Kuningan Perlu Belajar dari Gagasan Kota Berbasis Data dan Partisipasi Warga

KUNINGAN (MASS) — Kolaborasi Karsa City Lab dengan Google Singapura dalam pengembangan sembilan kota dan wilayah di Indonesia yang turut dibawa Anies Baswedan menyodorkan satu gagasan penting: pembangunan kota seharusnya tidak hanya berdasarkan apa yang ingin dibangun pemerintah, tetapi juga berdasarkan data, kajian dan kebutuhan nyata masyarakat.Gagasan tersebut relevan dengan sejumlah dinamika pembangunan di Kabupaten Kuningan.

Ikhsan Marzuki, aktivis sosial dan Inisiator Gerakan KITA, menilai berbagai polemik pembangunan di Kuningan menunjukkan pentingnya pemerintah memperkuat proses konsultasi publik, kajian dampak dan evaluasi kebijakan sebelum maupun sesudah sebuah proyek dijalankan.

Salah satunya adalah polemik pembongkaran Tugu Bola Dunia yang kemudian digantikan dengan patung kuda. Perdebatan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan ruang publik bukan hanya soal bentuk fisik, tetapi juga menyangkut identitas, sejarah, estetika dan rasa memiliki masyarakat terhadap kotanya.

Hal serupa terlihat dalam penataan Jalan Siliwangi. Penataan kawasan dapat memiliki tujuan memperbaiki wajah kota dan lalu lintas, tetapi sebagian pemilik usaha merasakan dampaknya terhadap aktivitas dan penurunan usaha.

Menurut Ikhsan, kondisi semacam itu tidak semestinya hanya diperdebatkan sebagai persoalan pro dan kontra pembangunan. Harus ada data yang mengukur dampaknya.

Berapa perubahan jumlah pengunjung? Bagaimana omzet pelaku usaha sebelum dan sesudah penataan? Bagaimana perubahan arus kendaraan dan pejalan kaki? Apakah ada jenis usaha yang paling terdampak? Dan solusi apa yang bisa diberikan?

“Kalau kebijakan memiliki dampak terhadap masyarakat, maka dampak itu harus diukur. Jangan hanya mengandalkan asumsi,” menjadi prinsip yang ditekankan Ikhsan.

Persoalan yang lebih strategis adalah arah pembangunan kawasan lereng Gunung Ciremai. Pengembangan permukiman, pariwisata maupun aktivitas ekonomi di kawasan tersebut perlu memperhitungkan daya dukung lingkungan, daerah resapan, ketersediaan air serta risiko banjir dan longsor.

Jangan sampai pembangunan baru menghitung biaya lingkungannya setelah persoalan muncul.

Dari gagasan kolaborasi Karsa City Lab dengan Google Singapura terkait pentingnya penataan kota berbasis data dan partisipasi warga tersebut, Ikhsan mendorong sejumlah langkah konkret yang dapat dilakukan pemerintah daerah.

Pertama, membangun Kuningan Urban Data Center.

Pemerintah perlu memiliki basis data yang mengintegrasikan informasi lalu lintas, banjir, longsor, penggunaan lahan, air, kependudukan, ekonomi lokal dan pelayanan publik. Dengan begitu, keputusan pembangunan tidak dibuat berdasarkan perkiraan semata.

Kedua, melakukan audit dampak penataan kawasan.

Penataan Jalan Siliwangi dan kawasan publik lainnya perlu dievaluasi dengan indikator yang jelas. Dampak terhadap lalu lintas, pejalan kaki, UMKM, toko dan aktivitas warga harus diukur sebelum pemerintah menentukan apakah desain yang ada perlu dipertahankan, diperbaiki atau diubah.

Ketiga, menerapkan prinsip citizen co-design.

Masyarakat perlu dilibatkan sejak tahap perencanaan, bukan hanya ketika proyek akan dilaksanakan. Untuk ruang publik, misalnya, pemerintah dapat mengadakan forum warga, survei digital, pemetaan masalah dan uji desain sebelum keputusan final dibuat.

Keempat, membuat peta daya dukung lereng Ciremai secara terbuka.

Setiap rencana pembangunan di kawasan sensitif perlu mengacu pada data mengenai kemiringan lahan, daerah resapan, aliran air, potensi longsor dan kebutuhan air. Informasi tersebut juga perlu dapat diakses masyarakat sehingga publik dapat ikut mengawasi.

Kelima, setiap proyek harus memiliki indikator hasil dan evaluasi berkala.

Bukan hanya mencatat bahwa proyek selesai, tetapi mengukur apakah proyek tersebut benar-benar menghasilkan perubahan. Jika sebuah kebijakan tidak memberikan hasil sebagaimana yang diharapkan, pemerintah harus terbuka untuk memperbaikinya.

Langkah-langkah tersebut pada dasarnya merupakan penerapan sederhana dari gagasan Participatory City Governance: pemerintah tetap menjadi pengambil keputusan, tetapi keputusan dibangun melalui data, pengetahuan, pengalaman warga dan kolaborasi berbagai pihak.

Bagi Kuningan, pendekatan ini penting karena pembangunan tidak bisa dilepaskan dari karakter wilayahnya sebagai daerah yang memiliki kawasan perkotaan, pertanian, pariwisata sekaligus ekosistem Gunung Ciremai.

Kuningan tidak kekurangan pembangunan. Yang dibutuhkan adalah pembangunan yang semakin tepat menjawab kebutuhan warganya.

Penataan kota harus membuat ekonomi warga tetap hidup. Pembangunan kawasan harus menjaga air dan lingkungan. Ruang publik harus memiliki makna bagi masyarakat. Dan setiap kebijakan harus dapat diuji dengan data.

Pada akhirnya, gagasan besar dari kolaborasi Karsa dan Google Singapura dapat diterjemahkan secara sederhana untuk Kuningan: sebelum membangun lebih banyak, dengarkan lebih banyak; sebelum memutuskan, ukur lebih dulu; dan setelah membangun, pastikan manfaatnya benar-benar dirasakan warga.

Karena kota yang maju bukan hanya kota yang tampak semakin modern, melainkan kota yang mampu menyelesaikan persoalan warganya tanpa menciptakan persoalan baru. (deden)