KUNINGAN (MASS) – Perkembangan teknologi digital telah membawa perubahan signifikan dalam kehidupan manusia, terutama dalam memenuhi berbagai kebutuhan sehari-hari. Saat ini, banyak aktivitas dapat dilakukan secara cepat dan praktis melalui perangkat digital. Makanan dapat dipesan melalui aplikasi, pesan dapat dikirim dan diterima dalam hitungan detik, serta informasi dari berbagai belahan dunia dapat diakses kapan saja melalui telepon pintar.
Berbagai kemudahan tersebut mendorong terbentuknya pola hidup yang semakin mengutamakan kecepatan dan efisiensi. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul persoalan, yaitu kecenderungan manusia untuk mengharapkan segala sesuatu berlangsung dengan cepat.
Perkembangan teknologi telah mengubah cara manusia menjalani aktivitas sehari-hari. Berbagai layanan dirancang untuk mempermudah pekerjaan dan menghemat waktu. Masyarakat tidak lagi harus mengunjungi toko secara langsung untuk berbelanja, menunggu kendaraan di jalan untuk memperoleh transportasi, atau mengikuti jadwal tertentu untuk menikmati hiburan.
Bahkan, transaksi pembayaran dapat dilakukan dengan mudah melalui pemindaian kode QR. Kemudahan tersebut tentu memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Akan tetapi, kebiasaan memperoleh sesuatu secara cepat juga berpotensi membentuk ekspektasi bahwa berbagai kebutuhan dan keinginan seharusnya dapat dipenuhi tanpa menunggu lama.
Perubahan ekspektasi tersebut dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari. Hal-hal yang sebelumnya dianggap wajar kini terkadang dipersepsikan sebagai sesuatu yang mengganggu. Menunggu beberapa hari untuk menerima barang pesanan, misalnya, dapat menimbulkan ketidaksabaran meskipun waktu tersebut masih tergolong wajar.
Demikian pula dalam komunikasi digital, keterlambatan membalas pesan selama beberapa menit terkadang menimbulkan rasa gelisah atau keinginan untuk segera memperoleh respons. Fenomena ini menunjukkan bahwa teknologi tidak hanya mengubah cara manusia beraktivitas, tetapi juga memengaruhi cara manusia memaknai waktu dan merespons penantian.
Budaya instan juga terlihat dalam cara masyarakat memandang pencapaian hidup. Media sosial menghadirkan beragam kisah keberhasilan, mulai dari seseorang yang membangun bisnis pada usia muda hingga individu yang berhasil memperoleh pekerjaan impian dalam waktu relatif singkat. Informasi tersebut dapat memberikan inspirasi dan motivasi. Namun, apabila tidak disikapi secara kritis, paparan terhadap pencapaian orang lain dapat menumbuhkan anggapan bahwa keberhasilan harus diraih secepat mungkin.
Akibatnya, sebagian orang, khususnya generasi muda, dapat merasa tertinggal ketika membandingkan pencapaiannya dengan pencapaian teman sebaya. Mereka mungkin menganggap dirinya belum berhasil hanya karena belum memperoleh hasil yang sama dengan orang lain. Padahal, setiap individu memiliki latar belakang, kemampuan, sumber daya, kesempatan, dan tahapan perkembangan yang berbeda. Oleh karena itu, membandingkan pencapaian tanpa mempertimbangkan perbedaan kondisi tersebut dapat menghasilkan penilaian yang kurang tepat terhadap diri sendiri.
Hal lain yang kerap luput dari perhatian adalah bahwa keberhasilan umumnya melibatkan proses yang tidak singkat. Di balik pencapaian yang terlihat di ruang publik, terdapat usaha yang berkelanjutan, proses belajar, kegagalan, dan berbagai tantangan yang tidak selalu ditampilkan.
Media sosial cenderung memperlihatkan hasil yang menarik perhatian, sedangkan proses panjang yang melatarbelakanginya seringkali tidak memperoleh ruang yang sama. Ketika kebiasaan mengonsumsi konten semacam ini disertai kecenderungan membandingkan diri, tekanan untuk segera berhasil dapat semakin meningkat.
Dalam kehidupan sehari-hari, keinginan agar segala sesuatu berlangsung dengan cepat dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang mungkin ingin segera memahami suatu materi, mencapai tujuan tertentu, memperoleh barang yang diinginkan, atau melihat hasil dari usaha yang baru saja dilakukan. Ketika hasil tersebut belum terlihat, muncul pertanyaan mengenai efektivitas usaha yang telah dilakukan. Bahkan, seseorang dapat merasa bosan, kecewa, atau kehilangan motivasi karena menganggap dirinya belum mengalami kemajuan yang berarti.
Sebagai contoh, seseorang yang ingin menguasai Bahasa Inggris mungkin mulai belajar melalui video pembelajaran, menghafalkan kosakata, dan berlatih selama beberapa hari. Namun, ia berharap kemampuan berbahasanya meningkat secara signifikan dalam waktu singkat. Ketika harapan tersebut tidak terpenuhi, ia dapat menganggap metode belajarnya tidak efektif atau merasa dirinya tidak memiliki kemampuan yang memadai. Padahal penguasaan bahasa membutuhkan latihan yang berulang, pemahaman terhadap struktur bahasa, pengembangan kosakata, serta kesempatan untuk mempraktikkannya secara konsisten.
Menurut saya, salah satu faktor yang mendorong kecenderungan ingin memperoleh segala sesuatu secara cepat adalah kebiasaan hidup di tengah lingkungan yang serba digital. Berbagai kebutuhan dapat dipenuhi melalui beberapa sentuhan pada layar perangkat. Makanan dapat dipesan secara daring, barang dapat dibeli melalui lokapasar, dan hiburan dapat diakses melalui media sosial. Bahkan ketika menginginkan hiburan singkat, seseorang dapat menggulir layar telepon pintar dan menemukan beragam konten yang menarik dalam waktu singkat.
Kebiasaan tersebut dapat memengaruhi ekspektasi terhadap proses yang berbeda. Ketika seseorang terbiasa memperoleh kepuasan secara cepat dalam aktivitas sehari-hari, ia mungkin berharap pengalaman serupa terjadi dalam bidang yang membutuhkan waktu, ketekunan, dan latihan. Padahal tidak semua tujuan dapat dicapai dengan mekanisme yang sama. Memesan makanan dan mengembangkan keterampilan, misalnya, merupakan dua aktivitas dengan karakteristik yang berbeda. Aktivitas pertama dapat diselesaikan melalui layanan yang efisien, sedangkan aktivitas kedua memerlukan pembelajaran bertahap dan evaluasi yang berkelanjutan.
Saya sendiri pernah mengalami kecenderungan tersebut, khususnya dalam berolahraga. Ketika mulai berlatih untuk memperoleh kondisi tubuh yang lebih baik, saya berharap dapat melihat perubahan fisik yang signifikan setelah menjalani latihan selama kurang lebih satu bulan. Namun, perubahan yang diharapkan belum terlihat sebagaimana yang saya bayangkan. Pengalaman tersebut membuat saya menyadari bahwa perubahan kondisi tubuh tidak dapat dicapai hanya dalam waktu satu atau dua minggu. Proses tersebut membutuhkan latihan yang konsisten, pola hidup yang terjaga, istirahat yang memadai, serta waktu untuk beradaptasi.
Dari pengalaman itu, saya belajar bahwa tidak semua hal dapat diperlakukan seperti memesan makanan atau membeli barang secara daring. Ada tujuan yang dapat dicapai dengan cepat karena didukung oleh teknologi, tetapi ada pula tujuan yang menuntut keterlibatan aktif, kedisiplinan, dan kesabaran. Perbedaan tersebut perlu dipahami agar kita tidak menetapkan ekspektasi yang tidak realistis terhadap proses yang sedang dijalani.
Oleh karena itu, membangun kebiasaan untuk menghargai proses menjadi hal yang penting. Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah mengelola penggunaan teknologi secara lebih bijaksana, misalnya dengan membatasi waktu mengakses media sosial dan mengalokasikan waktu untuk kegiatan yang mendukung tujuan jangka panjang. Selain itu, kita perlu menetapkan target yang realistis, mengevaluasi perkembangan secara berkala, dan memahami bahwa kemajuan tidak selalu dapat diamati dalam waktu singkat.***
Penulis : Zakariyya Abdan Mardhiyyan
Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Syari’ah Husnul Khotimah Kuningan Jawa Barat
