KUNINGAN (MASS) – Dua pabrik sepatu berskala multinasional direncanakan bakal berdiri di Kabupaten Kuningan. Hal itu diamini Kepala DPUTR Kuningan I Putu Bagiasna MT. Ia mengamini, ada setidaknya 3 perusahaan besar yang melirik Kuningan sebagai pabrik, dimana dua diantaranya adalah pabrik sepatu, sementara satu adalah pabrik garmen.
Putu Bagiasna, mulanya menjelaskan progress Perda Rencana Tata Ruang dan Wilayah (RTRW) yang saat ini tinggal menunggu Persub. Dalam draft Revisi RTRW itu, dimuat beberapa wilayah yang dicanangkan Pemkab Kuningan sebagai KPI (Kawasan Peruntukkan Industri). Putu menjamin, KPI itu berada di lahan tidak produkti seperti Cidahu, Cimahi, serta sebagian Japara.
“RTRW kami belum direvisi sejak 15 tahun lalu. Terakhir Perda 26 tahun 2011. Kami berharap, tahun ini kita akan merevisi pekerjaan besar, RTRW 2026-2046,” kata Putu, dalam wawancara YouTube Kuningan Mass, Kamis (25/9/2026).
Di dalam revisi RTRW tersebut, sesuai perkembangan zaman dan kebutuhan masyarakat serta tingkat kebutuhan ekonomi dipandang perlu mengakomodir sisi kawasan-kawasn untuk industry yang sebelumnya di RTRW lama, tidak diakomodir.
“Kami berharap RTRW yang adaptif ini akan memberikan arah yang lebih teratur terhadap rencana pengembangan industry yang notabene bermanfaat untuk masyarakat Kuningan,” jelasnya.
Saat menjelaskan soal kawasan industry itulah, Putu bilang beberapa perusahaan padat karya melirik Kuningan sebagai pabrik. Ia optimis, dengan adanya pabrik bisa menekan angka pengangguran, dan sangat bermanfaat bagi kita Kabupaten Kuningan yang kini secara angka penganggurannya lebih tinggi dari rata-rata Jawa Barat.
Bukan main-main, perusahaan yang melirik Kuningan merupakan PMA (Penanaman Modal Asing), perusahaan asal Korea dan Singapura. Salah satunya adalah rencana pabrik sepatu yang rencananya akan memakan lahan hingga 22 hektare meliputi Desa Sindangbarang dan Ciniru Kecamatan Jalaksana hingga Dukuhdalem Kecamatan Japara.
Dikatakan Putu, sebenarnya di kawasan itu yang masuk kawasan Industri adalah 75 hektare. Dan karena rencana pabrik sepatu hanya 22 hektare, masih ada kans untuk perusahaan lain yang bisa membuat pabrik disana. Saat ini, kata Putu, yang sudah menunjukkan ketertarikan adalah PT Hansol pabrik garmen dan PT Sanduk Ciremai Indonesia pabrik sepatu, dua-duanya asal Korea.
Bahkan, lanjut Putu, khusus untuk PT Sanduk, saat ini tengah melakukan pembebasan lahan dan baru selesai 50%. Tinggal melakukan tahapan perijinan selanjutnya seperti forum penataan daerah, AMDAL dan PBG. PT Sanduk ini nantinya akan memproduksi sepatu safety berkeamanan tinggi seperti untuk pabrik, tentara dan sepatu olahraga (tapi terbatas).
Informasinya, PT Sanduk ini akan kerjasama dengan Pemkab Kuningan melalui Disnakertrans untuk merekrut tenaga kerja dengan kebutuhan hampir 11 ribu orang. Pihak perusahaan, kata Putu, memohon pada Bupati agar dapat mengakomodir kebutuhan pekerja tersebut. Nantinya, akan ditetapkan kualifikasi pekerja termasuk mengaktifkan LPK swasta untuk melatih calon pegawai perusahaan.
Selain progress yang ada di Kecamatan Japara, kata Putu, waktu bersama ada juga perusahaan multinasional yang sudah berproses di wilayah Kuningan Timur. Perusahaan tersebut adalah PT City Nine Internasional Singapura yang berbasis Korea. Lebih jauh, perusahaan apparel termasuk sepatu itu bakan sudah selesai AMDAL, dan tinggal membayar PBG saja.
Setelah diselang pabrik di Kuningan timur, Putu kembali disinggung soal nilai investasi dan manfaatnya untuk Kuningan. Dikatakan Putu, untuk pabrik di Kecamatan Japara, nilai investasi pmebebasan tanahnya saja Rp 60 milliar. Selain itu, land clearing dan pemagaran diperkirakan mencapai Rp 28 milliar. Sementara kontruksinya sekitar Rp 1,3 trilliun.
“Selain efek ke masyarakat (beli lahan hinga penyerapan tenaga kerja), efek ke Pemdanya juga berupa PAD, pajak yang lain,” kata Putu, setelah mnghitung nilai investasi, PAD yang akan masuk ke Kuningan bisa mencapai 3-4 milliar untuk BPHTB, serta Rp 1,7 milliar untuk PBG.
“Itu tanah milik masyarakat, jumlah 230 orang. (itu sudah tidak ada masalah?) Gak ada masalah, pembayaran lancar, cuman memang bukan tidak mau melunasi, (perusahaan) Korea menunggu Perda,” ungkapnya. (eki/deden)