KUNINGAN (MASS) — Rencana pembangunan pabrik sepatu baru di kawasan ruas Jalan Lingkar Timur Kabupaten Kuningan mulai membawa angin segar bagi warga pemilik lahan setempat. Proyek investasi skala besar ini akan menggerakkan roda perekonomian sekaligus membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat sekitar.
Proses transaksi pembebasan lahan warga pun disebut-sebut mulai berjalan lancar berkat dukungan dan fasilitasi dari perangkat pemerintahan desa setempat.
Salah satu pemilik tanah yang lahannya dibeli Sumawi (76) membagikan kisah dan perasaan bahagianya saat merelakan sebagian lahan miliknya untuk mendukung proyek pembangunan yang dinilai membawa kemajuan bagi daerah.
“Tanah yang dijual sedikit, sekitar 83 bata, perasaan saya senang dengan menjual tanah tersebut demi kemajuan,” ujarnya saat diwawancara kuninganmass.com dirumahnya, pemilik tanah saat memberikan keterangan.
Ia menegaskan bahwa lahan miliknya dihargai sebesar tiga juta rupiah per bata dalam transaksi pembebasan tanah tersebut. “Harga perbatanya 3 juta rupiah,” ujarnya.
Meski mengantongi uang hasil penjualan tanah dalam jumlah yang tidak sedikit, pemilik lahan mengaku tidak ingin menghabiskannya untuk hal-hal konsumtif.
Dana segar tersebut langsung dialihfungsikan untuk investasi jangka panjang demi kelangsungan masa depan anak dan cucunya kelak.
“Uang tersebut tidak saya diamkan saja karena bisa habis, dan juga tidak untuk membeli aset yang tidak penting, tapi saya belikan tanah lagi dekat sini untuk anak cucu saya kedepannya,” ungkapnya.
Di balik transaksi penjualan aset tersebut, tersimpan harapan besar agar keberadaan pabrik sepatu baru ini benar-benar memprioritaskan warga lokal sebagai tenaga kerja.
Pemilik tanah sangat berharap pihak perusahaan nantinya tidak mempersulit proses rekrutmen tenaga kerja bagi warga di desa sekitar lokasi pabrik.
“Senang saya mah, demi kemajuan desa, dan ya itu semoga dengan adanya perusahaan putra-putri daerah mendapatkan pekerjaan. Harapannya mendapat pekerjaannya tidak dipersulit apalagi untuk daerah desa sini,” tegasnya.
Sementara itu, terkait mekanisme administrasi dan pembayaran, pemilik lahan menyebutkan bahwa prosesnya berjalan transparan dan dibantu penuh oleh perangkat desa.
Sebagian dana transaksi telah diterima sebagai uang muka (Down Payment), sementara pelunasan sisanya dijadwalkan akan segera tuntas pada bulan Oktober ini.
“Pembayaran sudah di-DP 22 juta, dan katanya sisanya akan dilunasi secepatnya di Oktober ini. Dan prosesnya dibantu oleh pihak desa,” pukasnya. (eki)
