmuan yang diberikan oleh pesantren. Di pesantren santri dibekali pelajaran mulai dari keagamaan,akademik, kedisiplinan, kemandirian hinggal ilmu kehidupan. Semua itu tidak lain adalah bekal ketika untuk menjadi manusia yang bertaqwa.
Dalam Menuntut Ilmu
Lalu yang tidak kalah penting bahwa di pesantren diajarkan bagaimana adab kepada Allah & rasulnya, kepada kiyai, ustadz, kepada orang tua, kepada sesama santri, adab menuntut ilmu dan masih banyak lagi. Artinya ilmu dan adab senantiasa berdampingan, mengapa demikian karena adab adalah penjaga ilmu untuk menjaga seorang manusia tidak celaka karena ilmunya.
Segala sesuatu memiliki jalan menuju keberkahan yaitu jalan tersebut adalah adab. Ilmu yang berkah bukan semata-mata karena banyaknya hafalan, ilmu pengetahuan melainkan kebermanfaatan dari hafalan, ilmu pengetahuan itu sendiri.
Ilmu walaupun sedikit tetapi bisa bermanfaat bagi sekelilingnya itu adalah berkah, bertambahnya kebaikan-kebaikan atas pengamalan ilmu itu adalah berkah.
Jika ilmu tidak mengalir atau memberikan manfaat itu akan merusak sekelilingnya sama seperti air yang menggenang, tidak mengalir tidak memberikan manfaat bagi sekelilingnya.
Jadi pada dasarnya menjadi seorang santri ketika mondok yang dicari adalah keberkahahan. Keberkahan itu terletak pada keridhoan seorang guru dan jalannya adalah adab.
Dalam kitab ta’lim muta’alim termaktub bahwa “Para santri (pencari ilmu) tidak akan memperoleh ilmu dan tidak adan mengambil manfaatnya tanpa mau menghormati ilmu dan guru”.
Fahmi Alamsyah,
Alumni PP Riyadlu As-Sholihin Tasikmalaya
Wali Asrama PP Husnul Khotimah Kuningan
